
Happy Reading.
Revan telah selesai menandatangani surat perizinan operasi untuk Lisa. Kemudian dia segera keluar dari dari rumah sakit untuk mencari ponselnya di dalam mobil. Sebab dia tidak menemukan ponselnya di dalam saku.
"Ya, Tuhan, ponselku tertinggal di rumah!" seru Revan setelah mengecek dasboard ataupun kursi kemudi tapi dia tidak mendapatkan ponselnya.
Dia pun merasa gelisah dan panik, bagaimana Revan bisa mengabari Bella bahwa dia sedang berada di rumah sakit.
Lisa sedang di operasi, apakah dia harus meninggalkan wanita itu agar bisa pulang dan memberitahu Bella bahwa dia sedang dalam masalah.
"Ya, sebaiknya aku harus memberitahu kepada perawat kalau aku akan pulang dulu, setelah mengabari Bella, aku akan mengajaknya ke sini," gumam Revan.
Akhirnya dia langsung masuk kembali ke dalam dan menemui suster yang sedang berjaga di tempat pendaftaran.
Tapi pada saat yang sama ada seorang dokter memanggil Revan.
"Maaf pak, anda Bapak Revan yang tadi bersama dengan pasien yang bernama Lisa?" tanya dokter tersebut.
Revan mengangguk. "Iya, dok! Saya Revan, yang membawa Lisa kesini, ada apa, ya?" tanya Revan penasaran.
Pasalnya dokter tersebut terlihat sedikit berlari hanya untuk mengejarnya.
"Nona Lisa tidak mau di operasi, Pak! Dia sangat histeris ketika mengetahui bahwa janin di dalam kandungannya tidak selamat, tadi sempat di suntik obat penenang agar dia tidak mengamuk lagi," jawab dokter itu menjelaskan pada Revan sambil berjalan ke arah ruang operasi.
"Tapi kan tetep harus di angkat janinnya, dok?"
"Iya, pak, janinnya harus segera di ambil karena itu akan sangat berbahaya, makanya kami meminta izin anda sekarang untuk langsung membius Nona Lisa, lalu kami akan langsung melakukan operasi untuk pengangkatan janin dan membersihkan rahimnya," jelas dokter tersebut.
Revan menghela nafas panjang.
"Baiklah dokter, silahkan anda operasi sekarang, Lisa pasti mau menerimanya," jawab Revan pasrah.
"Apa pasien tidak punya keluarga lain?" Revan menggeleng.
"Dia sebatang kara, karena orang tuanya sudah meninggal, suaminya juga sedang di luar negeri."
"Baiklah, Pak, kami akan memulai operasinya, kalau begitu anda bisa menunggu pasien di depan ruang operasi," jawab dokter tersebut.
Revan benar-benarĀ bingung harus bagaimana, semua ini karena kesalahannya, dia yang membuat Lisa kehilangan calon bayinya. Kalau saja Revan tidak bersikeras dengan mendorong pintu itu, bisa di pastikan bahwa saat ini Lisa dan bayinya masih baik-baik saja.
Tapi kalau dia mengajak Lisa masuk ke dalam rumahnya, apa yang akan terjadi nantinya, bisa-bisa Bella salah paham dan mengira mereka sedang berduaan di rumah selagi istrinya itu bekerja.
Revan benar-benar tahu sifat Lisa dan segala kelicikannya. Perempuan itu akan menggunakan berbagai cara untuk menggoda nya.
Tentu saja Revan tidak mau hal itu terjadi dan membuat Bella salah paham nantinya.
__ADS_1
Tapi sekarang dirinya benar-benar merasa bersalah dengan kejadian semua ini. Pria yang selalu bersikap sombong dan terkenal playboy itu merasa telah menghilangkan nyawa bayi yang belum sempat lahir ke dunia.
"Sial!! Kenapa semuanya jadi seperti ini!!" Revan menarik rambutnya frustasi.
Dia harus bertemu dengan Bella, istrinya itu pasti bisa membantunya. Revan melihat jam di pergelangan tangannya, sudah jam 4 sore, pasti Bella sudah akan pulang.
"Permisi suster, saya akan pulang sebentar karena harus mengambil dompet dan kartu ATM saya untuk membayar administrasi sepupu saya yang sedang di ruang operasi," kedua suster itu saling berpandangan.
"Baiklah, pak, tolong KTP bapak di tinggal ya, saya akan buat data dulu," jawab salah satu suster.
"Suster, dompet saya ketinggalan dan KTP saya ada di dalam dompet, jadi saya harus pulang dulu untuk mengambil dompet dan KTP," geram Revan karena merasa di persulit.
"Saya tidak akan kabur, suster, apa anda tidak kenal saya?? Saya adalah CEO Alfredo grup!!" bentak Revan karena sudah merasa sangat kesal.
Akhirnya Revan melangkah pergi keluar dan langsung menuju parkiran mobil tanpa persetujuan dari kedua perawat itu.
###
Bella sedang menikmati spaghetti carbonara yang menggugah seleranya. Tadi ada meeting dadakan dengan klien yang akan memakai rancangannya untuk acara pesta. Setelah meeting selesai, Bella dan Irene (kliennya) langsung memesan makanan yang tersedia di restoran Italia tersebut.
"Ternyata spaghetti di sini lumayan enak, ya?" ucap Bella dengan mata terpejam sebentar, menikmati hidangan mie dari Italia di sore hari.
"Makanya, aku mengajakmu ke sini, aku ingat kamu suka spaghetti kan?" tanya Irene.
"He'em!" Bella mengangguk.
"Apa kamu ingat dengan Dewa? Aku yakin kalau kamu tidak percaya dia jadi apa sekarang?
"Memangnya jadi apa?" tanya Bella pura-pura antusias. Padahal dia sama sekali tidak menyukai pria itu.
Yah, Bella ingat, beberapa tahun yang lalu, dia begitu membenci seorang pria yang selalu mengejeknya, entah salah Bella apa, tapi yang jelas pria itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, ya dia adalah Dewa, pria yang sedang di cerita oleh Irene.
Bella tahu kalau Irene dulu menyukai Dewa, tapi gadis cantik yang masih melajang itu tidak berani mengungkapkan perasaannya.
"Dia sekarang menjadi model terkenal, dan sudah shooting beberapa judul film, dia semakin mempesona," jawab Irene antusias.
Membuat Bella benar-benar merasa muak mendengarnya.
"Ehm, apakah kamu berhasil bersamanya?" tanya Bella langsung dan hal membuat Irene tersedak.
"Apa maksudmu, Bell, aku bersamanya? Menjadi kekasih Dewa maksudnya?" Bella mengangguk membuat Irene langsung tertawa.
"Hahaha.. ups sorry, maaf." Bella menaikkan sebelah alisnya. Memangnya apa yang lucu.
"Bukankah dulu kamu menyukainya? Ya, siapa tahu kalian sudah jadian, atau bahkan sudah menikah," tanya Bella acuh.
__ADS_1
Irene mengaduk-aduk minumannya, jus alpukat dengan yogurt di atasnya. "Aku dan Dewa memang sempat berpacaran setelah lulus kuliah, tapi hubungan kami tidak berlangsung lama," jawab Irene membuat Bella membelalakkan matanya.
"Oh, ya? Kenapa kalian putus?" tanya Bella yang kini baru penasaran.
Irene menatap Bella, seakan mengamati wajahnya, dan yang di tatap pun menjadi salah tingkah.
"Dewa memutuskan pergi ke Korea untuk lebih mendalami aktingnya, dan aku tidak mau kalau harus berpacaran jarak jauh," jawab Irene lesu.
"Lah, cuma itu? Kan kalian bisa bersama lagi kalau Dewa sudah kembali," ucap Bella menasehati.
Ya, tentu saja Bella ikut merasa senang jika sahabatnya itu bisa bersama dengan orang yang sudah lama di cintai.
"Dia selalu membicarakan mu saat dulu kita masih bersama," jawab Irene membuat Bella langsung tersedak.
"Uhuuk! Uhuuk!!" Bella meminum jusnya yang ada di samping.
"Kaget, kan? Aku juga kaget, dulu Dewa tuh seperti kucing dan tikus kalau sama kamu, eh tapi ternyata diam-diam selama ini dia tuh nyimpen rasa...!"
"Stop Irene! Gak usah ngaco ah!" sela Bella mengelap bibirnya.
"Aku gak ngaco, Bel! Emang dia gak ngomong langsung sama aku kalau dia tuh suka sama kamu, tapi bisa dilihat dari cara dia menceritakan tentang kamu, matanya selalu terlihat berbinar, ehmm.. dia udah balik ke Indonesia kemarin, tapi belum tahu kalau kamu udah nikah."
"Eh, maksudnya apa sih, Ren! Aku gak paham! Jangan ngandi-ngandi ya??" Irene tergelak mendengar ucapan Bella.
"Selamat sore, girls!" Bella dan Irene terkejut mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Dewa!! Kok kamu ...!" seru Irene terkejut melihat pria yang sejak tadi mereka bicarakan tiba-tiba hadir di tempat itu.
Bella menatap Dewa tidak berkedip, bukan karena terpesona tapi karena terkejut dengan tatapan Dewa yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Hai, Bell! Apa kabar?" Bella langsung memalingkan wajahnya ketika Dewa menyapa.
"Baik," jawab Bella singkat.
Irene memandang Bella kemudian beralih memandang Dewa yang sepertinya tahu dengan tingkah Bella yang seperti itu.
"Bell, sepertinya kamu dan Dewa harus bicara deh, ada sesuatu hal yang belum selesai, kan?" ucap Irene dan Bella langsung berdiri.
"Maaf, aku harus pulang, suamiku pasti menunggu!" Dewa terkejut mendengar pengakuan Bella yang sama sekali tidak ia ketahui.
Ternyata Bella sudah menikah!
"Bell, tunggu sebentar, ini masih sore, aku hanya ingin kita bicara sebentar, please!!" Dewa menahan tangan Bella yang akan pergi keluar.
Namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
__ADS_1
Bersambung.