
Happy Reading.
Bella merasa sangat bahagia karena akhirnya dia bisa maju ke semifinal di Paris, Perancis. Bersama dengan dua juara lainnya yang berasal dari Malaysia dan Singapura.
Bella benar-benar tidak menyangka jika rancangan nya bisa lolos tiga besar, tapi itu semua juga hasil kerja keras dari Bella yang sudah mempersiapkan semua ini dari beberapa bulan yang lalu.
"Selamat atas keberhasilan nya Nona Bella, dari awal kami sudah yakin jika hasil rancangan anda akan masuk tiga besar," ucap salah satu juri yang berwajah oriental dan bermata sipit itu.
"Terima kasih Mr. Kim," jawab Bella tersenyum.
"Senyum anda begitu menawan, Nona, apakah saya boleh meminta nomor telepon anda?"
Modus, Bella tahu kalau pria berkebangsaan Korea ini seperti memiliki ketertarikan dengan nya, karena sejak awal bertemu, Mr. Kim selalu mencari alasan untuk mengajaknya ngobrol.
Bella hanya mengangkat tangan kirinya untuk memperlihatkan cincin berlian yang bersemat di jari manisnya. "Saya sudah menikah Mister, jadi kalau anda meminta nomor telepon hanya agat bisa dekat dengan saya, maaf saya tidak bisa, bamun bila anda ingin membahas masalah pekerjaan, saya baru bisa," jawab Bella berterus terang.
Tentu mister Kim tidak begitu terkejut mendengar ucapan Bella, karena biar bagaimanapun pria itu sudah melihat sejak awal bahwa di jari manis Bella sudah tersemat cincin yang begitu cantik, dan itu menandakan bahwa wanita itu bukanlah single.
"Ya, saya tahu bahwa Anda bukanlah seorang yang single, saya hanya ingin bisa berteman dengan Anda dan mungkin bisa membahas masalah pekerjaan," jawab Kim berusaha tersenyum meskipun sebenarnya dia sedikit kecewa mendengar kenyataan dari Bella sendiri.
"Baiklah Mister, kalau begitu ini kartu nama saya," Bella mengambil sebuah kartu nama di dalam tasnya kemudian menyerahkan kepada Mr. Kim.
"Terima kasih," jawab oppa Korea tersebut.
"Kalau begitu saya permisi ke hotel, karena saya mau beristirahat," ucap Bella yang diangguki oleh pria itu.
Setelah sampai di hotel Bella langsung membersihkan diri, setelah 25 menit Bella langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, wanita itu mengambil ponsel yang sudah mati sejak seminggu yang lalu.
Bella memang sengaja menonaktifkan ponselnya yang dia pakai sehari-hari agar tidak bisa dihubungi oleh Revan ataupun yang lainnya.
Namun dia memakai ponsel satunya yang dia pakai untuk komunikasi di ajang perlombaan fashion show itu.
Hanya Emy dan Jesselyn yang mengetahui nomor tersebut, karena Bella selalu berkomunikasi memakai ponsel itu.
__ADS_1
Bella juga menyuruh kedua sahabatnya untuk merahasiakan keberadaannya kepada Revan.
Sebenarnya Bella tidak bermaksud untuk tidak memberitahukan semua ini kepada suaminya ataupun mertuanya, tapi dia ingin fokus untuk karirnya tanpa ada campur tangan Revan.
Bella juga ingin menenangkan diri, dan berusaha jauh dari suaminya itu. Mungkin dengan begitu dia akan bisa lebih berkonsentrasi dan juga tidak perlu sakit hati lagi dengan semua sikap Revan yang selalu berubah-ubah.
"Halo, Emy, Jessy, aku punya kabar gembira," ucap Bella menatap layar ponselnya dan memperlihatkan dua sahabatnya itu.
"Kabar gembira apa?"
"Pasti kabar gembira kalau kamu sudah menang 'kan?" seru Emy.
Bella mengangguk dan hal itu langsung membuat kedua sahabatnya menjerit histeris.
"Wah, selamat!! Aku yakin kalau kamu pasti bisa menang dan lolos ke semifinal!" seru Emy.
"Iya, aku juga sudah sangat yakin, selamat ya Bella, kalau gitu gimana kalau kita ngerayain keberhasilan kamu ini!!"
"Memangnya mau dirayain gimana?" tanya Bella.
"Ya kita bikin syukuran gitu, atau kita bikin pesta kecil-kecilan, ngundang anak yatim gitu," jawab Jessy.
"Tumben omongan lo bener," cibir Emy.
Dea kali ini hanya mendengarkan perdebatan kedua sahabatnya itu tanpa mau menyela.
*****
Samuel membukakan pintu mobil untuk Revan, atasannya itu keluar dengan wajah yang terlihat cerah.
Hari ini ada meeting bersama dengan CEO JA. Grup di salah satu restoran bintang lima. Setelah mengetahui kabar keberadaan istrinya, hati Revan merasa sedikit lega.
Ternyata istrinya tidak pergi meninggalkan nya, Bella hanya ingin mewujudkan impian nya untuk berkarir di internasional. Sebenarnya Revan ingin sekali menyusul Bella pergi ke Hongkong, tapi dia tahu jika pekerjaan nya sangat banyak dan tidak bisa dia tinggalkan.
__ADS_1
Akhirnya Revan memutuskan untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang dia tunda karena sibuk mencari sang istri. Revan percaya jika Bella pasti akan kembali, bukankah Bella sendiri yang mengatakan jika dia tidak boleh mencarinya, Bella meyakinkan Revan jika dia pasti akan kembali.
Mungkin memang Revan akan mengabulkan keinginan Bella saat ini, tapi itu tidak akan berlangsung lama setelah semua pekerjaannya beres, Revan akan menyusul istrinya.
"Terima kasih, Bapak Adam, saya senang bisa bekerjasama dengan Bapak, dan semoga kedepannya kerja sama yang kita jalin ini bisa membuahkan hasil dan untung yang banyak," ujar Revan menyalami CEO JA grup yang usianya sudah tidak muda lagi itu.
"Saya juga berterima kasih Bapak Revan, melihat semangat Pak Revan yang masih muda tapi sudah sukses seperti ini membuat saya semakin terpacu untuk bisa lebih semangat mengembangkan bisnis ini, wah, sayang sekali Pak Revan sudah memiliki istri, ya?" ucap Pak Adam.
"Iya, saya sudah memiliki istri," jawab revan tersenyum.
"Hahaha, saya sempat berpikir akan menjodohkan Pak Revan dengan putri saya, dia lulusan S2 di Harvard dan sekarang sedang menjadi Direktur utama di perusahaan cabang JA grup di Surabaya, tapi saya baru ingat jika anda sudah menikah," Revan mengerutkan keningnya mendengar ucapan pria paru baya itu.
"Saya sangat mencintai istri saya, Pak, dia wanita yang hebat, dia seorang desainer berbakat bahkan sekarang sedang mengikuti ajang fashion show di Hongkong, saya sangat bangga kepadanya," ucap Revan tersenyum lebar saat menceritakan tentang sosok sang istri.
Hal itu membuat Pak Adam geleng-geleng kepala, ternyata pria muda yang terkenal dengan banyaknya wanita disekelilingnya itu benar-benar insaf setelah menikah.
"Saya salut sama Pak Revan, ternyata bisa begitu cinta sama istrinya, padahal dikabarkan kalian di jodohkan, ya?"
Revan terkekeh, kemudian dia menjawab sambil mengingat bagaimana senyum tulus yang di berikan oleh Bella. "Saya bukan lagi cinta Pak, tapi sudah bucin terhadap istri saya."
Ya, Revan sekarang sudah menyadari jika dia benar-benar menjadi pria yang bucin terhadap istrinya, Revan tidak mengapa jika dia disebut sebagai bucinnya Bella, karena memang kenyataannya seperti itu.
Bersambung.
*
*
*
Hai semuanya aku ada rekomendasi karya keren banget nih
__ADS_1