
Happy Reading.
Bella masuk ke dalam kamar Revan yang lumayan cukup besar, memang ini bukan yang pertama kalinya dia masuk ke dalam kamar suaminya. Bella pernah beberapa kali masuk, tapi hanya sekedar mencari sesuatu yang ia butuhkan, wanita itu tidak pernah melihat-lihat bagaimana interior yang berada di dalam kamar sang suami.
Bella memperhatikan sekeliling, dia bisa melihat beberapa foto Revan yang terpajang di setiap dinding, entah kenapa kesan pertama untuk kamar seorang pria benar-benar tidak masuk, karena kamar itu di dominasi dengan warna putih dan hijau. Biasanya untuk kamar seorang cowok akan lebih berantakan dari ini, tapi Revan memang cukup rapi dan bersih.
Bella sedikit terkejut ketika melihat sebuah foto yang Revan pajang di atas tempat tidurnya. Foto berukuran sangat besar, bahkan lebih besar dari yang lain.
Revan tersenyum melihat sang istri yang diam saja melihat foto itu. Perlahan tangan Revan terulur memeluk Bella dari belakang. Merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri.
Bella sedikit tersentak ketika merasakan hangatnya napas Revan yang menyapu bagian lehernya. Jantungnya bahkan langsung berdetak kencang.
'Jangan sampai Revan mendengar nya, wahai jantung, bisakah kau anteng!'
"Kamu suka gak sama foto yang itu? Kalau gak suka aku bisa menggantinya lagi dengan yang sesuai keinginan mu," bisik Revan menunjuk foto yang sejak tadi di tatap oleh Bella.
"Ehm, suka kok, aku hanya terkejut kenapa ada foto kita di kamar mu," jawab Bella jujur.
Revan mencium tengkuk sang istri membuat Bella mengerang lemah. "Tentu saja karena kita sudah menikah, kita adalah pasangan suami-istri yang sah, jadi sudah sewajarnya aku memajang foto pernikahan kita, maafkan dulu aku yang khilaf, tapi sekarang sudah tidak lagi, kali ini aku benar-benar ingin bisa selalu bersamamu, aku mencintaimu Bella, sangat mencintaimu, aku gak mau kamu pergi, aku ingin mulai sekarang kita bisa tidur bersama, menjalani hubungan ini seperti pasangan lain pada umumnya," lirih Revan.
Bella hanya bisa memejamkan matanya ketika mendengar semua ucapan sang suami, hatinya masih gamang, dia takut kalau Revan akan berulah lagi meskipun pria itu sudah berkali-kali meminta maaf dan berjanji.
'Aku tidak tahu sejauh apa rasa penyesalan mu itu, aku berharap kamu benar-benar ingin berubah, aku akan memberi waktu untuk kita berdua agar bisa memahami perasaan kita yang sesungguhnya, aku akan memberikan hakku sebagai istri jika semuanya telah yakin!'
Revan mengajak Bella naik ke atas ranjang, mendekap istrinya erat dan memberikan kecupan-kecupan mesra di bibir, hidung, pipi dan keningnya.
Sebenarnya Revan sangat ingin meminta haknya pada Bella, tapi dia tidak ingin gegabah, bukankah sudah sangat bagus Bella mau tidur bersamanya.
Dia tidak ingin Bella merasa tidak enak hati hanya karena keegoisan Revan, semuanya masih terlalu awal, hubungan mereka jauh lebih baik dan berkembang sejauh ini itu sudah cukup bagi Revan.
Asalkan istrinya bahagia, dia juga bahagia.
*****
__ADS_1
Bella hampir tidak bisa tidur, dia harus segera bersiap diri karena sudah mendapatkan tiket ke Hongkong.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Bella bisa melihat Revan sudah tidur terlelap. Perlahan Bella menyingkirkan tangan Revan yang berada di perutnya.
Mengambil kertas yang telah dia siapkan, Bella akan mengikuti ajang fashion show di Hongkong untuk sebulan mendatang, karena dia juga terpilih menjadi salah satu designer yang akan memperagakan baju buatannya.
"Maaf Revan,, aku harus pergi, semoga kamu bisa lebih berpikir lagi sebenarnya bagaimana perasaan mu itu padaku, karena aku juga akan melakukan hal yang sama, sebulan lagi kita bertemu dan itu artinya perceraian kita tinggal 1 bulan, aku harap kamu akan banyak mengalami perubahan," bisik Bella.
Bella meletakkan kertas itu diatas nakas dan segera keluar dari dalam kamar Revan. Membuka pintu kamarnya sendiri dan mengambil koper yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu.
Bella memang tidak ingin mengatakan kepergiannya pada sang suami, jujur saja Bella masih meragu, mungkin dengan perpisahan sementara ini, Bella maupun Revan bisa memahami bagaimana sejatinya perasaan mereka.
****
Pagi itu Revan membuka matanya dengan perasaan yang bahagia, entah sudah berapa lama dia tidak tidur senyenyak itu, tapi tadi malam dia benar-benar tidur lelap seakan lepas dari beban pikiran.
Revan tersenyum lebar mengingat bagaimana dia bisa tidur nyenyak dengan memeluk istrinya, sepertinya Revan sudah menemukan obat insomnia nya, yaitu Bella. Hanya dengan tidur memeluknya seakan dia di beri obat tidur dan langsung bisa membuatnya terlelap dengan perasaan yang bahagia.
Mungkin mereka memang pernah tidur seranjang pada waktu dirumah Papa Kenzo, tapi mereka belum pernah seintim ini karena biasanya Bella akan menjaga jarak dengan membangun pertahanan yang kokoh, atau Revan sendiri yang memilih tidur di sofa. Tapi malam tadi untuk pertama kalinya Revan bisa mendekap Bella semalaman sambil menghirup aroma dari tubuh sang iatri yang sekarang menjadi candunya.
Revan meraba sisinya yang terasa kosong, ah, mungkin Bella sedang ke kamar mandi, Revan langsung menyibak selimutnya karena dia juga akan pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan hajat.
Revan melihat jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, lalu dia memutuskan untuk turun dari atas ranjang dan pergi ke kamar Bella untuk menuntaskan hajatnya disana.
Tidak mungkin kan dia menunggu bella yang sedang menggunakan kamar mandinya, istrinya pasti sedang mencuci muka atau mungkin sedang mandi, dia juga tidak tahu.
Akhirnya dia memutuskan keluar dan masuk ke dalam kamar sang istrinya, memakai kamar mandi Bella yang sangat bersih dan harum.
Hari ini rencananya Revan akan menyiapkan kejutan kejutan untuk Bella, mengingat bagaimana dia belum pernah memberikan kejutan romantis untuk sang istri.
Setelah beberapa saat Revan kembali ke dalam kamarnya, dia masih tidak mendapati Bella di kamar.
'Kemana istriku?'
__ADS_1
"Sayang, apa kamu masih mandi?" Revan mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak ada yang menjawab.
Tiba-tiba Revan merasakan perasaan yang tidak enak, pria itu langsung membuka pintu kamar mandi sambil memanggil nama istrinya.
"Bella!! Sayang, kamu dimana?"
Kosong, tidak ada bekas aktivitas apapun di dalam sana, ah mungkin Bella sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Revan bergegas keluar dari kamar dan turun ke lantai satu menuju dapur dengan sedikit tergesa Revan memanggil istrinya, tetapi tetap tidak ada jawaban dari Bella. Revan mencari ke setiap sudut rumah tetapi tetap tidak menemukan keberadaan istrinya
Akhirnya Revan memutuskan kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan menghubungi istrinya mungkin saja Bella pergi ke butik atau ke mana.
Namun pada saat Revan akan mengambil ponselnya di atas dia melihat sebuah kertas dan jantungnya langsung berdetak kencang seketika.
Revan mengambil kertas itu kemudian langsung membaca isinya.
To Revan Alfredo.
Sebelumnya aku minta maaf, aku harus pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri, jadi jangan cari aku, kalau sudah merasa lebih baik, aku pasti akan kembali.
From Bella.
"Tidak, Bella tidak mungkin pergi meninggalkanku!"
Bersambung.
*
*
*
Hai semuanya para reader setiaku, aku ada rekomendasi karya keren nih
__ADS_1