Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Menjemput Mertua


__ADS_3

Happy Reading.


Beberapa hari kemudian.


Bella mengambil sebuah gaun pengantin yang baru saja selesai ia buat, dia memperhatikan setiap detail dari gaun tersebut. Ini adalah desain terbaiknya dan dulu ia pernah menggambar desain ini untuk dijadikan gaun impian yang akan ia pakai untuk resepsi pernikahan impiannya.


Tapi ternyata semua itu hanya angan-angan semu, Bella tidak memakai gaun rancangannya sendiri melainkan pilihan dari keluarga Revan. Mira sangat antusias dengan pernikahan putranya itu, semuanya bahkan langsung di persiapkan oleh Mira dan Kenzo.


Orang tua Bella hanya bisa diam sambil tersenyum bahagia karena Mira tidak ingin pernikahan impiannya untuk Revan dan Bella berantakan.


Ngomong-ngomong soal Mira dan Kenzo, sore ini mereka akan kembali ke Indonesia setelah sebulan pergi ke London, pekerjaan mereka yang mengharuskan pulang pergi antara Indonesia-Inggris dan Indonesia-Amerika karena Kenzo memiliki cabang perusahaan di sana. Pusat Alfredo grup ada di Amerika dan cabang Indonesia Revan-lah yang memimpin.


"Sepertinya aku harus menjemput Mama di bandara," gumam Bella.


Sebuah ketukan di pintu membuat Bella menoleh, Emy masuk sambil membawa sebuah undangan di tangannya. "Ada undangan untukmu, dari Irene," ucap Emy sambil membaca nama yang ada di dalam unangan tersebut.


"Apakah kamu sudah baikan?" tanya Bella


Emy menatap sahabatnya itu sambil mengerutkan kening. "iya aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" tanya Emy.


Bella menggeleng. "Tidak, kata Jessy kemarin kamu sakit, apa sudah baikan?"


"Iya sayang, aku baik-baik saja, ya udah aku keluar dulu," jawab Emy tersenyum.


Gadis cantik berusia dua puluh dua tahun itu harus menjadi tulang punggung keluarga, karena ayahnya telah meninggal dunia Lima tahun yang lalu, bahkan Emy tidak berhasil menyelesaikan skripsinya karena harus bekerja, untung dia bertemu dengan Bella kakak seniornya beda dua tahun yang telah memberinya pekerjaan ini, sudah satu setengah tahun dia ikut Bella dan bisa membantu sedikit keuangan keluarganya karena sang ibu baru mengalami kecelakaan enam bulan yang lalu.


Ibu Emy bekerja sebagai koki restoran yang cukup terkenal, tapi karena kecelakaan dan kakinya tidak bisa berjalan membuat sang ibu harus istirahat total di rumah.


Bella hanya memandang punggung Emy yang baru saja membuka pintu ruangannya, dia tau gadis itu memiliki semangat bekerja yang luar biasa.


Emy melihat Jesselin yang sedang mengemas baju batik pesanan Josh, setelah Josh memesan waktu itu dan ternyata semua keluarganya menyukainya, bahkan baju batik yang seharusnya dia berikan pada karyawannya di kantor, sudah ludes di minta oleh keluarga besarnya dari pihak ibu.


Tentu saja hal itu membuat butik Bella meraih keuntungan yang lumayan besar.

__ADS_1


Bella berencana mampir ke kantor suaminya sore ini, karena Mira dan Kenzo akan mendarat satu setengah jam lagi di bandara.


Bella melihat jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan puku 4 sore yang artinya jam kepulangan kantor memang sudah waktunya. Bella sendiri sudah menghubungi kedua mertuanya itu akan menjempunya di bandara.


Bella tiba di lobi kantor dan banyak para karyawan yang berhamburan keluar karena memang bertepatan jam pulang, sebagian besar divisi pasti sudah kosong, mungkin hanya yang kebagian waktu lembur yang mungkin memang belum pulang.


Revan terlihat keluar bersama Diki asisten pribadinya yang baru, menggantikan asisten lama karena dikabarkan resign dari kantor. Ya, Samuel harus pulang kampung karena dikabarkan istrinya sakit.


Revan tersenyum ketika melihat mobil istrinya yang sudah ada di depan. Dia pun langsung mempercepat langkahnya untuk sampai ke mobil.


"Sudah lama nunggunya? kenapa gak masuk ke dalam aja?" tanya Revan setelah membuka pintu samping kemudi dan duduk di dalam.


"Aku baru saja sampai," jawab Bella mengencangkan sabuk pengamannya.


"Loh, aku aja yang nyetir, yank!"


"Gak usah, biar aku aja, kamu pasti capek kan, jadi istirahat, kita akan ke bandara," Bella menstater mobilnya.


Dia memang tahu kalau sore ini orang tuanya kembali ke Jakarta. Tapi tentang keinginan Bella yang ingin menjemput langsung ke bandara sendiri Revan tidak mengetahuinya. "Gak perlu, aku nanti di taroh mana kalau bawa sopir, kan mobilku cuma ada dua baris kursinya," jawab Bella fokus melihat depan.


"Tapi bandara kan jauh, kalau kamu capek nanti aku gantiin, ya?" Bella hanya mengangguk tanpa menjawab.


Dia membiarkan Revan istirahat karena tahu betapa capeknya suaminya itu. Perjalanan memang memakan waktu satu jam lebih dari kantor Revan menuju bandara, tapi Bella tidak berniat untuk meminta Revan menggantikannya mengemudi.


Keheningan menyelimuti perjalanan mereka, Bella melirik ke arah sang suami yang ternyata sedang memejamkan matanya. Revan memang terlihat begitu kelelahan. Tiga hari ini selalu lembur dan pulang telat, tapi hari ini karena tadi Bella mengatakan akan menjemputnya ke kantor jam 4, maka dari itu Revan memilih meninggalkan pekerjaannya.


"Ternyata kamu memang kecapean, sok-sok mau gantiin nyupir tadi, belum separo perjalanan aja udah tidur," gerutu Bella.


Wanita itu sama sekali tidak marah, dia malah senang kalau Revan bisa tertidur karena nanti pulangnya Bella akan gantian menyuruhnya nyetir.


Akhirnya setelah beberapa lama kemudian mereka sampai di area parkir bandara. Bella membangunkan suaminya yang sudah tertidur pulas.


"Eh, kita sampai mana, yank?" tanya Revan gelagapan. Mungkin dia sedikit terkejut karena dia tidak sengaja tertidur, bahkan sangat pulas sampai mendengkur.

__ADS_1


"Udah nyampe bandara, pasti Mama dan Papa udah mendarat, tapi gak tau juga, ayo cepat keluar, kita cari Papa dan Mama di dalam," Bella membuka pintu dan di ikuti oleh Revan yang nampak masih mengumpulkan kesadaran dirinya.


Setelah berjalan masuk ke lobi bandara, banyak sekali orang yang sedang menunggu atau sekedar menjemput keluarganya. Bella dan Revan mecari kesana kemari, mancari kedua orang tua mereka. "Eh, itu Mama!" seru Bella ketika melihat Mira tengah berjalan bersama Kenzo dan seorang pria muda di sampingnya.


Revan memicingkan matanya, menatap ke arah kedua orang tuanya dan juga pemuda yang berjalan di samping Mira.


"Bella, Revan! kalian udah lama?" tanya Mira yang langsung memeluk keduanya.


"Belum lama kok, Ma. Baru saja," jawab Bella tersenyum.


Revan juga langsung menyalami Papa dan Mamanya dan berhenti ketika melihat seorang pria yang terlihat asing.


"Siapa dia?" tanya Revan menoleh ke arah Mamanya.


Bella juga menatap pria yang sepertinya masih berumur di bawahnya tersebut.


"Dia Jeremy, adiknya Ella yang kuliah di London, apa kamu tidak ingat?" jawab Kenzo.


Revan terlihat berpikir. "Maksudnya, anaknya Onty Ana?" Pemuda itu tersenyum.


Dia pun mengulurkan tangannya ke arah Revan sambil tersenyum. Sangat tampan, bahkan Revan langsung mengenali pria tersebut.


"Aku Jeremy, maaf pasti kak Revan tidak mengenali aku?" Revan memyambut uluran tangan dari pria muda itu. "Aku ingat, tapi dulu kamu masih kecil," jawab Revan.


"Iya, dulu aku masih kelas lima SD, lalu siapa wanita cantik, kak?" tanya Jeremy menatap Bella.


Tatapan pemuda itu beralih ke arah Bella. Revan melihat hal itu tidak terima.


"Dia istriku, sudah ayo kita pulang dulu, ngobrolnya nanti klu nyampe rumah," ucap Revan merangkul bahu Jeremi dan langsung mendorong nya berjalan lebih dahulu.


Sedangkan Bella langsung merangkul tangan Mira dengan erat, dia juga merindukan Mama mertuanya yang begitu sayang padanya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2