
Happy Reading.
Bella menggandeng lengan Mira untuk masuk ke dalam rumah. Yah, mereka telah sampai di rumah sang mertua dan Bella langsung mengajak Mama mertuanya masuk ke dalam menuju ke kamar.
Meninggalkan Revan, Kenzo dan juga Jeremy yang baru saja keluar dari mobil satunya.
Tadinya ia kira Revan yang akan menyetir tapi ternyata Papa Kenzo sudah menyuruh orang-orang nya untuk datang dan membawa satu mobil lagi.
"Bagaimana perjalanan nya, Ma? Musim apa di London sekarang?" tanya Mira membantu Mamanya membuka pintu dan menarik kopernya ke dalam.
"Perjalanan Mama dan Papa cuma untuk bekerja, sayang, dan di sana sekarang memasuki musim dingin, nanti kapan-kapan kamu ikut Mama ke London, ya?" jawab Mira membuat Bella antusias.
"Wah, beneran Mama mau ajakin Bella ke London?" Mira mengangguk sambil tersenyum.
Dia sangat menyayangi Bella seperti putri kandungnya sendiri. Sejak kecil Mira dan Kenzo sudah sering bertemu dengan Bella karena kedua orang tua Bella adalah sahabatnya.
Bella yang sejak kecil memang sudah lincah dan imut, membuat Mira yang sejak dulu ingin memiliki seorang putri langsung menyayanginya.
"Kami tadinya tidak akan pulang bersama Jeremy, tapi karena di London sudah memasuki liburan musim dingin, akhirnya Jeremy memutuskan untuk ikut kami," cerita Mira pada Bella.
"Oh, jadi Jeremy itu...?"
"Putra kakaknya Papa Kenzo, adiknya Ella," jawab Mira.
Bella mengangguk, dia memang tahu dengan Ella, sepupunya Revan yang sudah memiliki suami dan putra kembar.
Papa Kenzo memiliki kakak perempuan yang tinggal di London, namanya Bibi Ana, mereka memiliki tiga anak, jarak antara anak kedua dan ketiga memang agak jauh, karena waktu itu Bibi Ana mengira tidak akan memiliki anak lagi karena usianya yang sudah cukup tua.
"Oh, pantesan belum pernah lihat, soalnya selama nikah sama Revan, aku belum pernah ketemu sama Jeremy," ujar Bella.
"Dia sejak kecil memang tinggal di luar negeri, pada waktu pernikahan kamu dan Revan Jeremy tidak datang karena sedang ujian," jawab Mira.
"Sayang!! Kamu di sini!" Revan berteriak saat masuk ke dalam kamar Mamanya untuk mencari istrinya.
"Revan, kenapa sih teriak-teriak!" seru Mira melihat putranya yang sedang nyengir memperlihatkan deretan giginya.
"Kan aku nyari istriku, Ma! Lagian sejak tadi Bella nempel terus sama Mama," Bella memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang suami.
Tentu saja dia ingin memiliki waktu yang lebih luang untuk bisa bersama Mama Mira karena memang Bella sangat merindukan Ibu mertuanya.
"Ayo sayang," mulai kelihatan mode posesif nya, kalau sudah di hadapan Mamanya seperti ini, Revan benar-benar seperti anak Mama yang manja. Hilang sudah keangkuhan dan sikap dingin sang CEO Alfredo Corp.
"Aku lagi bantuin Mama, Van, bawain tas Mama, kasian kalau Mama bawa sendiri, kan?" jawab Bella.
"Lah kan ada pembantu, emang alasan aja kamu, yank!" Revan mendekati isterinya dan menarik pinggang nya lembut.
Mira hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku putranya itu.
"Apa kamu sekarang udah bucin sama Bella, Van?" tanya Mira langsung.
__ADS_1
"Loh, emang Revan bucin dari dulu, Ma!" jawab Revan mencium pipi istrinya gemas.
Sebenarnya Bella malu dengan sikap Revan yang seperti ini, apalagi didepan Mama mertuanya.
Dasar tuan playboy internasional dan, player. Memang paling bisa membuat hati para cewek meleleh.
"Hah, syukurlah! Mama takut kamu tuh hanya akting, pura-pura mesra, padahal di belakang enggak," jawab Mira membuat Bella dan Revan saling memandang.
'Apa Mama dan Papa tahu kalau dulu kita memang berpura-pura, tapi kan sekarang Revan udah berubah,' batin Bella.
"Ya, enggak donk, Ma. Aku emang sayang dan cinta banget sama Bella, semua ini tulus dari dalam hati," jawab Revan dengan raut wajah seriusnya.
Berusaha meyakinkan Mamanya kalau dia memang benar-benar mencintai istrinya.
Terlihat Papa Kenzo masuk ke dalam kamar dan melihat ketiga orang di dalamnya sedang saling pandang.
"Ternyata pada ngumpul di sini?" Mira langsung mendekati sang suami.
"Biasa, Pa! Mereka kangen Mamanya, terlebih kangen sama omelannya," jawab Mira terkekeh.
"Ehm, kita siapin makan malam dulu ya, Ma. Mama dan Papa mandi-mandi dulu dan istirahat, nanti Bella tunggu di meja makan, ayuk Van!" Revan mengangguk saat istrinya menyeret untuk keluar dari dalam kamar.
Mira hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, tapi masih merasa ada sedikit rasa mengganjal di hatinya.
Sepertinya selalu bepergian keluar Negeri membuatnya dan suami tidak begitu mengetahui keadaan rumah tangga putranya itu.
Mira masih ingat sore itu, suatu hal yang mungkin dapat memecahkan keinginan tahuannya mengenai kenapa sampai sekarang di pernikahan Revan dan Bella hampir setahun mereka masih belum di karuniai anak.
Awalnya Mira mengira kalau mungkin mereka masih dalam proses, karena biasanya juga tidak musti langsung hamil setelah menikah.
Tapi ternyata ada hal lain yang membuat Bella sampai sekarang belum juga hamil.
Masalah kamar mereka yang berbeda, mereka tidak tidur sekamar, bagaimana Bella bisa hamil kalau seperti itu.
Mira pernah ke rumah mereka sebelum kepergian nya ke London. Tapi pada saat itu keduanya sedang tidak ada di rumah. Sebenarnya memang Mira sengaja pergi ke rumah Revan dan Bella karena ingin tahu sendiri bukti bahwa selama ini hubungan mereka baik-baik saja.
Tidak seperti rumor yang beredar di perusahaan, yang mengatakan bahwa Revan masih sering jalan bersama mantan kekasihnya.
Mira ingin meminta Kenzo untuk mencari tahunya, tapi sepertinya suaminya itu sangat sibuk dengan pekerjaannya, tiga cabang perusahaan di luar negeri saja sudah membuat nya benar-benar pusing dan lelah. Mira tidak ingin menambah beban suaminya lagi.
Akhirnya Mira turun tangan sendiri untuk mencari tahu, dan ternyata ada sedikit titik terang tentang kecurigaannya selama ini.
Flashback.
Mira baru saja pulang dari rumah sahabatnya yang tidak jauh dari rumah Revan. Kala itu Mira di antarkan sopir pribadinya dan membawa beberapa kunci cadangan yang sudah ia siapkan.
Mira sudah menghubungi Bella dan Revan, keduanya mengatakan bahwa mereka masih di tempat kerjanya masing-masing.
Dan hal itu langsung di gunakan Mira untuk mendatangi rumah Revan yang memang di belikan oleh sang Papa untuk hadiah ulang tahunnya.
__ADS_1
Mira berhasil membuka pintu depan dan langsung masuk ke dalam rumah. Mira berinisiatif naik ke lantai dua, dia memang sudah menduga dan berfirasat kalau mereka mungkin tidak tidur sekamar. Entah kenapa tiba-tiba memiliki feeling seperti itu, tapi Mira belum tenang kalau belum membuktikannya sendiri.
Mira melihat pintu kamar Revan yang terkunci rapat, ia segera mengambil kunci serep rumah itu yang di gantung menjadi satu. Mira langsung mengenali mana kunci kamar karena memang bentuknya beda dari kunci pintu depan atau pintu bagian belakang.
Cetek!!
Terdengar suara kunci yang sudah terbuka, sebelum memutuskan untuk masuk kedalam, Mira menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
Akhirnya di sore itu Mira tahu semuanya, kalau Revan dan Bella tidak tidur di kamar yang sama.
*****
"Kak, boleh bantu aku gak?" Bella meletakkan gelasnya yang sudah kosong di meja dan melangkah ke arah Jeremy yang sedang sibuk dengan roti yang sudah dia belah dan di isi dengan daging, tomat, timun, dan daun bawang.
"Ada apa Jer, apa yang bisa aku bantu?" tanya Bella setelah berada di samping cowok tinggi itu.
Meskipun usia Jeremy baru 17 tahun, tapi cowok itu memiliki tinggi di atas rata-rata, mungkin karena Ayahnya adalah asli orang Amerika membuat tinggi pria itu seperti pria dewasa.
Jangan lupakan juga dengan ketampanan nya yang indo-Amerika membuat cowok itu benar-benar tampan.
"Tolong ambilkan saos tomat dan Mayones di kulkas, tadi aku lupa nyiapin," jawab Jeremy menatap Bella.
"Oh, oke," Bella berjalan ke arah kulkas dan membukanya. Dia melihat saos tomat dan Mayones yang masih baru di dalam sana.
Kemudian wanita itu mengambil mengambil dan menutup kembali kulkas tersebut.
"Ini saosnya," Jeremy mengambil saos itu sambil tersenyum.
"Makasih," ucap pria berambut cokelat itu.
"Sama-sama, emang mau bikin apa, sih? Kenapa gak minta bantuan mbak Na?"
"Gak perlu kak, aku pengen bikin ini sendiri," jawab Jeremy tersenyum.
'Kenapa suka banget tersenyum, sih! Bisa diabetes aku nanti!' batin Bella menormalkan pikirannya.
"Eh, lagi ngapain kalian?" Bella dan Jeremy reflek menoleh ketika mendengar suara Revan dari arah belakang.
"Lagi bantu ambilin saos di kulkas, kamu udah mandinya?" Bella menghampiri suaminya.
Sedangkan Jeremy meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda karena menatap Bella berlama-lama.
"Aku udah mandi, kamu kenapa kelayapan ke dapur?"
"Aku tadi haus, ambil minum di kulkas," jawab Bella menarik Revan untuk keluar dari dapur karena sudah melihat wajah suaminya itu yang berubah merah.
'Dasar tukang cemburu!' batin Bella.
Bersambung.
__ADS_1