
Cellin memutuskan kembali ke rumah nya setelah Aldo sudah bersama dengan Devan dirumah sakit, gadis itu ingin tahu kenapa Federick begitu marah pada deban, meskipun dia sudah mendapatkan jawab nya langsung dari saudara nya itu.
Kini Cellin sudah berada dirumah nya yang lumayan mewah seperti rumah Devan.
"Celline.. " Panggil Megan menghampiri putri cantik nya itu.
"Maaa, aku pikir mama sudah tidur? " Ucap Celline.
"Belum mama nunggu kamu pulang, sini duduk ada yang mau mama bicarakan. " Ajak Megan menggandeng tangan Celline.
"Bicara apa sih ma? " Ucap Celline duduk dan melepas sepatu hills nya.
"Mama medapatkan kabar dari Andin jika Devan diusir dari rumahnya, kata Andin Devan berusaha memerkosa Kayla dan ketahuan oleh oommu itu. "
"Lalu? "
"Lalu Federick mengusir Devan langsung dan memutuskan untuk memindahkan semua ahli waris nya pada anak yang dikandung oleh Kayla, sedangkan Devan dia tidak akan pernah dapat apa pun. "
"Lalu hubungan nya dengan Celline apa? "
Celline merasa bingung kenapa ibunya itu menceritakan semua hal itu padanya.
"Ih kamu ini, mama hanya bercerita saja kok. Mama kan sedih kalau sampai Devan tidak mendapatkan sepeser pun warisan dari orang tuanya Celline. Bagaimana pun disana ada kekayaan peninggalan tante Darah loh. "
"Iyah sih mama benar, tapi mau bagaimana lagi bukan kah itu sudah menjadi keputusan on Federick dan mama tau jika itu semua tidak mudah untuk dirubah. " Gumam Celline acuh.
"Kamu ini diajak ngomong kok. " Megan merasa sedikit kesal tak kalah Celline lebih memilih sibuk dengan dirinya sendiri tanpa mendegar kan dengan serius ucap ibunya.
__ADS_1
"Dah lah maa, Celline mau istirahat capek. " Celline berdiri dan meninggal kan Megan sendiri menatap nya.
Celline masuk ke dalam kamarnya kemudian merebahkan tubuh lelah nya diatas kasur empuk milik nya, memandang langit langit kamarnya yang berwarna biru cerah.
"Huft mungkin gak yah kalau Devan benar benar melakukan apa yang dia bicara tadi, tapi bagaimana mungkin. Devan begitu mencintai Kayla mana mungkin dia bisa balas dendam dengan nya. " Gumam Celline mengingat ucapan Devan.
"Ah.. pusing kepala gue belum lagi masalah Aldo dan Anggita sekarang ditambah lagi Devan sama Kayla, rumit apaa sih pada punya hidup gak kayak hidup gue ini nyaman tenang dan gak ribet. " Pekik Celline kesal.
Gadis itu kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaian nya dan mengenakan hotpants dan kaos pendek kemudian membuka pintu balkon kamarnya, Celline mengeluarkan sebuah rokok yang dia simpan di dalam tasnya kemudian mematikan korek api.
Celline selalu merokok disaat hati dan pikiran nya sedang tidak baik baik saja sama halnya saat Aldo terus menolaknya karena perasaannya dengan Anggita, Celline menghembus asap rokok itu ke langit mengingat Aldo yang selalu bersikap dingin padanya.
"Kenapa sih dia lo selalu cuek sama gue, apa coba kurang nya gue Al, gue cantik sexy kaya mandiri lagi. " Gumam Celline dengan sedih.
"Selalu Anggita yang menjadi nomor 1 di hidup lo, sampek lo mau Mati pun selalu Anggita di pikiran lo dasar tolol. " Timpal Celline sembari melempar putung rokok nya dengan kesal kebawa.
Celline melongok kebawa lantai 1 di mana ada suara orang yang terpekik tadi, nampak tidak terlihat seorang pun membuat Celline mwrasa takut.
"Wah setan nih kayaknya. " Gumam Celline.
Kemudian seorang pemuda keluar menatap Celline yang merasa tak bersalah itu, pemuda itu anak dari seorang pembantu di rumah Celline.
"Lah Nando? " Ucap Celline.
"Lo ngapain disitu bodoh. " Pekik Celline dengan santainya dengan pemuda yang mungkin lebih tua dari nya itu.
"Lo ngapain lempar puntung rokok ke bawah bengek. " Sunggut Nando kesal.
__ADS_1
"Sorry bro.. " Celline nampak tidak merasa bersalah dengan cengegesan gadis itu menghilang begitu saja.
"Dasar gadis bar bar, gak. pernah berubah. " Ucap Nando kesal.
Nando adalah bodyguard pribadi Megan ibu Celline yang siap membantu nya atau menjadi tangan kanan kepercayaan Megan, Nando berkerja bersama ibunya di sana yang sebagai Pembantu dan juga pengasuh Celline sejak dirinya kecil dulu.
Tubuh Nando benar-benar profesional dan juga kekar wajahnya juga begitu tampan dengan kulit kecoklatan yang akan membuat setiap gadis menjerit melihat nya,namun sejak dulu Nando tidak menyukai Celline karena sikap bar bar dan manja gadis itu yang sesuka nya melakukan apa pun.
Nando kemudian pergi meninggalkan tempat itu menuju pos satpam di mana dia biasanya berbicara dan mengobrol asik dengan satpam disana.
"Loh mas Nando kenapa itu keningnya? " Ucap pak satpam.
"Gak papa pak Yono, ini tadi kena putung rokok. " Gumam Nando mengusap kening nya yang memerah.
"Di rumah bu Megan siapa yang ngerokok mas, orang pak Aryo saja sedang tidak di rumah dan setahu saya pak Aryo gak ngerokok tuh mas? " Ucap pak Yono merasa heran.
"Ah itu.. sudah lah pak Yono gak penting, kopi mana nih kok sepi banget nih pos? " Ucpa Nando mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya lupa mas, nanti saya bikinkan dulu. Tunggu ya mas Nando! ".Pak Yono meninggalkan Nando untuk membuat kopi untuk pemuda itu.
Sedangkan Nando nampak asik dengan ponsel nya sembari menatap foto seorang gadis yang begitu dia rindukan, gadis itu adalah kekasih nya yang terpisah oleh jarak dan kota.
" Dinda.. tunggu nanti jika aku kembali, aku akan melamar mu saat itu juga. "Gumam Nando menatap wajah ayahnya.
" Ini mas kopinya sialakan diminum. "Pak Yono menyodorkan minuman pada Nando.
" Wah makasih pak Yono. "Gunam Nando tersenyum.
__ADS_1
Mereka nampak mengontrol bersama sembari menikmati malam yang semakin larut.