
Kayla terbangun karena dering ponsel Devan mengganggu tidur nya, Kayla merasakan tubuh nya terasa begitu letuh dan sakit.
"Aw... " Gumam Kayla pelan tak kalah merasakan nyeri pada tubuh bagian bawah nya.
Tangan Devan berada di atas pinggang Kayla memeluk nya dengan begitu erat, Kayla menatap wajah tampan Devan dengan sedih kenapa perubahan Devan sebegitu menyakitkan baginya.
"Mata ini yang dulu pernah menatap ku dengan lembut, bibir ini juga yang mencium ku dengan penuh dambaan.. " Ucap Kayla pelan agar Devan tidak mendegar nya.
"Aku mendengar ucapan mu. " Ucap Devan membuka mata.
Mata mereka bertemu dan saling menatap.
CRING CRING CRING CRING
Bunyi ponsel Devan membuyarkan tatapan mereka, Devan segera mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidur Kayla.
Kayla merasa tubuh nya benar benar membutuhkan air hangat saat itu juga, jam sudah menujukan pukul 12.00 siang dan dia baru terbangun.
Kayla hendak berdiri namun Devan menarik tangan nya dan membawa nya jatuh di atas tubuh polos Devan, jantung Kayla berdetak begitu kencang saat matanya kembali bertemu dengan mata tajam Devan.
"Jangan pernah berharap jika aku akan kembali jatuh ke dalam jeratan mu, ingat baik baik setiap aku tidak suka jika kamu berani bertemu pria lain atau deket dengan nya. Termasuk dengan Aldo, apa kau mengerti? " Ucap Devan penuh penekanan.
Kayla hanya menggangguk kemudian Devan melepaskan tubuh nya untuk menyingkirkan dari tubuh Devan, saat itu air mata Kayla benar-benar ingin menetes.
"Cepat bersihkan dirimu, setelah ini ikut aku ke Surabaya. Celline masuk rumah sakit. " Ucap Devan memakai pakaian nya kembali.
"Celline sakit? " Gumam Kayla.
"Aku menyuruh mu membersihkan diri segera, apa kau tuli? " Bentak Devan.
Kayla terlontat dan segera berlari ke kamar mandi sedang kan Devan meninggalkan kamar Kayla hanya dengan celana panjang yang dia pakai.
"Apa yang terjadi dengan Celline, bukan kah dia selalu bersama dengan bodyguard tante Megan? " Ucap Devan masuk kedalam kamarnya.
Setelah mandi Kayla segera berpakaian dengan cepat perasaan nya begitu gelisah saat tau Celline masuk rumah sakit, Kayla mengenakan celana levis putih berpadu dengan kemeja panjang.
Sebelum meninggalkan kamar Kayla memungut semua pakaiannya dan juga pakaian Devan yang masih berserakan di lantai, Kayla mengambil tas slempang nya dan memasukkan ponselnya.
Rasa lesu dan nyeri tidak membuat Kayla mengurung kan niatnya karena baginya Celline adalah temannya sekarang, dia begitu khawatir jika Celline terluka atau sakit.
Devan terlihat menuruni tangga dengan pakaian santai celana jeans hitam dan kaos putih yang membuat nya terlihat begitu menawan, Kayla membuang muka nya saat Devan berbalik dan menatapnya.
Rasa nya benar benar menyebalkan karena Devan melakukan hal yang buruk padanya beberapa jam lalu, Kayla berjalan di belakang Devan yang diam menatapnya.
"Aldo sudah berangkat, jadi kita berangkat sendiri. " Ucap Devan dingin.
__ADS_1
Kayla hanya diam tanpa berniat untuk menjawab ucapan Devan, akhirnya mereka berangkat ke Surabaya dengan mobil Devan.
Kayla hanya diam memandang jalanan yang ramai di jam makan siang itu, Devan menatap Kayla yang diam kemudian merasa acuh dengan apa yang dilakukan nya.
***
Nando membaca berkas yang dibawakan oleh para bawahan nya tentang keluarga Marcuse Antonius.
"Jadi dia memiliki dua orang anak perempuan yang bersekolah di Jerman dan satu lagi berada Surabaya? " Gumam Nando membaca dengan serius.
"Benar pak, anak gadis nya berada di Villa Magenta. " Ucap seorang bodyguard pada Nando.
Nando melihat poto keluarga yang begitu bahagia itu dengan senyuman sinis.
"bagaimana bisa dia ingin merusak anak gadis orang lain sedang kan dirinya memiliki dua orang anak gadis?. "Ucap Nando merasa tak percaya.
Foto dua orang gadis cantik membuat Devan merasa puas setidaknya salah satu diantara mereka akan membalas apa yang sudah ayah nya lakukan.
" Pergi lah, aku akan menghubungi kalian lagi jika aku membutuhkan kalian. "Ucap Nando.
" Baik Pak, kami permisi. "Mereka meninggalkan Nando yang tersenyum puas dengan kerja mereka.
Nando segera memberi kabar itu pada Megan, jam sudah menujukan pukul 19.00 malam, membuat Nando segera meninggalkan cafe itu.
***BUAT DIA MERASA APA YANG SUDAH DIPERBUAT OLEH AYAHNYA NANDO, KAMU HARUS BALAS DENDAM DENGAN APA YANG TERJADI PADA PUTRI KU.
Pesan menohok itu membuat Nando merasa sedih ini kala pertama Megan berkata kasar dan juga menyakitkan, dia tau jika semua ini juga karena kesalahan nya sendiri.
"Seperti nya bu Megan benar-benar kecewa padaku, ahhh.. salah ku lebih memilih wanita murahan itu dari pada menjaga Celline. " Ucap Nando memukul stir mobil nya.
Saya akan membuat gadis itu menerima balas yang setimpal dengan apa yang sudah terjadi pada Nona Celline bu, saya akan buat dia merasakan sakit yang sama.
Nando mengirim pesan pada Megan, dia segera meluncurkan ke villa di mana putri dari Marcuse Antonius berada.
Villa itu tidak jauh dari cafe yang yang di singgahi oleh Nando,mobil Nando berhenti di depan sebuah villa yang nampak sepi. Villa yang lumayan mewah itu terlihat beberapa bodyguard berbadan besar berjaga disana.
"Seperti nya dia tau,jika aku akan menuju ke sini." Ucap Nando tersenyum sinis.
Dari kejauhan keluar seorang gadis cantik dengan rambut berwarna coklat itu tersenyum ramah pada para bodyguard nya, Nando memicing kan matanya.
"Nona hendak pergi ke mana? " Ucap seorang bodyguard.
"Aku hanya ingin pergi ke mini market di depan sana, jangan ikuti aku. " Ucap gadis itu.
"Tidak nona, kami harus mengikuti mu kemana pun Anda pergi. Saat ini keadaan mu mungkin sedang bahaya. " Cegah seorang bodyguard dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah lah, Garry aku menjaga diriku sendiri. Lagi pula kalian emang gak capek apa ngikutin aku terus, aku bosen tau." Ucap gadis itu meninggalkan para bodyguard nya yang nampak diam menunggu aba aba dari pria bernama Gerry itu.
"Bagaimana bos? " Ucap salah satu dari mereka.
"Kalian tunggu di sini, aku akan mengikuti nya. " Ucap Gerry.
"Nona Jelitha.. " Pekik Gerry memanggilnya.
"Ya ampun, udah kayak anak bayi aja deh aku ini. " Ucap Jelitha kesal.
Nando masih memperhatikan mereka berdua dari kejauhan saat sudah tepat nanti dia akan melakukan rencana nya.
"Maaf nona saya harus tetap menjaga anda
" Ucap Gerry menunduk.
"Lebay baget sih. " Pekik Jelitha kesal dan masuk kedalam mini market.
Gerry menunggu di pintu luar sembari menunggu Jelitha yang entah sedang apa yang dia lakukan.
Devan menghubungi seseorang yang sudah dia siapkan untuk mencelakai gadis bernama Jelitha itu, nampak gadis itu keluar dari mini market dengan membawa beberapa plastik.
"Biar saya bawakan nona.. " Ucap Gerry hendak mengambil plastik itu dari tangan Jelitha.
"Tidak perlu. " Sunggut Jelitha sebal.
Jelitha meninggalkan Gerry yang merasa serba salah saat itu kemudian mendekati beberapa anak kecil yang sedang duduk mengemis di pinggir jalan.
"Hallo adik kecil, ini kakak punya jajanan untukmu. Jangan lupa dibagi nya.. " Ucap Jelitha ramah pada anak anak kumal itu.
"Terima kasih kakak. " Mereka berlari setelah mengucapkan Terima kasih pada Jelitha.
"Sama sama. " Ucap Jelitha tersenyum.
Nando tercengang menatap Jelitha yang begitu baik tidak seperti ayahnya, orang suruhan Nando telah datang dan langsung menyeramkan air keras ke wajah cantik nya.
Hal itu membuat Nando mengumpat karena dia terlambat menghentikan orang orang suruhan nya itu.
"****... " Pekik Nando saat menyesal.
"Ahhhhh... " Jelitha berteriak begitu keras membuat Gerry dan beberapa orang langsung berlari kearah nya.
"Nona Jelitha... " Pekik Gerry.
Nando menatap nanar gadis itu dia tidak menyanhka jika gadis itu adalah gadis baik baik, ada rasa menyesal di dalam hati nya melihat Jelitha menjerit-jerit kesakitan.
__ADS_1
"Maaf.. " Ucap Nando sebelum meninggalkan Jelitha dan kerumunan orang yang menolong nya.