
Jam sudah menujukan pukul 00.00 tengah malam Kayla masih terjaga dan membolak-balikan tubuh nya gelisah, setelah makan Kayla tetap terjaga entah kenapa mata nya engan terpejam.
"Huft kenapa aku gak bisa tidur sih? " Gumam Kayla.
"Rasa nya panas sekali padahal AC sudah ku hidup kan semaksimal mungkin, ya ampun.. " Gumam Kayla bangkit dari tidur nya.
Kayla bangkit dari tidur nya keluar dari kamar berjalan menuruni anak tangga untuk pergi ke Kazzebo rumah Devan.
"Emzz di sini lebih adem. " Gumam Kayla menyemburkan kaki nya ke dalam kolam.
Angin malam menerpa wajah dan tubuh Kayla perlahan membuat gadis itu menikmati nya, Kayla menatap langit hitam yang penuh dengan bintang yang bercahaya.
"Huft... " Hela nya dengan kasar.
"Ehem.. " Deheman seseorang membuat Kayla terkejut kemudian berbalik ke asal suara.
"Eh.. maaf apa aku mengganggu tidur mu? " Ucap Kayla sungkan.
"Tidak, sedangkan apa kamu di sini? " Gumam Aldo duduk disamping Kayla.
"Mencari udara segar. " Ucap Kayla.
"Aku Kayla.. " Timpal Kayla menyodorkan tangan nya pada Aldo.
"Aku Aldo, sahabat Devan. "Aldo menyambut tangan Kayla dengan ramah.
Aldo yang selalu bersikap dingin dan datar bisa berubah begitu lembut dan ramah pada Kayla, menurut Aldo Kayla adalah gadis yang berbeda mendengar setiap ucapan Devan membuat Aldo penasaran dengan gadis bernama Kayla itu.
Sekarang mereka bertemu dan baru beberapa menit mengobrol saja bisa membuat Aldo yang dingin bisa mencair dan saling bertukar candaan.
"Kamu tuh lucu loh.." Ucap Kayla.
"Masa sih, aku cuma sama kamu tertawa lepas seperti ini biasanya yaaa kurang lebih sama deh kayak Devan. Jika Celline sampai tahu aku bisa seakrab ini sama kamu mungkin dia akan marah. " Jelas Aldo membuat Kayla bingung.
"Oh ya, memang apa hubungan kalian berdua? "
"Tidak ada, aku tau Celline menyukai ku tapi untuk membuka hati ku padanya bukan lah hal yang mudah Kayla. Mungkin Celline akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. " Gumam Aldo menatap air kolam yang bergerak.
__ADS_1
"Memang kenapa, bukan kah kamu sudah tahu jika Celline menyukai mu tinggal kamu belajar mencintai nya hemz.. " Ucap Kayla menatap Aldo.
"Ada sesuatu yang tidak bisa aku cerita padamu, tidur lah Kayla hari semakin larut. " Ucap Aldo memperingati Kayla.
"Ingat Kayla kau tidak sendiri, ada seseorang yang menanti untuk kamu lahirkan kedunia. Jaga baik baik. " Timpal Aldo membuat Kayla tersenyum.
"Iyaa, Terima kasih sudah mengingat kan ku. Kalau begitu aku masuk dulu. " Ucap Kayla segera berdiri meninggalkan kolam dan Aldo yang tersenyum padanya.
"Devan terlalu munafik untuk tidak mengakui jika dirinya masih begitu mencintai gadis itu. " Seru Aldo tersenyum.
"Seperti nya sudah cukup lama aku tidak tersenyum dan tertawa selepas ini. " Gumam Aldo mengingat bagaimana Kayla bisa membuat nya tersenyum.
Malam berlalu begitu saja, Kayla yang baru saja tidur beberapa jam itu merasa terganggu saat cahaya mentari menyinari wajahnya yang hendak terlelap.
"Bangun.. aku menyuruh mu tinggal disini bukan untuk menjadi nyonya besar. " Suara berat yang begitu dia kenal membuat Kayla segera tersadar.
"Devan.. " Ucap Kayla terduduk.
"Bangun dan siap kan sarapan untuk ku sekarang. " Titah Devan sembari meninggalkan Kayla.
Kayla segera beranjak bangun untuk mencuci n muka kemudian membuat sarapan untuk Devan dan Aldo terlebih dulu setelah itu baru dirinya membersihkan diri.
Kayla turun menuju dapur dan sesekali menatap sekeliling rumah yang nampak begitu sepi, Devan atau Aldo pun tidak dia temukan berada disekitar dapur atau pun ruangan lain.
"Sudah lah, sebaiknya aku membuat sarapan dulu baru setelah itu aku mencari keberadaan mereka. " Gumam Kayla mengikat rambut nya asal.
Kayla segera membuka kulkas dan mengambil ayam untui dia masak dan juga beberapa sayuran, setelah semua sudah dicuci dengan bersih Kayla segera memasaknya agar cepat bisa segera melakukan pekerjaan lain dan juga membersihkan diri.
Setelah 30 menit memasak akhirnya selesai dan segera disajikan diatas meja makan, Kayla tidak mengetahui jika ada sepasang mata yang menatapnya dengan sebuah senyuman simpul.
"Cantik.. " Gumam Aldo menatap Kayla dari balik tempok besar rumah Devan.
"Selesai juga.. " Ucap Kayla dengan senyuman yang mengembang.
Tiba-tiba Devan datang dan melepaskan ikatan pada rambut nya hingga membuat rambut panjang Kayla langsung turun.
"Kenapa, bagaimana jika rambut ku masuk kedalam makanan? " Protes Kayla pada Devan.
__ADS_1
"Jangan pernah mengikat rambut mu lagi seperti itu, aku tidak suka. " Ucap Devan mencengkram kuat lengan Kayla.
"Devan sakit.. " Ucap Kayla berusaha melepaskan cengkraman tangan Devan.
Seketika Aldo datang dan menarik tangan Devan hingga terlepas dari lengan Kayla membuat Devan mendeliki tidak suka dengan apa yang dilakukan Aldo.
"Kau.. " Ucapan Devan menatap Aldo tajam.
"Apa kau mengundang ku untuk tinggal di sini sebagai penonton kekejaman mu, aku lapar Devan jadi diam dan nikmati makanan mu. " Ucap Aldo menghentikan ucapan Devan dan membuat nya merasa kesal.
"Devan duduk lah, apa kau mau jadi patung? " Sungut Aldo menopong dagunya menatap Devan.
Devan lantas langsung duduk di depan Aldo yang tersenyum simpul menatap bagaimana wajah Devan saat itu, sedangkan Kayla hanya diam menatap bagaimana Devan menuruti ucapan Aldo.
"Dan kau Kayla, sebaiknya kau juga duduk dan makan kah bersama kita. " Ajak Aldo yang masih sibuk mengambil lauk ke dalam piring nya.
"Kalian makan lah, aku akan mandi terlebih dulu. " Kayla meninggalkan meja makan itu tanpa menatap mereka.
Devan dan Aldo menikmati sarapan mereka dengan diam.
"Sungguh enak sekali, Kayla memang pandai membuat makan seperti ini. " Batin Aldo.
Sedangkan Devan menikmati makanan itu dengan santai karena dia sudah terbiasa menikmati makanan enak dari tangan Kayla sejak mereka masih oacan dulu, Devan menatap Aldo yang diam menikmati sarapan nya.
"Jangan sampai ada rasa diantara kalian. " Gumam Devan dengan tajam.
"Kenapa, apa lo cemburu? " Aldo menatap Devan sekilas.
"Cemburu untuk apa, aku sudah tidak mencintai nya lagi. "
"Jangan sampai lo menjilat ludah lo sendiri, jika suatu saat Kayla memilih orang lain. "
Ucapan Aldo membuat Devan menghentikan makan nya entah kenapa ucapan Aldo benar benar mengganggu pikiran, Devan menghela nafas dengan kasar.
"Terserah tapi bagi gue Kayla sudah mati, tidak ada lagi ruang untuk nya. " Ucap Devan meninggalkan Aldo yang diam menatap kepergian Devan.
"Tapi gue begitu yakin Devan,kalau rasa cinta lo lebih besar dari pada kebencian lo itu. " Ucap Aldo
__ADS_1