ISTRI AYAHKU MANTANKU

ISTRI AYAHKU MANTANKU
Menyangkal Sebuah Perasaan


__ADS_3

Setelah mandi Celline duduk di depan meja rias nya sembari menyisiri rambutnya yang sebahu gadis itu terdiam menatap bibirnya yang teras aneh setiap mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Celline menyentuh bibirnya dan merasakan ada yang aneh padanya, kejadian itu belum bisa dia lupa meski dia berusaha melupakan nya.


"Ah... gue kenapa sih.. " Pekik Celline.


Celline sudah siap dengan pakaian santai karena dirinya ingin menjenguk Aldo dirumah sakit, dengan celana jeans dan kaos pendek berwarna pink membuat gadia itu terlihat cantik.


"Cukup Celline lo bisa tambah gila sekarang.. " Gumam Celline menghembus nafas dengan pelan.


"Ok saat nya otw ketemu ayang beb dulu. " Dengan senyuman mengembang Celline keluar dari kamarnya sembari bersenandung riang.


"Non... " Panggil bik Ayu membuat Celline menghentikan langkah nya dan berbalik menghadap nya.


"Iya bik kenapa? " Ucap Celline.


"Tadi kata bu Megan jika nona ingin keluar nona tidak boleh pergi sendiri,nona Celline harus pergi dengan Nando. " Gumam bi Ayu.


"Loh kenapa bik, lagi pula aku dah biasa pergi sendiri kok. "


"Maaf nona ini perintah dari mama nya nona. "


"Ihh nyebelin. " Sungut Celline merogoh saku celananya dan mengambil ponsel nya.


TUTTT TUTTT


๐Ÿ“žHallo sayang?


๐Ÿ“žMaaa, aku mau pergi keluar.


๐Ÿ“žYa tinggal pergi Celline, memang mama harus mengantarmu?


๐Ÿ“žMaaaa, Celline kan biasa naik mobil sendiri kenapa sekarang harus dianter Nando sih?


๐Ÿ“žCelline sekarang ini ada masalah diperusahaan mama, ada orang dalam yang ingin membuat kekacauan di perusahaan dan mama tidak mau mereka mencelakai mu.


๐Ÿ“ž Terserah.


Celline mematikan sambungan telepon nya secara sepihak mau tidak mau dia harus mau diantar dan diawasi oleh Nando, keputusan Megan tidak pernah berubah dalam segi apapun.


"Nando sudah ada di luar nona, silakan. " Ucap bik Ayu dengan lembut.


Dengan kesal akhirnya Celline berjalan keluar menghampiri Nando yang sudah siap menunggu nya di depan pintu mobil, sebenrnya Celline masih gugup saat bertemu dengan Nando karena kejadian beberapa jam lalu.


"Anter gue kerumah sakit sekarang. " Ucap Celline dengan dingin.


Nando membuka pintu mobil untuk Celline kemudian masuk dan menjalankan mobil nya menuju tempat yang sudah disebutkan oleh Celline, Nando benar benar merasa canggung sekarang.


Biasanya mereka akan bertengkar atau saling melempar hujatan hujatan yang biasa mereka lakukan saat berada di tempat yang sama, namun kini hanya keheningan yang terasa di dalam mobil itu.


"Gue kok gugup sih? " Batin Nando menatap Celline dari kaca mobil.


Celline hanya menatap lurus ke arah jendela mobil sembari menatap para pengendara yang halu lalang tanpa henti, mereka asik dengan pemikiran nya sendiri sendiri.


Tak lama mobil berhenti di parkiran sebuah rumah sakit besar yang disebutkan oleh Celline.


"Sudah sampai, saya akan menunggu disini. " Gumam Nando membuka pintu mobil untuk Celline.

__ADS_1


"Terserah." Celline langsung pergi meninggalkan Nando yang diam menatap gadis itu.


"Huft lo kenapa sih Nand, jangan gila lo suka sama cewek bar bar dan manja itu inget Dinda yang nunggu lo datang. " Ucap Nando menghembuskan nafas dengan kasar.


Celline berjalan sepanjang koridor dan sesekali tersenyum pada beberapa suster dan dokter yang menyapa nya dengan ramah, Celline masuk ke dalam sebuah lift bersama dengan seorang dokter laki-laki yang begitu tampan.


"Buset dah ganteng amat nih calon laki orang.. " Batin Celline diam diam memerhatikan seorang dokter muda disamping nya.


DRDR DRDR


Getaran ponsel Celline menyadari gadis itu dari kekaguman nya menatap dokter muda itu.


๐Ÿ“ž Hallo ngapain sih ganggu aja idup lo.


Celline nampak kesal saat Devan mengubungi dirinya.


๐Ÿ“ž Lo dimana?


๐Ÿ“žDalam lift, bentar lagi nyampe kenapa sih?


๐Ÿ“ž Oh ok.


"Ck langsung di matiin dasar orang gila. " Gumam Celline kesal.


Ting


Bunyi lift terbuka, dokter muda itu langsung meninggalkan Celline yang masih mengumpat kesal karena ulah Devan, kemudian gadis itu keluar dan menuju ruangan di mana Aldo dirawat.


"Keadaan nya sudah mulai membaik kemungkinan besok pagi sudah bisa kembali, saya permisi. " Ucap dokter muda yang berada di lift bersama Celline tadi.


"Terima kasih. " Balas Devan berjabat tangan dengan nya.


"Ups sorry gue kira gak ada dokter. " Timpal Celline mendekati ketiga laki-laki itu dengan cengegesan.


"Maklum dook Tarzan. " Gunan Devan dengan datar.


"Diem lo tembok Amerika. " Balas Celline kesal.


"Saya permisi. " Dokter itu nampak mengulum senyuman diujung bibirnya melihat tingkah Celline sebelum pergi dari ruangan itu.


"Gimana keadaan nya? " Ucap Celline santai duduk di bangsal Aldo yang memejamkan mata.


"Besok pagi bisa pulang, lo ngapain kesnin bawa bodyguard segala lebat amat idup lo? " Gumam Aldo yang masih memejamkan matanya.


"Kok lo bisa tau kalau gue bawa bodyguard? " Celline nampak heran dengan pertanyaan Aldo.


"Gue nanya bukan nerima pertanyaan. " Ucap Aldo dingin.


"Kenapa cemburu ya? " Goda Celline dengan begitu PD.


"Dah lah kalau kalian mau berduaan gue cabut dulu, ada yang harus gue urus. " Ucap Devan meninggalkan mereka berdua.


Hari ini Devan akan datang ke perusahaan di mana Reyhan Fernandez berada saat ini Devan ingin membuat sebuah perhitungan pada pria yang sudah membuat sahabat nya itu berada di rumah sakit.


Devan memasang kaca mata nya kemudian masuk kedalam mobil meninggalkan rumah sakit, Devan mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju kantor dimana Reyhan berada.


Tak butuh waktu lama Devan kini sudah berada di perusahaan Reyhan, Devan melepaskan kaca mata nya dengan bersandar di pintu mobil nya membuat setiap karyawan wanita berteriak histeris menatap nya.

__ADS_1


Devan berjalan masuk dengan santai tanpa beban atau takut memasuki sarang musuh terbesar nya itu, dengan santai Devan mendekati seorang karyawan dan meminta nya mengantar nya ke Reyhan.


"Permisi nona, bisa Anda antar saya bertemu dengan Reyhan? " Ucap Devan santai.


"Ya ampun ganteng banget? " Gumam gadis itu dengan mata berbinar.


"Nona, anda mendegar ucapan saya? "


"Ah iya Pak maaf, mari saya antar langsung bertemu dengan pak Reyhan diruangan nya. " Ucpa gadis itu berjalan di depan Devan.


Devan mengikuti langkah gadis itu yang nampak dibuat buat agar menarik perhatian Devan, namun bukan nya tertarik Devan malah jengah melihat nya.


"Wanita murahan.. " Gumam Devan lirih.


Mereka masuk kedalam lift menuju lantai 3 dimana Reyhan berada.


Ting


"Mari pak di sana ruangan pak Reyhan, saya permisi. " Ucap nya tersenyum genit.


Devan hanya diam menatap kepergian karyawan itu, lantai 3 ruangan itu hanya ada 1 yaitu ruangan kerja Reyhan yang begitu besar dan juga ruang tamu jika ada Klian datang.


Devan berjalan santai mengedarkan mata menatp setiap sudut ruangan itu yang nampak begitu sepi.


"Ah.. iya sayang begitu.. " Suara ******* mengundang Devan mendekati.


"Iya lebih keras ****** cantik, ah.. nikmati sekali. "


"Pantas saja ruangan ini begitu sepi rupa nya dia sedang bersenang-senang dengan ****** nya. " Gumam Devan.


Seketika Devan menendang pintu ruangan Reyhan dan menampakkan seorang wanita dengan pakaian yang sudah tidak rapi sedang sibuk dengan kejantanannya, Devan bersandar dipintu menatap mereka yang terkejut.


"Devan, apa yang kamu lakukan disini? " Ucap Reyhan mendorong wanita itu dan langsung menyuruh nya pergi.


"Membuat perhitungan dengan mu tentu nya. " Ucap Devan tersenyum sinis.


"Ha ha ha silakan jika kamu bisa membuat perhitungan dengan ku. " Ucap Reyhan dengan begitu angkuh.


Devan seketika memberikan bongem mentah pada wajah tampan Reyhan dan langsung membuat nya tersungkur ke lantai, sedangkan Devan tidak memberikan pria itu waktu untuk melawannya.


Reyhan sudah tidak dapat berbuat apa pun saat dengan brutalnya Devan memukul nya dengan begitu beringas dan penuh dendam.


"Itu untuk Aldo. " Ucap Devan.


Namun saat Devan ingin melayang kan kembali pukulannya tiba-tiba tangannya ditahan begitu kencang membuat Devan seketika berbalik dan menatap seorang gadis cantik.


"Apa dia Anggita, putri tunggal Ben Sandra? " Batin Devan terdiam menatap Anggita.


" Apa yang anda lakukan kepada bos saya? "Ucap gadis itu dengan bengis.


" Bos mu, oh kau Anggita? "Ucap Devan dengan datar.


Anggita melepaskan tangan Devan dengan kasar kemudian pergi membantu Reyhan yang sudah benar-benar parah, Devan diam menatap gadis dengan setelah santai itu dengan penuh tanda tanya.


" Bagaimana bisa dia bertemu dengan Reyhan, bagaimana bisa dia tau tentang kematian Ben Sandra? "Batin Devan.


Devan yang merasa tidak memiliki urusan dengan Anggita langsung pergi meninggalkan gadis itu yang sedang menghubungi seseorang untuk segera membantu Reyhan ke rumah sakit.

__ADS_1


Anggita menatap kepergian Devan dengan tatapan penuh tanda tanya, gadis itu hanya diam tanpa ekpresi. Sedangkan Devan sudah pergi meninggalkan perusahaan Reyhan karena tugas nya sudah usai.


__ADS_2