
Mendengar hal itu, tentu saja membuat para karyawan semakin riuh, sebab tidak biasanya mereka disuruh untuk berkumpul, kecuali dalam keadaan darurat. Bahkan terakhir kalinya mereka kumpul sekitar 2 tahun yang lalu karena harga saham di perusahaan semakin anjlok.
Derap langkah kaki mulai terdengar. Beberapa karyawan sudah ada yang berada di lantai dua, sedangkan yang lainnya tengah bergegas menuju ke lantai dua dengan menggunakan lift atau pun tangga darurat agar sampai tepat waktu. Beberapa dari mereka juga terlihat takut karena sesuatu yang buruk pasti akan menimpa mereka, pikir beberapa karyawan, sedangkan yang lain berpikir kalau mereka akan naik gaji, sebab Perusahaan Mahendra sudah berkembang semakin pesat.
"Apa kalian sudah semua berada di sini, atau masih ada yang sedang berada di ruangan nya" ucap Michella dengan sorot mata tajam dan tegas. Aura wibawa wanita itu terlihat kental di beberapa mata karyawan, padahal yang sekarang dihadapan mereka adalah seorang sekretaris baru atau mungkin mereka memang takut dengan istri bos mereka karena beberapa karyawan sudah melihat langsung bagaimana keganasan wanita yang berada dihadapan mereka saat mengajar Mariska.
"Sudah semua Bu" jawab salah satu karyawan.
"Baik terima kasih semua, saya tidak perlu berlama-lama lagi, langsung ke intinya, apa kah benar Pak Devan kemarin lembur atau tidak"
Mendengar hal itu, para karyawan dibuat kalut, sebab sebagian dari mereka berkompromi dengan Devan untuk berbohong kalau Devan memang sedang lembur kerja dan sekarang yang bisa mereka lakukan hanya diam saja.
"Sekali lagi, apa benar Pak Devan lembur atau tidak, saya ingin mendengar dari mulut kalian secara langsung bukan saya suruh kalian diam saja!"
Semua karyawan masih tutup mulut dan beberapa saat kemudian, seorang wanita langsung membalas perkataan Michella.
"Benar Bu, kemarin Pak Devan sedang lembur, saya melihat langsung bahkan saya berani bersumpah Bu" ucap salah satu karyawan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Widia.
Mendengar jawaban itu, seketika Michella menyeringai dan berjalan mendekati Widia dengan raut muka yang sulit untuk ditebak.
__ADS_1
"Oh, kamu berani bersumpah juga ya, hebat aku akui kebohongan kamu sangat menyakinkan saya dan satu lagi kalau tidak salah, kamu adalah manajer pemasaran yang menggantikan Mariska bukan?"
"Benar Bu, saya yang menggantikan Mariska sebagai manajer pemasaran" jawab Widia dengan nada bergetar karena sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya saat berhadapan langsung dengan Michella. Tentu saja siapa yang tidak merasa gusar jika berhadapan dengan Michella yang sekarang seperti harimau yang melihat mangsanya.
Dengan berjalan mengitari Widia dan sesekali memainkan anak rambutnya, Michella melayangkan beberapa pertanyaan ke Widia yang langsung terdengar oleh seluruh karyawan.
"Oh iya, aku ingin bertanya, kira-kira untuk memasarkan produk, kita harus berkata jujur atau tidak, kalau misalnya jujur berarti sebagai konsumen aku sudah tertipu habis-habisan ya dan juga biasanya kalau tertipu pasti konsumen akan memberontak, bukan?"
"Saya selalu membimbing bawahan saya untuk selalu jujur, Bu" jawab Widia kembali. Sebenarnya perasaan Widia sudah gusar, takut kalau dirinya akan di pecat, membayangkan hal itu tentu Widia pasti akan hancur, apa lagi selama ini dia adalah tulang punggung keluarga, sebab dia yang selalu memenuhi kebutuhan adik-adiknya karena kedua orang tuanya tewas dalam tragedi kecelakaan.
"Iya, aku tahu itu, kamu adalah orang yang pekerja keras bahkan sangat loyal untuk perusahaan ini karena semua demi uang bukan" sanggahan telak oleh Michella. Kemudian menyalakan layar monitor yang memang sudah dipersiapkan. Terlihat kalau dilayar tersebut Devan bergegas pergi, tidak untuk lembur seperti yang dikatakan Widia, bahkan terlihat juga beberapa karyawan termasuk Widia diberikan uang tutup mulut oleh Devan, agar melancarkan aksi Devan untuk berbohong ke Michella.
"Sekarang, bagaimana tanggapan kamu Widia, mengenai hal ini" imbuh Michella dengan nada tegas.
Melihat hal itu, sontak Michella langsung melepaskan kakinya yang dipegang Widia dengan kasar, bahkan Widia sampai terseret jauh.
"Bangun Widia, jangan rendah kan harga diri kamu dihadapan aku dan para karyawan yang lain, seharusnya kamu mengakui kesalahan kamu dari awal, jangan sampai aku sudah memberikan bukti ini baru kamu mengakui kesalahan kamu dan juga jangan kamu rendah kan harga diri kamu demi karyawan yang lain, lihat sekarang mereka saja tidak memedulikan kamu, bahkan mereka sedang memikirkan nasib dirinya sendiri'' ucap Michella menunjuk ke beberapa karyawan.
"Hari ini, aku memaafkan kalian, tapi sebagai balasan, kalian harus pantau Pak Devan, jangan takut kalau kalian akan di pecat, sebab Devan atau pun saya memiliki kekuatan yang sama, jadi kalian semua jangan takut ancaman bos kalian itu, mengerti!"
__ADS_1
"Siap, mengerti Bu Michella''
"Kalau begitu, kalian kembali ke ruangan masing-masing dan jangan lupa hari ini aku akan mentraktir makan siang untuk kalian semua, sebagai ucapan kerja sama kita!"
Mendengar hal itu, membuat para karyawan berteriak senang, sebab mereka pikir Michella hanya akan membuat mereka ketakutan saja, ternyata hadirnya Michella juga memberikan mereka rasa senang seperti gratisan makan siang.
Sekarang, tiba saatnya Devan yang sudah sampai di dalam ruangan miliknya. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Devan melihat beberapa tatapan sinis yang dilayangkan dari para karyawan dan pada saat Devan menegur mereka, beberapa menjawab kalau mereka tidak melihat Devan dengan sinis. Padahal sebenarnya di dalam hati mereka sendiri ingin marah karena alasan Devan pergi, ternyata menemui kekasih gelapnya atau selingkuh, bukan untuk bertemu para klien, seperti yang dibicarakan Devan kemarin ke mereka.
Para Karyawan tahu Devan selingkuh, sebab Michella yang memberitahukan ke mereka. Bukan Michella ingin membongkar aib suaminya, tapi agar mereka tahu kalau pihak yang mereka bela ternyata salah. Mendengar hal itu, beberapa karyawan bersimpati ke Michella, bahkan para pria juga berpikir kalau bos mereka yaitu Devan ternyata adalah orang bodoh. Sebab sudah diberikan istri cantik seperti Michella tapi selingkuh juga, dasar Devan tidak tahu diri. Untung saja Michella sangat sabar menghadapi Devan, pikir mereka.
Sebenarnya kalau banyak yang berpikir Michella sedang sabar, nyatanya memang benar Michella masih sabar. Tapi kita tidak tahu sampai di mana batas kesabaran seseorang.
Devan yang sudah berada di dalam ruangan, langsung memanggil Michella.
"Sayang, aku minta tolong ya buat kan aku kopi hitam satu, pakai gula sedikit saja"
"Iya" ucap Michella, lalu membuat secangkir kopi untuk Devan, setelah itu langsung memberikan ke Devan.
"Ini kopi kamu" ucap Michella.
__ADS_1
"Sayang, kamu tahu tidak, kenapa semua karyawan menatap aku dengan sinis" imbuh Devan.
"Enggak tahu, mungkin kamu ada membuat kecewa mereka" jawab Michella dengan sedikit tidak acuh.