
Michella yang sudah selesai dengan segala urusan rumah, sekarang bergegas pergi menuju kantor dengan menggunakan jasa ojek online.
Sementara Devan, sedari tadi hanya memantau kegiatan Michella secara sembunyi-sembunyi, dia melihat Michella yang mulai menyiapkan segala keperluan dirinya, baik itu dari pakaian sampai dengan makanan.
Melihat hal tersebut, sedikit terselip rasa bersalah di hati Devan karena dirinya masih berkhianat dengan Casandra, tapi apa yang harus dia lakukan, kalau sampai saat ini dirinya masih sangat mencintai kekasihnya dibandingkan dengan istrinya sendiri. Bukan karena Devan tidak pernah mencoba untuk membuka hati ke Michella, tapi entah kenapa tidak ada sedikit pun rasa ketertarikan dirinya jika melihat Michella. Sejauh ini, Devan hanya merasakan detak jantung yang memompa semakin cepat dan deru napas yang tidak beraturan saja, saat berhadapan dengan Michella yang mungkin saja akibat karena sang istri selalu mengekang dirinya, pikir Devan.
"Akhirnya selesai juga, sekarang aku harus mencari bunga dan coklat atau kalau perlu membiarkan Casandra belanja sepuasnya saja, agar dia mau memaafkan aku dan untuk Michella mungkin aku harus menunggu sampai satu tahun baru aku akan meminta cerai darinya, untung saja Ayah menyetujui hal itu dengan perjanjian hitam di atas putih" gumam Devan yang sesekali tersenyum karena akhirnya bisa membuat rencana untuk melepaskan ikatan antara dirinya dengan Michella.
Devan yang segera bergegas pergi untuk menemui Casandra, dikejutkan dengan ban mobil miliknya yang terlihat bocor dan setelah melihat lebih lanjut, ternyata semua ban mobilnya terdapat paku yang memang sengaja dilakukan untuk membocorkan ban-ban mobil tersebut.
"Awas kau Michella!" ucap Devan dengan emosi yang sudah di ujung tanduk karena saat ini, Devan sudah berpenampilan dengan pakaian terbaik agar memudahkan dirinya mendapat maaf dari Casandra, tapi semua itu harus terhambat karena Michella berbuat licik dengan membocorkan ban mobil miliknya.
Sementara itu, Michella yang sudah sampai di kantor, terus merasakan bersin-bersin sedari berangkat kantor. Entah kenapa hidung miliknya tidak merasa gatal sedikit pun, tapi dia selalu bersin-bersin. Mungkin Michella pikir, sekarang sang suami sedang membicarakan dirinya, sehingga membuat dia merasakan bersin-bersin yang tidak berkesudahan.
"Aduh, aku jadi terpikir, apa jangan-jangan Devan sedang mengumpat aku ya sekarang karena aku sudah membocorkan ban mobil miliknya, tapi ya sudahlah, lumayan untuk berjaga-jaga kalau Devan mungkin saja akan menemui wanita itu lagi" ucap Michella yang kemudian mencoba membuat air hangat agar bersin-bersin yang sedang menghinggapi dirinya cepat hilang.
Kembali lagi dengan Devan yang sampai saat ini, dia sedang menunggu ban mobilnya diperbaiki oleh montir yang tadi dia telepon.
__ADS_1
"Pak, sudah siap belum sih menambal ban mobil itu, aku capek loh menunggu ini sedari tadi, bahkan aku sudah menunggu sampai 30 menit lamanya"
"Sabar dong pak, lihat sendiri ini ada empat ban mobil yang harus saya tambal sendiri, jadi sabar saja kalau Bapak tidak sabar coba Bapak tambal sendiri ini ban mobilnya" jawab montir tersebut dengan ketus.
Mendengar hal itu, Devan langsung terdiam saja. Lebih baik dia diam saja dari pada nanti montir tersebut semakin marah dan tidak selesai menambal ban mobil miliknya.
Hampir satu jam Devan menunggu dengan sabar dan sedikit menggerutu, akhirnya selesai juga sang montir menambal ban mobil miliknya dan secepat kilat, Devan bergegas menuju Apartemen kekasihnya.
Sepanjang perjalanan, Devan tidak henti-hentinya melihat arloji yang melekat di pergelangan tangannya karena tidak sabar untuk menemui sang kekasih. Devan juga sampai rela menyambangi beberapa toko untuk membelikan Casandra bunga, coklat ataupun perhiasan yang pastinya memiliki harga yang sangat fantastis, terutama harga perhiasan yang Devan beli merupakan merek ternama.
Sesampai di Apartemen Casandra, perlahan Devan berjalan dengan sangat pelan dan lambat, sebab dia ingin mengejutkan sang kekasih, apa lagi saat ini dia begitu banyak membawa hadiah untuk Casandra yang mudah-mudahan saja membuat Casandra mau memaafkan kesalahannya.
Urat-urat tangan Devan tercetak dengan sangat jelas, saat dirinya dengan erat mengepalkan tangan.
"Oh, jadi seperti ini kelakuan kamu, saat di belakang aku, Casandra!" ucap Devan dengan emosi dan langsung saja meninju laki-laki yang sudah melakukan hubungan terlarang dengan kekasihnya itu.
Sedangkan Casandra yang melihat Devan, langsung syok berat.
__ADS_1
"Sayang, aku bisa menjelaskan semua ini, kamu jangan salah paham, apa yang kamu lihat saat ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang" sahut Casandra.
"Kau pikir aku sedang membayangkan apa Casandra, aku tak perlu membayangkan saja karena aku sudah melihat secara langsung kelakuan kamu yang seperti wanita murahan!" jawab Devan yang masih sedang emosi tingkat tinggi, setelah itu Devan keluar dengan membawa berbagai hadiah yang sudah dia beli.
Di Perusahaan Mahendra, saat ini Michella tengah mengecek berbagai dokumen yang sudah dia kerjakan dan setelah itu, Michella berjalan menuju ke ruangan Devan untuk menyerahkan dokumen tersebut.
"Huh dasar Devan, walaupun dia bos di sini tapi ya tidak boleh sesuka hatinya datang ke kantor" ucap Michella yang kemudian langsung meletakkan dokumen yang sudah dia kerjakan ke meja Devan.
"Berkas-berkas dia sudah menumpuk seperti ini, apa lebih baik aku bantu saja ya memeriksa berkas-berkas itu" gumam Michella yang kemudian mencoba membantu memeriksa beberapa berkas. Namun, saat sudah setengah berkas yang dia periksa, mata Michella melihat sebuah berkas yang terlihat bukan berkas kerja sama. Dengan sigap, Michella melihat berkas tersebut dan sedikit terkejut karena isi dari berkas itu adalah sebuah perjanjian antara Devan dengan Ayah mertuanya yaitu Firman.
Tertera jelas, bahwa isi dari berkas itu adalah perjanjian mengenai Perusahaan Mahendra yang akan diberikan kepada Devan jika usia pernikahan mereka sudah mencapai satu tahun.
Melihat isi tersebut, sekarang Michella paham kenapa Devan sedang mencoba bersikap baik dengan dirinya, bahkan sampai membuat kesepakatan dengannya untuk mencoba memulai hubungan rumah tangga yang baik. Sebab karena ada perjanjian antara Devan dengan sang Ayah mertua yaitu terkait syarat untuk menjadi ahli waris Perusahaan Mahendra.
Beberapa buliran air mata Michella menetes tanpa henti, setiap membaca satu per satu isi berkas tersebut dan dugaan Michella semakin kuat karena secara tidak sengaja, Michella melihat satu kertas yang isinya adalah syarat-syarat untuk pengajuan perceraian.
Membaca hal tersebut, semakin runtuh pertahanan Michella untuk tetap menguatkan dirinya dalam pernikahan ini.
__ADS_1
"Dev, kalau aku tahu kamu hanya ingin berpura-pura bersikap baik karena alasan ini, lebih baik aku saja yang mengajukan perceraian ini, sekarang juga tidak apa-apa, agar tujuan kamu tidak tercapai" gumam Michella pelan.