Istri Kejam Milik Devan

Istri Kejam Milik Devan
Istri Kejam Milik Devan


__ADS_3

Setelah kedua mertuanya keluar dari ruangan Devan. Barulah Michella yang kemudian bergegas mengambil sebuah handuk kecil dan juga ember untung menampung air. Setelah itu, membuka pakaian Devan satu persatu.


Michella yang sudah melepaskan pakaian Devan, tampak tertegun sebentar. Sebab dirinya melihat secara langsung roti sobek yang ada di perut Devan, bahkan sebelum mulai memandikan Devan, tampak sesekali Michella mengelus perut sixpack Devan yang terlihat memiliki enam buah roti sobek.


"Aduh Michella kenapa kamu jadi gila seperti ini sih, kenapa juga membayangkan pikiran kotor sambil mengelus perut sixpack suami kamu sendiri, tapi kan enggak apa-apa ya kan masih jadi suami, eh sadarlah setidaknya tunggu Devan sadar terlebih dahulu," batin Michella, sambil menggelengkan kepalanya untuk sekedar menghilangkan pikiran-pikiran kotor yang tampak mulai menggerayangi otaknya.


Setelah selesai bergelut dengan pikirannya, kemudian Michella membasahi handuk kecil yang dia bawa ke dalam air. Lalu tanpa berlama-lama, Michella membersihkan tubuh Devan.


Saat selesai membersihkan bagian tubuh atas Devan, sekarang waktunya Michella kembali membersihkan bagian bawah suaminya itu. Michella tampak bergetar hebat, sebab dirinya baru pertama kali mencoba membersihkan aset berharga seorang laki-laki, apa lagi ini adalah aset masa depan suaminya sendiri.


Lagi dan lagi, pikiran liar Michella berkelana lagi, sebab sekarang saatnya Michella melihat aset berharga sang suami. Namun, saat baru membuka setengahnya, tampak Michella sudah tidak sanggup lagi dan sekarang dia mencoba keluar untuk meminta tolong perawat laki-laki membersihkan seluruh tubuh bagian bawah suaminya.


Michella yang sudah menutup setengah aset berharga milik sang suami. Setelah itu langsung keluar dengan wajah ditutupi, sebab wajah Michella terlihat mulai memerah.


Di sisi lain, tampak Pak Firman dan Bu Mita baru selesai menikmati makanan pemberian dari Michella.


"Ma, tadi kalau saja Ayah tidak mencegah kamu, mungkin Mama sudah keterusan mau mengatakan kalau Devan hampir saja celaka ke menantu kita, sebenarnya Ma lebih baik jangan mengatakan hal itu, takutnya menantu kita malah tambah kepikiran lagi." Ucap Pak Firman menasihati istrinya.


"Iya Yah, maaf hampir saja Mama keceplosan mengatakan kalau Devan sedang kejang-kejang tadi," balas Bu Mita dengan kepala menunduk.

__ADS_1


"Iya sudah tidak apa-apa Ma, lain kali kalau mau bicara ya harus hati-hati saja, oh iya itu kenapa Michella keluar dengan terburu-buru ya dari ruangan Devan, apa jangan-jangan anak kita ada masalah lagi?" tanya Pak Firman yang melihat Michella sedang keluar dari ruangan Devan dengan terburu-buru.


Setelah Michella keluar dari ruangan Devan, Pak Firman dan Bu Mita langsung bergegas masuk ke dalam ruangan Devan karena takut terjadi sesuatu hal yang menimpa Devan kembali.


"Huh, untung tidak terjadi apa-apa dengan anak kita Ma, tapi kenapa ya Michella sepertinya sedang terburu-buru seperti itu?" tanya Pak Firman yang kemudian mendapatkan balasan gelengan dari kepala Bu Mita.


Sementara itu, Michella yang baru sampai di ruangan perawat pria. Tanpa berlama-lama, langsung menarik saja tangan sang perawat pria tersebut. Sedangkan untuk sang perawat hanya mengikuti Michella yang sedang menarik tangannya, sambil memberikan mimik wajah yang tampak bingung, sebab dirinya yang tidak tahu apa-apa, malah ditarik tangannya oleh seorang wanita cantik.


Sesampai di ruangan Devan. Tampak kedua mertuanya melongo melihat Michella yang masih memegang tangan perawat itu.


"Ini tidak seperti yang kalian lihat kok, aku membawanya sebab tidak sanggup untuk membersihkan anu nya Devan," ucap Michella dengan menyembunyikan raut wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.


Tentu saja, mendengar ucapan menantunya, baik Pak Firman dan juga Bu Mita tertawa terbahak-bahak, tak terkecuali dengan perawat yang dibawa oleh Michella.


"Michella kan malu Bu, meminta tolong ke Ayah," ucap Michella yang masih saja tetap menutupi raut wajahnya yang sekarang tampak tercetak jelas warna merah padam di wajah mungilnya.


"Iya sudah, biarkan Ayah saja yang membersihkan Devan, sedangkan untuk kamu, sekarang bisa kembali ke ruangan." Tunjuk Pak Firman ke perawat yang dibawa oleh Michella tadi.


Setelah itu, langsung saja Pak Firman yang bergantian membersihkan Devan.

__ADS_1


Kini, sudah tiga hari lamanya Devan dirawat di rumah sakit. Namun tampaknya Devan masih setia memejamkan matanya. Bahkan, terakhir kali kondisi Devan setelah kejang-kejang itu, hanyalah diam saja tanpa ada perubahan sedikit pun. Sehingga untuk saat ini, seluruh kegiatan perusahaan dipercayakan oleh Michella. Bahkan tak tanggung-tanggung, Pak Firman langsung memberikan jabatan ke Michella sebagai wakil direktur utama untuk sementara waktu, sampai dengan Devan siuman.


Di kantor, tampak Michella sudah kembali beraktivitas dengan segudang pekerjanya.


"Ah, ternyata jadwal ku hari ini adalah pertemuan dengan Aksa untuk membahas progres dari hotel itu, baiklah setelah selesai dengan meeting ini, aku bisa kembali ke rumah sakit," batin Michella.


Sekitar satu jam kemudian, akhirnya meeting dimulai, namun terlihat jelas kalau meeting kali ini Michella rasanya sedikit risih saat harus berdekatan dengan Aksa. Entah kenapa, batinnya mengatakan kalau Aksa tidak lah sederhana yang dia lihat saat ini.


"Permisi Pak Aksa, sebelum kita memulai meeting nya, saya ingin bertanya kepada Pak Aksa, kenapa ya saya perhatikan dari tadi bapak menatap saya terus, apakah ada yang salah dengan pakaian yang saya kenakan? tanya Michella.


"Tidak ada yang salah Bu Michella, tapi saya lihat hari ini Ibu tampak terlihat sangat cantik," goda Aksa yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Michella. Entah kenapa setiap untaian kata dari Aksa malah membuat Michella semakin risih, sehingga dirinya mencoba cepat-cepat menyelesaikan meeting pada hari ini.


"Baiklah tanpa berlama-lama lagi, saya akan memaparkan terkait perkembangan proyek hotel itu," ucap Michella kembali yang kemudian dia langsung menjelaskan perkembangan hotelnya. Memang untuk hotel ini, Michella lah sebagai penanggung jawabnya, sehingga mau tidak mau Michella yang harus menyelesaikan perkembangan hotel tersebut sampai dengan tahap akhir.


Michella memaparkan semua penjelasannya dengan tegas dan lugas, bahkan detail sekecil pun dia tak lewatkan, sehingga tidak ada pertanyaan lagi dari Aksa dan para petinggi yang lainnya.


"Terima kasih, kalau begitu saya akhiri meeting kita pada hari ini," kata Michella yang kemudian bergegas pergi. Namun, saat hendak keluar dari ruangan tersebut, tangan Michella digenggam erat oleh Aksa, sehingga membuat Michella menghentakkan tangan Aksa secara refleks.


"Maaf Pak Aksa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Michella dengan lembut.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya mau mengucapkan sesuatu hal yang mungkin tidak begitu penting untuk Bu Michella yaitu terkait dengan kondisi Pak Devan, jika misalnya Pak Devan memang sulit untuk kembali bersama kita, maka izin kan saya untuk mendekati Anda Bu Michella," kata Aksa yang kemudian mendapatkan reaksi heran dari Michella. Sebab baik Michella ataupun orang tua Devan, tidak pernah sekalipun mengungkapkan terkait dengan kondisi Devan saat ini.


"Tunggu, maksud Anda apa ya Pak Aksa?" tanya Michella dengan nada dan tatapan mengintimidasi.


__ADS_2