Istri Kejam Milik Devan

Istri Kejam Milik Devan
Extra Part


__ADS_3

Sudah enam bulan lamanya, namun sampai saat ini Michella dan Devan belum juga dikaruniai anak.


"Mas, kenapa ya sudah hampir enam bulan lamanya, tapi di dalam perutku ini belum ada anak juga," ucap Michella sambil memegang perut ratanya.


"Sabar saja sayang, kan untuk memiliki anak tidak harus instan juga, mau kita punya anak atau enggak ya enggak apa-apa, aku masih tetap kok cinta sama kamu," goda Devan dengan mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu, baru dirinya bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Sementara Michella yang melihat sikap Devan seolah-olah hanya biasa saja, membuatnya semakin curiga kalau suaminya itu memiliki wanita lain selain dirinya.


"Mas Devan kok menanggapi pertanyaan aku biasa saja sih, apa jangan-jangan dia memiliki wanita lain selain aku." Monolog Michella yang sekarang membayangkan kalau suaminya memang memiliki selingkuhan. Dari pada dirinya menduga-duga, lebih baik Michella memasak saja untuk makan siang suaminya, apa lagi sekarang Michella sudah tidak bekerja sebagai sekretaris Devan lagi karena suaminya itu melarang dirinya untuk bekerja.


Setelah waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, maka Michella sekarang bersiap-siap untuk mengantarkan makan siang suaminya ke kantor.


"Semua sudah siap dan aku juga sudah selesai berdandan, lebih baik bergegas pergi sekarang saja lah," batin Michella yang kemudian langsung pergi menuju kantor suaminya.


Sepanjang perjalanan, Michella merasakan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Entahlah, kerap kali dirinya merasa diliputi oleh rasa seperti waspada atau curiga terus terhadap suaminya sendiri, bahkan sekarang rasanya dia ingin memarahi Devan walaupun itu tanpa sebab ada kesalahan yang dilakukan oleh suaminya yaitu Devan.


Sesampai di kantor suaminya, Michella langsung melenggang masuk begitu saja. Seperti biasa, saat Michella berpapasan dengan para karyawan, pasti karyawan tersebut langsung menyapanya dengan ramah dan yang pastinya Michella juga membalas sapa ramah dari mereka.


Dengan perlahan-lahan, Michella membuka pintu ruangan suaminya. Namun saat membuka pintu tersebut, jantung Michella berdebar sangat kencang karena melihat jelas secara langsung kalau suaminya sedang berpelukan mesra dengan wanita lain.


"Mas Devan!" ucap Michella dengan nada tegas, setelah itu menarik rambut wanita yang sedang berpelukan dengan suaminya.


"Dasar kamu ya perempuan murahan, berani sekali memeluk suami orang!" ucap Michella dengan marah.

__ADS_1


"Aduh Mbak, sakit tolong lepaskan tangan Mbak dari rambutku, biar aku jelaskan semuanya," jawab sang wanita yang tadi memeluk Devan. Sekarang wanita itu mencoba melepaskan tangan Michella dari rambutnya.


Sementara Devan yang melihat keberingasan sang istri, langsung ikut membantu melepaskan tangan istrinya dari rambut wanita yang tadi memeluknya.


"Sayang, lepaskan tangan kamu dari rambutnya, biar Mas jelaskan semuanya," kata Devan. Namun tak sedikit pun di dengar oleh Michella, malah sekarang Michella semakin erat menjambak rambut wanita yang dia duga sebagai selingkuhan suaminya.


"Diam kamu mas! gara-gara kamu ya aku jadi emosi seperti ini, kalau memang kamu sudah tidak mencintai aku, kenapa tidak kamu ceraikan saja aku!" imbuh Michella dengan nada emosi. Namun, saat dirinya masih tetap menjambak rambut wanita itu, tiba-tiba saja rasa migrain menyerang di kepalanya, sehingga membuat Michella tidak kuat menahannya sehingga sekarang dia tidak sadarkan diri dan langsung tergeletak begitu saja di lantai dengan posisi tangannya yang masih setia menjambak rambut wanita yang tetap dia duga sebagai selingkuhan Devan.


Melihat sang istri yang tiba-tiba saja tidak sadarkan diri, membuat Devan beralih membantu istrinya yang memang semula membantu wanita yang dia peluk bernama Amira.


"Sayang, tolong bangun sekarang juga," ucap Devan dengan nada khawatir.


Melihat hal itu, Amira yang sudah melepaskan tangan Michella dari rambutnya langsung sigap ikut membantu Devan menolong istrinya.


Tidak memerlukan waktu yang lama, akhirnya Michella sampai di rumah sakit sekitar 15 menit, karena jarak antara kantor dengan rumah sakit terbilang cukup sangat dekat.


Sekarang, Michella sudah berada di ruangan unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sementara Devan dan Amira yang sedang menunggu di luar, hanya bisa berdoa saja, agar Michella mendapatkan kesembuhan.


Setelah satu jam lamanya, akhirnya dokter keluar juga dari ruangan tempat Michella dirawat. Sehingga dengan berjalan cepat, Devan menemui dokter tersebut untuk meminta penjelasan terkait penyakit Michella.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya dan sebenarnya dia sakit apa?" tanya Devan dengan nada penuh khawatir.


"Untuk saat ini, istri Bapak masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi tidak ada penyakit serius yang menghinggapinya, hanya saja penyebabnya adalah karena istri Bapak banyak pikiran, apa lagi saat ini sedang hamil muda, sehingga sangat rentan sekali drop tubuhnya." jelas Dokter tersebut ke Devan.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang dokter, Devan langsung berteriak kesenangan karena penantiannya dengan Michella akhirnya terbayarkan sudah, bahkan karena senangnya, Devan secara tidak sadar memeluk dokter laki-laki tersebut.


"Maaf Pak, apakah bisa Anda melepaskan pelukan ini, karena saya bukan penyuka sesama jenis," imbuh Dokter tersebut yang membuat Devan langsung melepaskan pelukannya dan bergegas masuk ke dalam ruangan istrinya.


"Bang Dev, aku ada ngefoto kamu loh yang sedang berpelukan dengan si dokter tadi, kalau kakak ipar tahu kamu memeluk si dokter, pasti akan marah besar tuh." Goda Amira ke Devan.


"Hus diam lah kamu Dek, ini gara-gara kamu yang menyebabkan istri Abang menjadi pingsan seperti ini," ucap Devan yang sambil merebut ponsel adiknya untuk menghapus foto-foto saat dirinya memeluk dokter yang merawat istrinya.


Devan yang saat ini masih menjaga istrinya, tampak tersenyum senang. Bahkan tanpa sungkan dirinya mencium lembut dahi Michella, walaupun di sampingnya masih ada Amira dan orang tuanya yang baru saja datang, saya Devan mengabarkan kalau Michella sedang berada di rumah sakit.


Perlahan-lahan, Michella membuka kedua kelopak matanya dan sekarang pemandangan yang dia lihat adalah Devan beserta mertuanya. Namun, saat Michella memperhatikan lebih jelas, ternyata masih ada seorang wanita yang tadi memeluk suaminya. Tentu saja melihat wanita itu, emosi Michella kembali lagi dan sekarang dirinya dengan cepat menuju wanita itu. Namun baru saja mencoba melangkah menuju wanita itu, Michella langsung dipeluk oleh suaminya sendiri yang bahkan terlihat sangat senang.


"Sayang kamu jangan banyak gerak dulu, kasihan loh anak kita yang sekarang berada di perut kamu," ucap Devan yang membuat Michella tampak membesarkan kedua bola matanya.


Saat ini rasanya Michella seperti sedang mimpi, karena baru saja suaminya mengatakan kalau dirinya sedang hamil.


"Mas, kamu tidak bercanda kan kalau aku sedang hamil," ucap Michella yang sekali lagi mencoba meminta penjelasan dari suaminya.


"Tidak sayang, sekarang ada jagoan kita di dalam perut kamu itu." balas Devan dengan senyuman mengambang. Kemudian Devan juga menjelaskan kalau yang berpelukan dengan dirinya tadi saat di kantor adalah adik kandungnya sendiri yang baru balik dari luar negeri.


Mendengar penjelasan Devan, seketika membuat Michella malu karena sudah melakukan kekerasan terhadap adik iparnya sendiri.


"Kakak minta maaf ya, karena tidak tahu kalau Mas Devan memang memiliki adik, sehingga membuat kakak tadi kelepasan menjambak rambut kamu." Ucap Michella meminta maaf kepada adik iparnya dari lubuk hati yang paling dalam.

__ADS_1


"Iya Kak, santai saja untung rambut aku kuat." Balas Amira yang membuat Michella semakin bertambah malu. Sampai-sampai membuat Michella menutupi kedua wajahnya dengan kedua tangannya.


__ADS_2