
"Baiklah sayang, besok aku akan datang ke pengadilannya" ucap Devan dengan pasrah.
"Terima kasih ya Dev, kamu mau mengerti aku" balas Michella dengan mengembangkan senyuman.
Melihat reaksi dari Michella, membuat Devan tampak ikut mengukir senyumannya, walaupun di sisi lain dia harus merelakan untuk melepaskan sang istri dari belenggu pernikahan ini.
"Sayang, jika setelah kita bercerai apakah aku masih bisa mengejar kamu kembali?"
"Tentu saja masih bisa Dev, seperti yang aku katakan sebelum-sebelumnya, tapi aku mau nya kamu harus memperbaiki sikap dan harus bisa mengandalkan diri sendiri dalam menyelesaikan masalah, sebab aku membutuhkan laki-laki yang bersikap dan bermental baja untuk memimpin rumah tangga"
"Baiklah sayang, aku janji akan mengubah sikap lemah ku ini, pokoknya aku akan berusaha lebih keras lagi" tekad Devan saat ini, setelah mendapatkan angin segar dari istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri.
Keesokan paginya, baik Michella maupun Devan sedang bersiap-siap pergi menuju ke pengadilan untuk menghadiri sidang mereka yang pertama. Sidang perceraian antara Michella atau pun Devan tidak di hadiri oleh orang tua mereka masing-masing, sebab antara Michella dan Devan tidak memberitahukan terkait masalah perceraian ini.
Sesampai di depan kantor pengadilan agama, Michella terlebih dahulu masuk, sedangkan Devan masih terlihat berdiam diri di dalam mobilnya. Sehingga mau tidak mau Michella kembali lagi menuju mobil Devan untuk memanggil Devan agar segera masuk ke dalam, karena sebentar lagi sidang pertama perceraian mereka akan dilaksanakan.
"Dev, ayo masuk sebentar lagi akan di mulai sidangnya" ucap Michella menepuk pundak Devan dengan lembut.
"Ah baiklah sayang, ayo kita masuk" balas Devan yang sekarang wajahnya berubah tampak tidak bersemangat. Entah kenapa baru dia ingat, setelah perceraian dirinya dengan Michella nanti, pasti banyak lelaki yang mau mendekati Michella terutama Aksa, rekan kerjanya sendiri.
Sesampai di dalam kantor pengadilan agama, terlihat hakim dan juga beberapa para penasihat sudah mulai menduduki kursinya masing-masing dan tak beberapa lama akhirnya sidang pun dimulai.
"Saudari Michella, apakah Anda yakin untuk menggugat saudara Alex?"
"Saya yakin Pak Hakim!" balas Michella dengan tegas.
"Baiklah, kita lanjutkan sidang ini, untuk saudara tergugat Alex Mahendra, Anda adalah pihak tergugat dari saudari Michella Aditya, di mana praduga kali ini adalah terkait perselingkuhan yang dilakukan oleh saudara Devan, sehingga pihak penggugat yaitu Michella melayangkan gugatan perceraian untuk Anda, sekarang apakah Anda mau menyangkal terkait gugatan yang dilayangkan oleh saudari Michella"
__ADS_1
"Tidak Pak Hakim, saya mengakui kesalahan yang sudah saya lakukan tanpa mau ada melakukan pembelaan sedikit pun"
"Baiklah kalau saudara Devan tidak menyangkalnya, apakah saudara Devan mau melakukan mediasi dengan saudari Michella, agar pernikahan kalian tetap utuh?"
"Tidak Pak Hakim"
"Baik, kalau seperti itu, agenda selanjutnya adalah keputusan akhir sidang perceraian kalian yang akan dilaksanakan pekan depan, kalau begitu kita akhiri sidang kali ini" ucap Hakim yang kemudian langsung mengetukkan palunya.
Setelah itu, hakim dan beberapa penasihat meninggalkan ruang persidangan, sehingga saat ini di dalam ruangan tersebut menyisakan Michella dan Devan saja.
Michella kemudian berjalan ke arah Devan dan langsung memberikan sebuah pelukan hangat yang mungkin baru kali ini mereka lakukan selama menjadi pasangan suami istri.
"Aku sangat berterima kasih kepada kamu Dev, tak sedikit pun kamu mengelak dari masalah yang kamu buat bahkan kamu juga tidak mengajukan mediasi"
"Tentu saja aku tidak mau melakukan hal itu lagi sayang, sudah cukup aku mempersulit kamu dengan masalahku dan saatnya aku membalasnya sesuai dengan yang kamu mau" balas Devan yang masih memeluk erat Michella.
Devan tampak menahan nangis, namun saat ini tangisannya terlihat tampak tak tertahankan lagi saat membayangkan kehidupan selanjutnya setelah perceraiannya dengan Michella. Sehingga tanpa aba-aba, terlihat air matanya lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Michella melepaskan pelukan itu, kemudian berjalan terlebih dahulu menuju mobil Devan yang diikuti oleh Devan dari belakang.
Tanpa Michella sadari, saat dirinya mau menyeberang ke arah parkiran mobil, terlihat ada sebuah mobil sedan hitam yang melaju dengan cepat ke arahnya.
Tentu saja, melihat hal itu Devan langsung berlari cepat, lalu mendorong keras Michella agar Michella tidak tertabrak oleh mobil itu.
"Sayang awas!" ucap Devan yang kemudian mendorong Michella. Namun, tanpa memikirkan keselamatannya, akhirnya Devan yang sekarang menjadi sasaran korban tabrakan itu.
Jebret, suara mobil yang menghantam Devan dengan keras, hingga membuat Devan terlempar sampai beberapa meter jauhnya.
__ADS_1
Michella yang melihat Devan tertabrak langsung syok, sebab dirinya melihat Devan yang sekarang sudah berlumuran darah dan tampak tak sadarkan diri.
"Tolong.....tolong, bantu aku membawa suamiku ke rumah sakit" ucap Michella seraya meminta bantuan ke orang-orang sekitar.
Tanpa berselang lama, akhirnya Devan dibawa menuju ke rumah sakit terdekat.
Sementara itu, sang pelaku penabrakan tampak menahan kesal, sebab dirinya gagal untuk menabrak Michella.
"Ah sial, kenapa sih bukan wanita itu yang tertabrak, kenapa juga Devan yang harus menyelamatkannya, gagal sudah rencana ku untuk menghabisi wanita itu" ucapnya yang kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sekarang, kembali lagi di rumah sakit. Devan langsung mendapatkan penanganan cepat dari dokter yang ada di rumah sakit itu. Sedangkan untuk Michella, hanya bisa menangisi saja melihat kebodohan Devan yang menyelamatkan dirinya tanpa memikirkan nasib diri sendiri.
"Dev, aku mohon bangunlah sekarang, kenapa sih kamu harus rela menyelamatkan aku dan merelakan diri sendiri yang tertabrak" imbuh Michella yang sekarang dirinya merosot ke lantai, karena tidak sanggup menerima kenyataan ini.
Setelah sedikit tenang, akhirnya Michella memberanikan diri untuk menelepon orang tua Devan.
"Halo Ayah, ini Michella Yah, itu Michella mau memberitahukan kalau sekarang Devan sedang dalam penanganan di rumah sakit, akibat kecelakaan" ucap Michella dengan suara yang menahan tangisannya.
"Apa, kalau begitu Ayah dan Mama akan segera datang ke rumah sakit itu, kamu harus tenang ya sayang, sekarang beritahukan ke Ayah, di mana alamat rumah sakitnya"
"Di jalan melati Yah dan nama rumah sakit itu adalah Rumah Sakit Harapan Sehat" ucap Michella yang kemudian terlihat sambungan teleponnya tampak terputus.
Di kediaman Firman.
"Ma, ayo Mama ikut Ayah sekarang juga ke rumah sakit!"
"Ha, ke rumah sakit, memangnya siapa yang sakit Yah?"
__ADS_1
"Anak kita, tadi Menantu kita mengabarkan kalau Devan kecelakaan"
"Apa, kalau begitu Mama siap-siap sebentar Yah" ucap Bu Mita yang terlihat syok dan sedetik kemudian menetralkan dirinya kembali dan langsung bergegas bersiap-siap pergi menuju rumah sakit, tempat anaknya di rawat.