
Michella yang hampir saja kehabisan napas, langsung berusaha melepaskan diri dari Kungkungan Devan dengan menggunakan seluruh tenaga dalamnya. Dengan gerakkan cepat, Michella memukul tengkuk Devan hanya dengan sekali hentakan saja sampai pingsan.
"Akhirnya tidak sia-sia aku menyandang gelar pemegang sabuk hitam, ternyata masih berguna juga untuk kehidupan diriku saat ini" ucap Michella yang kemudian segera mungkin menyingkirkan Devan dari atas tubuhnya.
"Selamat tidur nyenyak ya Dev, besok aku akan mengajar kamu lebih dari ini, enak saja ciuman pertamaku kamu ambil" sambung Michella yang kemudian bergegas kembali menuju tempat tidurnya.
Keesokan harinya, Michella yang sudah bersiap-siap pergi untuk kembali bekerja di kantor, mencoba menyempatkan diri untuk melihat kondisi suaminya itu. Tanpa mengetuk pintu, Michella langsung saja masuk ke dalam kamar Devan dan dirinya tidak melihat sang suami berada di tempat tidurnya.
"Bagus lah, kalau dia tidak ada, sepertinya juga dia sudah siuman dari mabuk beratnya" gumam Michella. Namun saat Michella ingin keluar dari kamar Devan, tiba-tiba saja sang pemilik kamar langsung mengunci pintu kamar dan sedetik kemudian, sudah berdiri tepat dihadapan istrinya.
Michella yang melihat Devan sudah berdiri di depannya hanya menatap datar saja, tanpa ada perkataan yang keluar dari mulutnya.
Namun, dari raut wajahnya terlihat kalau Michella tengah menahan kesal, sebab saat dirinya ingin keluar, tiba-tiba saja Devan langsung mengunci pintu kamarnya.
"Kamu masih diam saja sayang, bicara dong kalau mau ingin keluar dari kamar ini, bilang ke aku dengan kata-kata seperti ini, suamiku yang tampan, tolong buka pintunya dong" ucap Devan yang mencoba menirukan suara Michella.
Mendengar ucapan Devan, membuat Michella seolah ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya, apa lagi saat suaminya mencoba menirukan suaranya yang terdengar dibuat-buat manja.
__ADS_1
"Dev, kamu pilih buka pintu ini sekarang atau kamu mau merasakan pukulan keras ku ini dan membuat kamu pingsan lagi untuk yang kedua kalinya" balas Michella dengan mengepalkan tangannya untuk bersiap-siap memukul Devan.
"Sayang, masak sama suami sendiri kamu seperti itu sih, jangan terlalu kejam dong jadi istri" timpal Devan, seolah-olah berusaha menggoda Michella. Padahal saat ini, mood Michella sedang tidak baik-baik saja, apa lagi sekarang waktunya dia kedatangan tamu bulanan.
Tanpa perlu berkata-kata lagi, akhirnya Michella secepat kilat merebut kunci pintu kamar dari tangan Devan. Setelah itu, bergegas pergi meninggalkan Devan seorang diri.
"Bagaimana cara aku untuk meluluhkan hati kamu istriku, aku juga bingung dengan diriku saat ini, kenapa saat aku mengatakan kalau aku tidak mencintai kamu, ada rasa nyeri di dadaku, kan tidak mungkin kalau hanya dalam satu bulan pernikahan kita ini, aku sudah mencintai kamu" batin Devan yang kemudian juga ikut bersiap-siap membersihkan diri, karena sekarang dirinya harus segera bersiap-siap untuk melakukan rapat bersama klien nya yaitu Tuan Aksa dari Perusahaan Angkasa Putra untuk membahas terkait pembangunan beberapa hotel di Desa Karya Wisata.
Di sisi lain, saat ini kehidupan Casandra tengah mengalami keterpurukan hebat, sebab sehari setelah dirinya ketahuan selingkuh di belakang Devan, beberapa kartu kredit pemberian dari Devan saat ini sudah dibekukan oleh pihak bank, bahkan sekarang dirinya juga harus terusir dari Apartemen pemberian Devan. Satu kebodohan Casandra yang sekarang dia sesali saat ini adalah tidak meminta Devan untuk membuat surat resmi terkait kepemilikan Apartemen tersebut. Sehingga, sekarang Casandra harus berpindah ke sebuah kos yang ukurannya jauh lebih kecil dari Apartemen yang biasa dia tempati.
"Sial, pokoknya aku tidak mau tahu, aku harus bisa membuat rencana agar Devan kembali lagi menjadi milikku, aku tidak mau kehilangan tambang emas ku lagi!" gumam Casandra yang sekarang juga sudah menyesal telah berselingkuh di belakang Devan, sehingga membuat dirinya harus hidup dalam kesusahan saat ini.
"Mungkin saat ini, menurut saya hal yang perlu kita lakukan adalah mencari para pemasok untuk membuat beberapa suvenir hotel yang akan kita bangun, kita harus tahu, esensi pembuatan hotel ini juga untuk mendukung desa wisata di Desa Karya Wisata itu agar semakin maju. Para masyarakat di sana juga banyak yang sedang pengangguran bukan, sehingga kita bisa memanfaatkan keterampilan mereka untuk membuat kerajinan khas hotel kita di Desa Karya Wisata, jadi antara kedua belah pihak saling menguntungkan" ucap Michella. Setelah itu mempersilakan Devan atau pun Aksa untuk memberikan tanggapan.
Sebenarnya, sepanjang jalannya Michella menjelaskan rapat tadi, kedua pria tersebut tampak tidak fokus, bahkan keduanya tampak saling memandangi wajah Michella dan sesekali memberikan tatapan sengit di antara keduanya.
"Saya setuju dengan Ibu Michella, apa yang Anda katakan memang benar" ucap Aksa yang sesekali menampilkan senyuman menawan saat berbicara dengan Michella.
__ADS_1
"Kalau aku juga setuju dengan pemikiran istriku ini" sahut Devan dengan menekankan kata istri agar membuat Aksa sadar, kalau Michella adalah miliknya.
"Nah, kalau semua sudah setuju, maka kita harus segera membentuk beberapa anggota tim untuk merekrut para pemuda-pemudi di Desa Karya Wisata, mungkin dari kedua belah pihak bisa mengusung dua anggota dari masing-masing Perusahaan yang akan bisa saya ajak kerja sama" imbuh Michella. Kemudian menjelaskan poin-poin hasil rapat saat ini.
"Bu Michella, kan kita sudah selesai dengan rapatnya, lebih baik sekarang kita makan siang berdua yuk di luar, soalnya di dekat sini ada rumah makan yang enak" ucap Aksa.
Belum juga Michella menjawab ajakan Aksa, Devan sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Tuan Aksa, sepertinya istri saya tidak bisa makan kalau tidak dengan saya, jadi mungkin saja dia akan menolak ajakan Anda" balas Devan.
Mendengar apa yang dikatakan Devan, tentu saja Michella menjadi bingung, sebab kapan dirinya mengatakan kalau tidak bisa makan jika tidak ada Devan.
"Kalau Pak Aksa memang mengajak saya, tentu saja saya tidak akan menolak tawaran Anda Pak" jawab Michella yang membuat senyuman Devan memudar seketika.
"Pak Aksa, saya juga ikut kalau begitu, sebab tidak etis bukan, kalau seorang istri sedang berduaan dengan pria lain, takutnya nanti ada beredar berita miring yang menimpa istri saya" imbuh Devan.
Tentu saja mau tidak mau, sekarang Aksa hanya dapat mengiyakan saja ucapan dari Devan, sehingga sekarang terjadilah mereka bertiga berada di mobil yang sama. Di mana dirinya duduk di depan untuk menyetir mobil, sementara Michella dan Devan duduk di belakang. Persis seperti seorang supir yang sedang mengantarkan majikan nya, pikir Aksa.
__ADS_1
Di lain sisi, Devan yang merasa dirinya menang dari Aksa, tampak mengukir sebuah senyuman yang bahkan sangat jelas terlihat dari raut wajahnya, karena sekarang dirinya bisa berduaan dengan sang istri.