
Setelah berbincang-bincang dengan Ayahnya. Sekarang Devan bersiap-siap bergegas pergi menemui sang kekasih. Di sepanjang perjalanan, Devan masih memikirkan bagaimana caranya agar terbebas dari pernikahan ini. Apa lagi dia selalu terkekang oleh istrinya sendiri yaitu Michella.
Dia pikir kalau istrinya sangat mudah tunduk terhadap dirinya, tapi semakin lama ternyata sang istri menunjukkan taringnya yang membuat dirinya sebagai laki-laki tidak bisa apa-apa, terutama pada saat mengancam akan menghabisi nyawa kekasih nya yaitu Casandra. Jangan kan untuk melindungi Casandra, untuk melindungi diri sendiri saja Devan masih tidak bisa, sehingga langkah terakhir yang bisa dia lakukan adalah mengikuti semua keinginan istrinya.
Sesampai di Apartemen kediaman Casandra, langkah Devan terhenti setelah melihat jika Apartemen sang kekasih sepertinya sedang kedatangan tamu. Terlihat dari sepasang sepatu pria, ya sepatu pria yang persis berada di depan pintu kamar Casandra.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa sih sayang, yang mengganggu kegiatan kita sore-sore ini" ucap sang pria.
"Sebentar aku lihat dulu sayang, takut nya yang datang Devan pula, kan aku belum puas menghabisi uang miliknya" jawab Casandra yang segera mungkin memakai pakaian miliknya kembali.
"Oh iya, kamu jangan lupa pakai pakaian kamu, takut nya benar dia pula, bisa gawat kita" ucap Casandra kembali yang kemudian di turuti oleh kekasih nya.
"Sayang buka pintunya, aku sudah dari tadi berdiri di sini loh, ini kaki sudah capek sayang" ujar Devan yang sesekali meregangkan kedua kakinya.
"Iya sebentar sayang" jawab Casandra yang langsung segera mungkin membuka pintu.
"Ayo masuk dulu sayang, oh iya ini aku kedatangan kakak kandung aku yang dari luar kota, nama nya Kak Rendi" sahut Casandra dengan cepat, agar Devan tidak bertanya lebih dalam lagi tentang pacarnya.
"Oh, aku Devan salam kenal calon kakak ipar" ucap Devan dengan sangat sopan kemudian menyalami tangan yang dia duga calon kakak ipar nya.
__ADS_1
"Jadi kamu pacar adik aku, kalau boleh tahu kamu bekerja apa, takutnya nanti jika kalian menikah, kamu tidak bisa lagi memberikan nafkah ke adikku"
"Tenang saja Kak, kalau itu kakak jangan khawatir, semua kebutuhan adik Kak Rendi pasti akan saya penuhi" jawab Devan dengan percaya diri.
"Aku tidak percaya, sebelum kamu membuktikan sendiri ucapan kamu, coba sekarang bisa tidak jika kamu memberikan aku cek senilai 200 juta, kalau bisa berarti memang kalau kamu nantinya bakal bisa memenuhi kebutuhan adik ku" ucap Rendi dengan sedikit menyeringai.
"Baik kalau itu yang kakak mau, ini ambil saja Kak cek nya sekarang" imbuh Devan sambil memberikan cek senilai 200 juta tanpa ragu sedikit pun.
"Wah kalau begitu aku percaya, kamu bisa menjaga adik ku nantinya" sahut Rendi dengan wajah yang tampak senang.
Beberapa saat kemudian, Casandra membawakan teh hangat untuk Devan dan juga sedikit makanan ringan. Dalam hati Casandra, dia sangat senang ternyata Devan sangat mudah sekali percaya dengan ucapannya, sehingga menurutnya akan bebas jika membawa Rendi secara terang-terangan berada di Apartemen miliknya, ralat maksudnya Apartemen pemberian Devan dulu yang sekarang menjadi hak miliknya.
"Iya sayang, apa lagi tadi aku baru selesai bertemu dengan klien yang sangat sulit sekali diajak kerja sama, tapi untungnya pacar kamu yang pintar ini berhasil meluluhkan hati klien yang sulit itu" ucap Devan dengan sedikit bumbu kebohongan. Bahkan dia sendiri juga tidak tahu kalau sang kekasih yaitu Casandra juga berbohong ke dirinya tentang siapa Rendi. Sekarang sudah cocok bukan pasangan ini, sangat saling melengkapi.
Setelah beberapa saat, Devan bergegas pulang, sebab dirinya takut kalau pulang petang pasti Michella akan menginterogasi dirinya lagi. Bahkan pada saat bersama Casandra, tidak ada pelukan atau kemesraan sebab Devan menjaga takut aroma parfum Casandra menempel lagi di pakaian miliknya.
"Sayang, pacar kamu itu ternyata sangat bodoh sekali ya, mau saja kita tipu, masak dia tidak berpikir kalau wajah kita saja tidak ada kemiripan satu sama lain" ucap Rendi yang sedang memeluk Casandra.
"Dia memang bodoh sayang, bahkan kebodohan Devan bisa kita manfaatkan untuk menguras uang nya" jawab Casandra.
"Oh iya, kamu tadi habis diberikan cek sama dia kan, nanti kita bagi dua ya, soalnya aku mau belanja pakaian lagi yang seksi, agar kamu semakin tergila-gila dengan aku"
__ADS_1
"Boleh sayang, aku sangat senang jika kamu selalu memakai pakaian seksi" ucap Rendi.
Sementara itu, Devan yang baru pulang, langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan sesekali dia menormalkan raut wajahnya, takut jika nanti akan tahu kebohongan dirinya jika Michella menanyakan kegiatan yang dia lakukan hari ini.
"Sayang, aku pulang" ucap Devan.
Sementara itu, Michella yang mendengar suara Devan tidak langsung membalasnya, sebab dirinya mulai jenuh karena Devan selalu saja berbohong, apa lagi hari ini dia terlalu telat pulang ke rumah. Sementara tadi pada saat dia menelepon Ayah mertuanya, dia terkejut karena Devan hanya sebentar saja di sana, bahkan sebenarnya tidak ada urusan penting antara Devan dengan Ayah mertuanya.
Perasaan lelah dan jenuh kerap sekali menghinggapi hati Michella, bahkan beberapa kali dia menguatkan dirinya untuk bertahan dalam pernikahan ini. Walaupun tidak ada cinta di hati Michella untuk Devan karena kesan pertama dirinya melihat tingkah laku Devan sangat muak dan tidak ada satu pun yang membuat diri Michella kagum terhadap Devan.
Kembali ke Devan yang sedang melihat Michella seperti orang yang sedang melamun, langsung menyadarkan Michella dengan menepuk pelan pundak istrinya.
"Sayang, kamu kenapa sih, Mas panggil-panggil hanya diam saja di sini, hati-hati loh sayang, nanti kesurupan siapa yang mengobati kamu, kalau mas sih langsung kabur" goda Devan.
Mendengar hal itu, Michella langsung menatap Devan dengan datar dan kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir Devan tidak Michella hiraukan.
"Aku tidak apa-apa Mas, oh iya kalau mau makan kamu ambil sendiri saja ya atau kalau mau mandi aku sudah menyiapkan air panas, sekarang aku tinggal kamu ke kamar dulu, soalnya aku sudah mengantuk berat, seharian memeriksa laporan yang masuk" ucap Michella, lalu pergi menuju kamar.
Devan yang melihat dan mendengar penuturan dari istrinya, langsung bingung karena tidak biasanya Michella bersikap seperti itu ke Devan. Biasanya Michella selalu tersenyum menyambut kepulangan nya, bahkan dari raut wajahnya kelihatan sangat senang.
Tapi untuk saat ini, Devan tidak mau berpikiran buruk terhadap istrinya dan dia pikir sepertinya sang istri memang lagi kelelahan saja akibat pekerjaan yang banyak di Perusahaan.
__ADS_1