Istri Kejam Milik Devan

Istri Kejam Milik Devan
Istri Kejam Milik Devan


__ADS_3

"Maaf maksudnya kan sekarang kondisi Pak Devan sedang tidak baik-baik saja, jadi ada kemungkinan kalau," terpotong ucapannya.


"Kemungkinan apa Pak, maksud Anda ada kemungkinan mati suami saya, begitu maksud ucapan Bapak!" balas Michella dengan nada tegas dan raut wajah yang terlihat sangat marah. Bahkan kedua tangannya mengepal sempurna satu sama lain dengan sangat erat.


"Sekali lagi, kalau Anda mengatakan hal yang aneh-aneh tentang Devan, maka pertemanan kita akan putus dan juga sepertinya Anda sedang mengawasi kami bukan, dengan memerintahkan anak buah Anda dan bahkan Anda sepertinya turut adil dalam membuat suami saya kejang-kejang, ingat ya jika Anda mengulanginya sekali lagi, maka target saya selanjutnya adalah Anda Pak Aksa!" sambung Michella yang kemudian langsung pergi dari hadapan Aksa.


Sementara Aksa, hanya bisa berdiam diri saja dan terkejut karena Michella mengetahui semua perbuatannya.


"Sial, bagaimana Michella bisa tahu kalau aku yang sudah membuat Devan kejang-kejang, atau jangan-jangan dia tertangkap lagi," ucap Aksa sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon orang suruhannya yang mengawasi Devan dan Michella.


Flashback.


Di rumah sakit, tampak Michella langsung memanggil perawat pria tersebut, namun ada satu perkataan dari sang perawat yang tampak membuat Michella terkejut sekaligus marah.


"Maksud Ibu ruangan Pak Devan yang tadi baru selesai kejang-kejang itu ya?" tanya si Perawat.


"Ha, maksudnya suami saya Devan kejang-kejang," balas Michella dengan mengerutkan dahinya.


"Iya, tadi ada dokter jaga yang baru selesai dari ruangan Pak Devan itu dan sempat juga bercerita dengan kami, kalau ternyata pasien yang bernama Pak Devan sempat kejang-kejang yang kemungkinan besarnya ada seseorang yang masuk tiba-tiba dan memberikan kalimat ancaman ke pasien, sehingga ya begitu, akhirnya pasien kejang-kejang." Jelas si Perawat.


"Iya sudah, itu nanti saja yang penting kamu bersihkan tubuh suami saya ya"


"Baik Bu."


Setelah Michella sampai di ruangan Devan dan ternyata akhirnya Devan dimandikan oleh ayah mertuanya. Sehingga sekarang yang dia lakukan adalah mengecek kamera pengintai yang memang sudah dia pasang di dalam ruangan Devan.

__ADS_1


Saat Michella melihatnya, awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun beberapa menit setelah di putar, barulah Michella menyadari kalau ada dua orang pria, di mana yang satu adalah Aksa dan satunya lagi seperti orang suruhan Aksa.


Melihat hal itu, membuat amarah Michella bergejolak dan setelah itu, Michella mencoba mengincar terlebih dahulu sang penguntit, orang suruhan Aksa.


Selesai Flashback.


Masih dengan Aksa yang sedari tadi mencoba menelepon orang suruhannya, namun tidak mendapatkan balasan satu pun dari orang suruhannya tersebut.


Rasa frustasi dan takut mulai melanda Aksa, sebab jika sampai tahu kalau dirinya ikut adil dalam tabrakan Devan, bisa dipastikan reputasi dan juga jeruji besi akan segera menghampirinya.


"Sial, semoga saja wanita itu tidak mengatakan kalau mobil yang dia pakai adalah milikku," batin Aksa dalam hati. Kemudian bergegas pergi dari Perusahaan Mahendra karena dirinya ingin menemui orang suruhannya.


Sementara itu, Michella yang memang sudah selesai dengan pekerjaannya, langsung bergegas pergi menuju rumah sakit. Namun Michella tidak lupa, untuk kembali membawakan pakaian Devan sekaligus makanan untuk kedua mertuanya.


Di rumah sakit, saat ini kedua orang tua Devan secara bergiliran menjaga Devan.



"Yah, Mama kepikiran kalau bagaimana anak kita berobat di luar negeri saja, agar secepatnya Devan siuman," ucap Bu Mita yang mulai tampak frustasi karena Devan sama sekali belum menunjukkan gejala-gejala akan sadar.


"Ma, kita tidak bisa membawa langsung Devan, kan kamu tahu sendiri kondisi anak kita yang masih koma seperti ini, pasti resikonya sangat besar kalau membawa Devan pergi berobat ke luar negeri, apa lagi pergi ke sana memakan perjalanan yang tidak cukup untuk beberapa menit saja." Jawab Pak Firman yang kemudian mencoba menenangkan istrinya.


Sekarang yang bisa mereka berdua lakukan adalah, berdoa dan ikhtiar untuk kesembuhan Devan.


Tak berselang lama, akhirnya Michella tiba di rumah sakit dan langsung saja menuju ke ruangan Devan.

__ADS_1


Michella dengan perlahan-lahan, membuka pintu ruangan Devan. Setelah itu langsung menghampiri kedua mertuanya.


"Ini Michella bawakkan makanan untuk Ayah dan Mama, sekarang makan ya biar Michella yang menjaga Mas Devan." ucap Michella.


"Nak, kalau ke sini jangan repot-repot membawakan makanan untuk kami, kan di sini juga ada kok makanan kantin," jawab Pak Firman.


"Iya benar sayang, Mama dan Ayah kan bisa makan di kantin rumah sakit, kalau begini kan jadinya tidak enak kami merepotkan kamu," timpal Bu Mita.


"Tidak merepotkan kok untuk Mama dan Ayah, apa lagi kalian sudah Michella anggap sebagai orang tua kandung Michella sendiri, jadi tidak perlu sungkan dengan Michella, malah yang ada Michella yang sungkan karena penyebab Devan seperti ini akibat menolong Michella." ungkap Michella dengan suara lirih.


Mendengar perkataan Michella, membuat kedua mertuanya menjadi merasa bersalah, sebab tidak seharusnya mereka sungkan sehingga mengakibatkan menantunya kembali merasakan rasa bersalah.


Tidak mau memperpanjang percakapan lagi, Pak Firman langsung mengambil makanan dari Michella dan membawa Bu Mita keluar. Sehingga yang tersisa di dalam ruangan itu hanya Michella dan juga Devan yang sekarang masih belum sadarkan diri.


Michella sekarang mencoba mendekati ranjang milik Devan, kemudian duduk sambil membelai rambut Devan yang sekarang statusnya masih menjadi suaminya.


"Mas Devan, ayo sadarlah kalau kamu sadar sekarang juga, maka aku janji akan mencabut perceraian kita, tapi kalau kamu sampai detik ini juga tidak sadar, maka setelah aku menjadi janda, aku akan mencari pria yang lebih tampan dan mapan untuk menjadi suamiku yang baru," kata Michella tepat di telinga Devan.


Mendengar suara Michella, sekarang terlihat jari-jari Devan mulai bergerak dan kelopak mata Devan terbuka dengan sempurna.


"Sayang, jika kamu mencari pria lain, maka tidak segan-segan aku akan menghabisi pria itu," ucap Devan dengan pelan.


Mendengar Devan bersuara, membuat Michella merasa senang bukan main, sebab penantian selama empat hari ini telah membuahkan hasil, terlebih lagi ancaman yang dia berikan untuk Devan tadi telah sukses.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga, aku pikir kamu tidak akan pernah bangun lagi." Kata Michella yang sekarang memeluk Devan dan sesekali terdengar suara tangisannya.

__ADS_1


"Ternyata, istriku ini memang benar mau mendoakan aku cepat mati ya, agar segera mencari suami yang tampan dan mapan," sungut Devan yang sekarang terlihat cemberut.


"Tidak kok, mana mungkin aku mendoakan suami yang paling aku cintai ini mati," elak Michella. Setelah itu, langsung pergi keluar untuk mengabarkan kepada kedua mertuanya, kalau sekarang Devan sudah sadar.


__ADS_2