
"Dev, geser sedikit sana, jangan dekat-dekat seperti ini, risih tahu" ucap Michella dengan beberapa kali mendorong tubuh suaminya.
"Sayang, kan enggak apa-apa, kalau kita seperti ini, lagi pula Tuan Aksa juga tidak akan melihat kita, jadi kenapa harus berpura-pura malu sih, benar kan Tuan Aksa?"
"Iya benar, tidak apa-apa, wajar saja kalian suami istri, tapi jangan terlalu terang-terangan memperlihatkan nya, apa lagi sekarang kalian sedang berada di mobilku" jawab Aksa yang sesekali melirik ke arah pasangan suami-istri itu.
Tidak berselang lama, akhirnya mereka sampai di warung makan Lesmana, di mana warung ini menyediakan berbagai macam aneka olahan dari seafood.
Baik Michella, Aksa dan juga Devan, mereka saat ini tengah duduk di tempat yang paling pojok. Dimana Michella menempati posisi tengah sedangkan Devan dan juga Aksa berada di sebelah kanan dan kiri Michella.
"Sayang, kamu mau pesan apa, nanti biar Tuan Aksa saja yang mengantar pesanan kita, iya kan Tuan Aksa?" tanya Devan dengan rasa tak bersalah.
Mendengar perkataan Devan, Tuan Aksa hanya bisa menggerutu saja, sebab sedari tadi tampaknya Devan tengah memancing amarahnya hari ini, bahkan sikap Devan terlihat sangat menjengkelkan di mata Aksa.
Sedangkan untuk Michella sendiri, rasanya hampir sudah tidak punya muka lagi, sebab suaminya sekarang bersikap terlalu kekanak-kanakan, seolah-olah suaminya terlihat sangat posesif dengan dirinya. Padahal yang Michella tahu, kalau sampai sekarang menurutnya Devan hanya sedang bersandiwara saja, mungkin biar terlihat menjaga harga dirinya agar tidak terlalu jatuh. Apa lagi saat di acara ulang tahun perusahaan Aksa kemarin, yang membuat nama Devan sampai saat ini menjadi bahan gunjingan di kalangan para pebisnis.
" Ini sudah semuanya kan, kalau begitu biar saya yang akan mengantarkan kertas pesanan kita'' ucap Aksa dengan sedikit terpaksa, apa lagi saat ini dirinya hanya bisa menampilkan raut senyum saja karena sekarang ada sang pujaan hati yaitu Michella.
"Maaf Pak Aksa, lebih baik saya saja yang mengantarkan kertas pesanan ini, biar Pak Aksa dan juga Devan, kalian mengobrol ringan saja, agar jauh lebih akrab lagi ke depannya" sahut Michella yang kemudian mengambil kertas pesanan mereka dari tangan Aksa, kemudian bergegas pergi untuk mengantarkan kertas pesanan tersebut ke pelayan.
__ADS_1
Setelah Michella pergi, sekarang tampak lah aura permusuhan dari masing-masing kedua pria tersebut. Tanpa basa basi lagi, Devan langsung mengeluarkan kata-kata menohok yang dia lontarkan untuk Aksa.
"Seharusnya Tuan Aksa sadar diri saja, jangan terlalu baik dengan istri orang, takutnya nanti ada salah sangka kalau CEO dari Perusahaan Angkasa Putra ternyata hanya lah perebut istri orang saja, kan kalau sampai orang-orang mendengar hal ini, pasti nama Tuan Aksa jadi jelek bukan" ucap Devan dengan sedikit menyunggingkan senyuman sinis.
"Pak Devan jangan terlalu khawatir tentang hal itu, saya tidak akan pernah mau melakukan perbuatan yang dapat merendahkan harkat dan martabat saya seperti Pak Devan, tentu saja saya sudah mengambil pelajaran semua itu dari Anda dan ucapan Anda tadi, seharusnya untuk diri sendiri saja bukan, jangan sampai di umbar, yang ada hanya akan mempermalukan diri sendiri" balas Aksa tak kalah pedas, bahkan setiap perkataan Aksa langsung menancap tepat di jantung Devan.
"Kurang ajar kau Aksa" ucap Devan yang kemudian tanpa aba-aba, langsung mencengkeram kerah baju Aksa dan bersiap-siap untuk memukul wajahnya. Namun, saat hendak dilayangkan pukulan itu, tanpa aba-aba, Michella yang telah selesai dengan pesanan mereka, langsung mencoba melerai keduanya, terutama melerai Devan.
"Cukup, kenapa sih mau baku hantam di tempat makan orang, kalian bukan anak kecil lagi, ini juga kamu Dev, kenapa mau memukul Pak Aksa?" ucap Michella yang langsung melepaskan tangan Devan dari kerah baju Aksa.
"Itu sayang, dia dulu yang mencoba mengajak ribut, jadi aku terpancing emosi" ungkap Devan yang mencoba memutarbalikkan fakta.
Sedangkan Aksa yang dituduhkan seperti itu, hanya santai saja, toh Michella juga sudah melihat siapa yang salah diantara keduanya.
Mendengar itu, Devan seperti mati kutu dan semakin menambah rasa kebencian terhadap Aksa, apa lagi sekarang secara terang-terangan Aksa mengejek dirinya.
"Kena kau kan Dev, makannya lebih pintar lagi jadi orang, jangan sampai terbawa emosi, sudah image dirimu buruk di kalangan pebisnis dan sekarang juga buruk di mata istrimu sendiri" batin Aksa yang sesekali menampilkan senyum mengejek di depan Devan.
Beberapa saat kemudian, sudah tersaji makanan mereka di atas meja dengan berbagai menu olahan seafood. Mulai dari kerang, udang, kepiting dan masih banyak lagi.
__ADS_1
"Sayang, kamu kok pesan makanannya banyak banget sih, memangnya apa muat di perut kecil kamu itu" ucap Devan yang merasa heran dengan pesanan Michella yang terlihat banyak sekali, bahkan sudah seperti orang yang sedang membuat hajatan saja.
"Tidak, bahkan aku merasa kurang kalau hanya memesan ini, karena aku mengajak mereka untuk makan juga" jawab Michella dengan menunjuk beberapa anak jalanan.
FLASHBACK
Saat Michella sedang mengantarkan kertas pesanan makanan mereka. Secara tidak sengaja Michella melihat beberapa anak yang sedang mengamen di pinggir jalan, tepat di depan tempat makan ini. Tentu saja melihat hal itu, Michella langsung bergegas memanggil anak-anak jalanan itu yang sepertinya perkiraan umur mereka yang masih berada di bawah 15 tahun.
"Dek, ke sini ayo ikut kakak saja kalian, kita makan bersama-sama, terserah kalian mau pesan apa saja, pokoknya bebas selagi masih ada di daftar menunya" ucap Michella yang kemudian di balas dengan antusias dari anak-anak jalanan itu.
SELESAI FLASHBACK
"Ayo kalian ikut duduk juga di sini" ucap Michella. Namun dari mereka tidak satu pun yang berani mendekat ke arah meja nya, sebab melihat tatapan menyeramkan dari kedua pria yang ada di sebelah Michella.
"Kami tidak jadi saja kak, soalnya takut melihat kedua Om... Om itu sangat menyeramkan" jawab salah satu anak perempuan yang merupakan tertua di antara mereka.
"Sudah tidak apa-apa, Om... Om ini tidak galak kok, hanya sangar saja wajahnya tapi aslinya baik dan sangat penyayang terhadap anak-anak" ucap Michella dengan lembut untuk memberikan pengertian terhadap mereka kalau suaminya dan Aksa adalah orang baik.
"Baiklah kak, kami ikut makan juga"
__ADS_1
Setelah itu, mereka bergegas makan dengan lahap dan terlihat Michella mencoba memberikan perhatian ke anak-anak jalanan itu, seperti membantu mengupas kulit udang dan perhatian kecil lainnya yang membuat Devan atau pun Aska tertegun akan kebaikan Michella.
"Memang pantas kalau Michella menjadi Ibu dari anak-anakku" gumam Aska yang masih terdengar jelas di telinga Devan, Sehingga beberapa kali Devan melayangkan tatapan tajam ke arah Aska.