
Devan yang sekarang masih dalam perjalanan ke kantor, sesekali meluapkan amarahnya dengan berteriak dan juga memukul setir mobilnya.
"Sial, menyesal aku berpacaran dengan wanita rendahan itu dan sekarang setelah semua apa yang dia minta aku turuti, dia malah selingkuh di belakang aku" ucap Devan dengan berteriak mengeluarkan segala emosi yang ada di dalam dirinya.
Sesampai di kantor, Devan masih saja tetap menggerutu tidak jelas, bahkan sekarang para karyawan yang biasanya menyapa Devan, tampak enggan karena melihat raut wajah bos mereka yang sepertinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Saat ini, Devan tengah masuk ke dalam ruangannya dan masih tetap membawa hadiah di tangannya.
"Lebih baik hadiah-hadiah ini, ku berikan ke Michella saja, dari pada dibuang, kan sayang apa lagi aku membelinya pakai uang milikku sendiri" batin Devan setelah itu, mencoba berjalan di sekitar ruangannya untuk melihat keberadaan Michella.
Beberapa menit, bahkan sudah berjam-jam Devan menunggu kedatangan Michella, nyatanya tidak terlihat satu pun batang hidung wanita itu. Perasaan kesal pun sudah mulai menghinggapi dirinya.
"Pergi kemana sih wanita itu, tidak mungkin kan, dia pergi ke kantor lebih dulu, tapi belum sampai juga saat ini" ucap Devan yang sekarang mencoba turun untuk menemui karyawan lain, untuk menanyakan keberadaan Michella.
Langsung saja, Devan berjalan sangat cepat untuk menemui salah satu karyawan yang ada di dekat ruangannya terkait menanyakan perihal keberadaan Michella.
"Bos, ada apa ya ke ruangan saya" ucap salah satu karyawan.
"Oh, jadi aku tidak boleh ya ke ruangan kamu, memang kamu pikir ini kantor milik siapa, kalau bukan milikku, jadi aku bebas mau ke mana saja!"
"Maaf bos, tapi ada perlu apa ya bos, sampai datang ke ruangan saya"
"Aku mau menanyakan tentang istri ku, kenapa dia sedari tadi tidak ada di kantor" ucap Devan.
__ADS_1
"Itu bos, sebenarnya tadi Bu Michella sudah datang ke kantor, tapi tidak berselang lama, Ibu langsung keluar, bahkan saya dan rekan-rekan yang lain melihat kalau Bu Michella keluar dengan wajah seperti orang yang sedang bersedih, maaf soalnya karyawan yang lain tadi juga melihat secara langsung kalau Bu Michella menangis saat berpapasan di toilet" jawab karyawan tersebut sambil menunduk.
"Menangis kamu bilang!"
"Iya bos, maaf" ucapnya dengan menunduk
"Iya sudahlah, sana kembali kerjakan tugas kamu lagi, saya mau keluar sebentar" jawab Devan yang kemudian bergegas kembali ke dalam ruangannya untuk mengambil hadiah-hadiah dan juga kunci mobilnya, lalu lanjut pergi begitu saja meninggalkan kantor.
Di sisi lain, Michella yang tengah berada di gedung pengadilan agama, langsung berjalan menuju ruangan pendaftaran perceraian dan juga tak lupa pula, beberapa berkas yang sudah dia bawa sebagai syarat-syarat untuk melakukan pengajuan gugatan cerai.
"Sudahlah, aku tidak boleh menangis lagi dan pokoknya aku harus siap menghadapi semua ini, setidaknya aku yang harus melakukan gugatan cerai itu, sebelum Devan, biar nanti orang-orang tahu, kalau aku menjadi janda bukan karena dicampakkan suami sendiri" batin Michella yang kemudian langsung bergegas pergi masuk ke dalam gedung pengadilan agama.
Setelah beberapa saat, akhirnya seluruh berkas pengajuan gugatan cerai dari Michella dapat diproses.
Di dalam hati Michella, ada sedikit rasa lega telah mengambil keputusan ini, walaupun saat ini dirinya tengah diliputi rasa bimbang. Sebab baru sebulan lamanya dia menikah dengan Devan, sekarang langsung menggugat cerai suaminya itu. Michella takut apa kata orang-orang nantinya, kalau dirinya baru sebulan menikah sudah menjadi janda, apa lagi menjadi janda bersegel.
"Pergi ke mana sih wanita itu" ucap Devan frustasi yang sedari tadi tidak menemukan Michella.
"Eh tapi tunggu, selagi dia masih bepergian, lebih baik aku akan memberikan kejutan kecil saja untuk dia, ya selama sebulan kami menikah, aku belum pernah membelikan dia barang yang mewah sekali pun, mungkin dengan kejutan kecil ini yang aku buat, pasti dia akan senang" imbuh Devan.
"Satu lagi, mungkin aku juga bisa mulai membuka hatiku sepenuhnya untuk dia, pasti akan senang istriku itu, akhirnya dia akan mendapatkan seorang Devan seutuhnya" sambung Devan dengan senyuman lebar dan penuh percaya diri, sampai-sampai dia sudah melupakan tentang pengkhianatan dirinya dengan Casandra yang sekarang sudah menjadi mantan pacarnya.
Devan yang sekarang dibantu oleh para maid, mulai mendekorasi tiap ruang tamunya untuk membuat kejutan Michella. Beberapa pesanan Devan bahkan sudah berdatangan, mulai dari ratusan tangkai bunga mawar merah, satu set perhiasan, bahkan beberapa pakaian dengan merek terkenal, Devan borong semua demi menyenangkan hati Michella.
__ADS_1
Selang beberapa saat, akhirnya selesai juga Devan mendekorasi semua itu. Bahkan baru kali ini Devan turut membantu mempersiapkan segala kejutan dan hadiah untuk seorang wanita. Saat bersama Casandra dulu, Devan hanya memberikan kartu gold miliknya saja yang kemudian di pakai oleh kekasihnya untuk membeli barang-barang yang dia inginkan, baru tadi pagi saja, Devan mencoba membelikan hadiah untuk Casandra, namun tidak jadi dia berikan karena mantan pacarnya itu mengkhianati dirinya.
"Akhirnya selesai juga, tinggal menunggu istriku pulang saja, eh tapi kayak ada yang kurang" ucap Devan yang langsung mencoba berpikir apa yang kurang dan akhirnya dia mencium aroma tubuhnya yang mulai bau keringat. Kemudian dengan terburu-buru, Devan mulai membersihkan seluruh tubuhnya.
Beberapa saat kemudian.
Tidak berselang lama, terdengar deru suara mobil Michella.
Devan yang mendengar itu, langsung saja bersiap-siap mencoba mengejutkan Michella. Pada saat Michella membuka pintu, secara tiba-tiba Devan langsung mengagetkan Michella. Tentu saja secara tidak sengaja, Michella reflek memukul kepala Devan yang membuat Devan mengadu kesakitan. Sedangkan Michella yang melihat itu hanya datar saja tidak berubah ekspresi bahkan sebuah kata maaf pun tidak terucap di bibirnya.
"Sayang, lihat ini sakit semua kepala aku" ucap Devan dengan memegang kepalanya yang benar-benar sakit akibat Michella memukulnya terlalu keras.
"Aku tidak tahu, oh iya ini kenapa ruang tamu kita ada dekorasi seperti ini, memang ada acara apa?"
"Tidak ada sayang, ini aku memberikan kamu kejutan kecil saja, sebagai ungkapan maaf aku, sebab sering membohongi kamu, tapi tenang saja kali ini tidak ada kebohongan lagi yang aku katakan" sahut Devan dengan mengangkat kedua jarinya.
"Memang benar, kali ini terakhir aku akan mendengarkan kebohongan kamu Dev, untuk selanjutnya tidak perlu lagi kamu berbohong, karena sekarang aku sudah membebaskan kamu dari segala belenggu pernikahan ini" balas Michella.
"Maksud kamu apa sayang?"
"Sebentar lagi kita akan bercerai Dev, jadi aku tidak perlu lagi kan, mendengar semua kebohongan kamu, tenang saja kok, tidak sampai seminggu lagi, pasti sudah ada surat dari pengadilan untuk menghadiri sidang kita yang pertama" sambung Michella.
Mendengar ucapan sang istri, jantung Devan seakan mau copot dari tempatnya, sekarang dia mendapatkan kejutan lagi dari wanitanya. Entah kenapa nasib sial berpihak kepada Devan hari ini.
__ADS_1
"Kamu sedang bercanda saja kan sayang, mana mungkin kamu mau menceraikan aku begitu saja kan!" ucap Devan dengan memegang kedua pundak Michella, seakan meminta sebuah jawaban yang sesuai dengan pikirannya.
"Maaf Dev, asal kamu tahu, aku tidak pernah bercanda jika membawa kata-kata perceraian" ungkap Michella yang membuat Devan akhirnya terduduk lemas di lantai.