
Casandra yang melihat Devan pergi begitu saja, hanya bisa menampilkan senyum kecut. Bahkan saat ini, dirinya kepikiran harus melakukan rencana apa lagi, agar Devan kembali dengan dirinya dan juga agar tidak terjerat dengan hukum. Entahlah, sepertinya kebohongan yang sudah dia lakukan tadi, pasti akan menimbulkan dampak yang luar biasa, apa lagi beberapa orang terkejut mendengar ucapan dirinya, termasuk istri Devan.
Di satu sisi, Casandra senang karena pastinya Michella percaya begitu saja dengan ucapannya, tapi di satu sisi lagi, dia harus memikirkan bagaimana caranya agar terbebas dari ancaman Devan. Sebab dirinya tahu kalau Devan sedang mengancam seseorang, pasti tidak sedang main-main, bahkan dirinya tahu bagaimana sifat menakutkan Devan, saat masih menjalin hubungannya dengan dia dulu.
"Aku harus memikirkan cara yang lain, agar aku tidak benar-benar dimasukkan ke penjara oleh Devan, aduh sial sekali sih mulut ini langsung asal bicara saja tanpa memikirkan akibatnya" ucap Casandra dengan menggerutu, menyesal telah melakukan kebohongan yang sudah dia lakukan.
Sementara itu, Devan yang baru saja masuk ke dalam kantornya, harus kembali mendengarkan kehebohan dari beberapa karyawan kantornya, karena kebohongan yang sudah dilakukan oleh mantan kekasihnya.
Devan sudah memprediksi, pasti dirinya lah yang sedang jadi perbincangan, apa lagi terlihat saat kejadian tadi, beberapa orang-orang dari kantornya juga mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Casandra termasuk Istrinya yang mendengar perkataan dari mantan kekasihnya.
"Sial, gara-gara wanita itu, aku harus kembali menjadi bahan pembicaraan orang-orang kantor, apa lagi sekarang beban ku bertambah berat untuk kembali merajut kasih dengan istriku sendiri" imbuh Devan yang sesekali menjambak rambutnya akibat frustasi yang melanda karena cobaan untuk dirinya selalu datang secara silih berganti.
Sekarang jam sudah menunjukkan waktu pukul 16:00 wib yang artinya seluruh karyawan sudah diperbolehkan pulang. Michella yang baru selesai merapikan beberapa berkas dan juga komputer miliknya, sekarang hendak bersiap-siap pulang menggunakan ojek online yang baru dia pesan lewat aplikasi.
"Semua sudah rapi, sekarang sudah bisa bergegas pulang" ucap Michella yang kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangannya.
Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba saja tangan Michella di genggam erat oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan suaminya yaitu Devan. Bahkan Devan saat ini tengah menatap Michella seraya memintanya untuk mendengarkan penjelasan sebentar yang akan dia lontarkan dari bibirnya.
__ADS_1
"Sayang, Mas mohon sama kamu untuk meminta waktu sebentar saja, Mas akan menjelaskan semuanya" ungkap Devan dengan suara rendah dan juga tatapan mengiba.
"Untuk apa lagi dijelaskan Mas, semuanya sudah jelas kalau kekasih kamu itu sedang hamil anak mu, pasti saat ini kamu senang kan akhirnya akan segera memiliki seorang anak dari wanita yang memang kamu cintai" ucap Michella dengan suara yang terdengar biasa saja, seolah-olah sudah bisa mengikhlaskan semuanya.
Bahkan saat Michella mengetahui kehamilan kekasih suaminya, dirinya sudah tidak ada merasakan perasaan marah, sakit, atau pun cemburu. Mungkin saja, sekarang hatinya sudah mati untuk orang yang bernama Devan.
"Sayang, Mas bisa jelaskan semuanya, perempuan itu tidak hamil anak mas, bagaimana mau hamil orang kami tidak ada melakukan hal itu selama pacaran, bahkan Mas rasa dia hamil sama pria lain karena Mas sendiri melihatnya sedang melakukan hubungan badan dengan pria lain di Apartemen, percaya sama Mas, kalau Mas masih perjaka sayang, tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun" ucap Devan dengan sejelas mungkin untuk memberikan pengertian ke Michella kalau dirinya tidak melakukan perbuatan yang berhubungan dengan hal kotor.
Berbagai cara, Devan mencoba meyakinkan Michella, bahkan dirinya akan melaporkan Casandra karena dia telah membuat kebohongan agar Michella percaya dengannya.
Namun seolah hanya hembusan angin sesaat, nyatanya Michella hanya bungkam saja dan terlihat tidak ada perubahan apa pun dari wajah sang istri. Pikir Devan, saat dia menjelaskan semuanya, mungkin Michella akan memberikan reaksi senang atau pun menangis bahagia karena sang suami juga menjaga kehormatannya, tapi kenyataannya berbanding terbalik dengan khayalan nya, bahkan saat ini Michella hanya memberikan ekspresi datar saja, saat Devan sudah menjelaskan semuanya.
"Mas, kalau kamu memang sudah melakukannya atau tidak, itu semua bukan urusanku, karena perceraian kita tetap akan berlanjut" jawab Michella.
"Mas pikir setelah menjelaskan semuanya akan membuat aku senang, tentu saja tidak karena aku memang sudah mati rasa dengan Mas, sebab Mas lah yang sudah menorehkan luka di hati ku ini. Asal Mas tahu, sejak aku melihat isi perjanjian itu, sejujurnya aku ingin sekali membunuh Mas, tapi mengingat negara kita adalah negara hukum, maka akan sia-sia saja nasib ku membunuh Mas, karena aku nantinya di penjara, aku masih menghargai kamu dengan sebutan "Mas", jadi tolong hargai keputusan aku untuk bercerai dengan mu" sambung Michella.
Sekali lagi, rasanya Devan kembali mendengarkan ucapan menohok dari sang istri yang membuat dirinya semakin sadar, kalau Michella memang sudah tidak mau lagi berhubungan dengan dirinya.
__ADS_1
Terlihat sekali, dari ucapan sang istri yang terlontar, mengandung sebuah kebenaran tentang semua perasaan yang sudah benar-benar tidak ada lagi untuk dirinya.
Menyesal sudah tidak berguna lagi bagi Devan, karena semuanya sudah terlambat. Sang istri sudah mendaftarkan perceraian mereka yang seminggu lagi akan di gelar sidang pertamanya.
Untuk sekarang, rasanya Devan sudah tidak sanggup lagi memperjuangkan pernikahan nya dan juga Michella, memang awalnya pernikahan ini tidak diinginkan oleh dirinya, namun lambat laun entah kenapa rasanya setelah melihat pengkhianatan sang kekasih dan pengorbanan Michella, membuatnya tersadar kalau perempuan yang pantas diperjuangkan adalah Michella, istrinya sendiri. Istri dari hasil perjodohan orang tuanya.
Devan yang sekarang masih berada di ruangan yang sama dengan Michella, tidak sadar kalau dirinya sekarang sudah mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya, bahkan sekarang disaksikan secara langsung oleh Michella.
Dengan langkah kecil, Michella mencoba menghampiri Devan dan memberikan sebuah pelukan hangat untuk menenangkan suaminya itu yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami.
"Dev, aku tahu semua ini mungkin berat bagi kamu, ingat lah penyesalan memang selalu di belakang, tapi cobalah untuk bangkit dan buktikan semuanya. Kita bercerai karena hubungan kita ini salah Dev, tanpa saling mengenal kita dijodohkan dengan orang tua kita masing-masing. Aku paham kok bagaimana di posisi kamu saat itu" imbuh Michella yang mengingat tentang pertemuan pertamanya dengan Devan, di rumah mertuanya saat pertama kali mereka dijodohkan.
"Sayang, apa kah memang hubungan kita harus benar-benar berakhir" ucap Devan dengan nada memelas.
"Hubungan kita memang seharusnya sudah berakhir Dev, apa lagi kita salah sudah menjalani semuanya tanpa cinta di hati kita masing-masing, tapi jika memang kamu ingin serius denganku, maka setelah kita berpisah mungkin saja kita bisa memulai lagi dari awal Dev, asal kamu memang serius ya" ucap Michella dengan memberikan senyuman tipis , setelah itu keluar meninggalkan Devan sendiri di dalam ruangannya.
Seraya mendapatkan angin segar, sekarang Devan sudah mulai kembali tersenyum dan dia mulai bertekad dengan dirinya untuk mengejar kembali Michella, untuk memulai semuanya dari awal.
__ADS_1
"Aku pasti akan terus mengejar kamu sayang, sampai kembali menjadi milikku seutuhnya" batin Devan.