
"Kenapa, terkejut ya melihatku sudah ada dihadapan kamu, wanita rendahan!" ucap Michella dengan nada tegas dan kemudian menjambak rambut Casandra dengan kasar.
"Sakit, dasar wanita murahan, lepaskan tanganmu dari rambutku ini!" ucap Casandra yang mencoba melepaskan tangan Michella dari rambutnya. Bahkan, sesekali Casandra mencoba memukul-mukul tangan Michella yang menjambak rambutnya.
Namun, bukannya terlepas malah tangan Michella semakin kuat menarik rambut milik Casandra. Alhasil Casandra merasa seperti rambutnya itu terasa terlepas dari kepalanya.
Mahkota yang dia jaga selama ini, serasa tidak berharga di tangan Michella. Bahkan Casandra mengingat bagaimana dulu para lelaki memujinya karena memiliki rambut panjang yang indah, tanpa terkecuali Devan yang semasa pacaran dengannya pasti selalu membelai rambutnya.
"Aku bilang lepaskan, apa kamu tidak dengar juga hah!"
"Tidak" balas Michella singkat.
"Oh atau jangan-jangan kamu iri ya dengan rambutku, karena kamu tahu kalau Devan selalu membelai rambutku ini" ucap Casandra yang mencoba memprovokasi Michella.
Tanpa dia sadari, kalau ucapan yang sudah dia lontarkan, membangkitkan semangat Michella untuk menyiksanya lagi.
"Oh, jadi rambut seperti ini yang disukai oleh Devan, kalau begitu aku akan memotongnya saja sampai tak bersisa, agar Devan tidak memuji rambutmu lagi" imbuh Michella yang kemudian menyeret Casandra dengan cara menarik rambutnya, lalu saat Michella menemukan sebuah gunting. Tanpa aba-aba, Michella langsung memangkas rambut Casandra sampai tak bersisa sehelai pun di kepalanya.
Michella memerlukan waktu lebih dari satu jam untuk membotaki kepala Casandra, apa lagi sekarang dia memakai alat cukur yang sudah dia minta dari bawahannya. Sedangkan untuk Casandra hanya bisa menangisi nasibnya saja, sebab dirinya telah salah mencoba memprovokasi Michella, karena ternyata wanita itu sangat kejam saat menyiksanya.
Sementara itu, di rumah sakit tempat Devan dirawat, terlihat kalau ada seorang pria yang sedang menjenguknya.
"Akhirnya ya, tanpa aku bersusah payah untuk melenyapkan kamu, sudah ada orang lain yang sudah melakukannya, semoga tidur mu nyenyak ya di alam sana, kalau bisa jangan bangun lagi, agar istrimu nanti biar bisa aku dapatkan" ucapnya tepat di telinga Devan.
__ADS_1
Tentu saja, mendengar ucapannya membuat reaksi tubuh Devan yang sekarang tampak terlihat kejang-kejang seperti orang yang sedang memberontak.
Sedangkan untuk orang tua Devan yang baru selesai makan dari kantin, saat masuk ke dalam ruangan anaknya. Tentu saja terkejut bukan main, sebab sekarang tampak Devan sedang kejang-kejang sehingga menimbulkan histeris sendiri di benak mereka, terlebih lagi Bu Mita yang sudah menangis sesenggukan, melihat kondisi anaknya seperti itu.
Tanpa berlama-lama, Pak Firman dengan segera mungkin memanggil dokter jaga yang sekarang sedang bertugas di rumah sakit tersebut.
"Permisi Dok, bisa kah Anda secepat mungkin ke ruangan anak saya, sebab anak saya mengalami kejang-kejang dokter"
"Baiklah, saya ke sana sekarang juga Pak" ucap sang dokter, lalu bergegas pergi menuju ke ruangan Devan.
Derap langkah yang tampak terdengar jelas di setiap telinga orang yang mereka lewati, membuat beberapa dari keluarga pasien lain tampak keheranan melihat Pak Firman juga Ayah Devan yang tampaknya sedang terburu-buru, seperti ada orang yang sekarat saja.
Padahal yang mereka tahu, lorong yang dilewati ini adalah ruangan yang dikhususkan untuk para pasien yang sudah mulai membaik kondisinya, pikir mereka yang tanpa diketahui kalau ruangan tersebut sudah di sewa oleh Michella, agar sang suami tidak ikut terkontaminasi dengan pasien lorong bawah, terlebih lagi saat ini masih zaman virus Corona, sehingga Michella menjadi lebih selektif lagi dalam pemilihan ruangan sang suami.
Sekarang, setelah dokter yang dipanggil oleh Pak Firman masuk ke dalam ruangan anaknya, mereka terlihat sedikit lebih lega, sebab Devan terlihat sudah tidak kejang-kejang lagi.
"Begini Pak, menurut pengalaman saya, sepertinya ada yang baru saja mengucapkan kata-kata yang membuat tubuh pasien terguncang, entah itu sebuah umpatan atau ancaman sehingga refleks tubuh pasien menjadi kejang-kejang seperti tadi"
"Ternyata seperti itu Dok, soalnya tadi saya dengan istri saya keluar sebentar untuk makan di kantin, sehingga kami tidak tahu kalau ada orang yang masuk ke dalam ruangan anak saya" jawab Pak Firman yang masih syok mengetahui kalau ada orang yang secara sembunyi-sembunyi mendatangi ruangan anaknya.
"Iya sudah, kalau begitu lebih berhati-hati lagi ya Bapak dan Ibu dalam menjaga anaknya karena kita tidak tahu hati orang seperti apa, sesuai dengan kata pepatah yaitu rambut sama hitam tapi hati tidak ada yang tahu, sehingga kita harus lebih waspada lagi ke depannya"
"Baik dokter, terima kasih karena sudah menolong anak saya"
__ADS_1
"Iya pak, pastinya karena itu tugas saya, kalau begitu saya permisi dulu" jawab sang dokter, kemudian beralih meninggalkan ruangan Devan.
Sementara itu, kembali dengan Michella yang sekarang telah puas menyiksa Casandra. Lalu langsung menyuruh anak buahnya untuk mengirimkan Casandra ke daerah yang benar-benar sangat terpencil, sehingga kecil kemungkinan Casandra akan kembali ke kota ini untuk merusak lagi hubungannya dengan Devan.
"Sekarang kamu bawa dia ke daerah yang paling terpencil, agar dia tidak kembali lagi ke kota ini"
"Baik Bos, eh tapi kenapa Bos tidak menghabisi nyawanya saja, seperti orang-orang terdahulu yang Bos siksa?"
"Hei, kamu pikir aku tega menghabisi nyawa seorang wanita yang sedang hamil, tentu saja tidak, sudah sana bawa dia pergi"
"Baik Bos" ucap sang bawahan Michella, kemudahan berlalu pergi membawa Casandra.
Michella yang telah puas menyiksa Casandra, lalu bersiap-siap pergi ke rumahnya untuk mengambil pakaian Devan yang kemudian kembali ke rumah sakit, tempat Devan di rawat.
Selang beberapa jam, akhirnya Michella kembali ke rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan Devan.
"Ayah... Mama maaf ya jika Michella kelamaan perginya, oh iya ini tadi Michella membawakan makanan untuk Ayah dan Mama"
"Iya Nak, tidak apa-apa kok, cuma tadi Mama dan Ayah melihat Devan sedang" langsung terpotong ucapannya akibat Pak Firman menutup mulut Istrinya.
"Mas Devan memang sedang apa Ma?"
"Ini Nak, tadi Mama kamu ini pikir Devan sudah langsung sadar, eh ternyata hanya mimpi, semoga saya memang benar ya kalau Devan cepat sadarnya"
__ADS_1
"Iya Yah, semoga Mas Devan cepat sadar dan oh iya sekarang Michella mau membersihkan tubuh Mas Devan dulu, lalu menggantikan pakaiannya"
"Iya Nak, kalau begitu Ayah dan Ibu keluar dulu ya mau makan yang kamu bawa ini" ucap Pak Firman kembali seraya menunjukkan makanan yang dibawakan oleh Michella.