
Setelah pulang dari rumah sakit, Devan semakin over protective terhadap Michella. Bahkan saat Michella hanya mengangkat sepiring nasi untuknya makan pun Devan larang.
"Sayang, sudah Mas katakan bukan, kalau kamu jangan pegang apa-apa dulu, nah kalau mau makan atau apa, tinggal bilang ke Mas saja, biar Mas yang mengambilkannya." Ucap Devan yang membuat Michella hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Secepat kilat, Devan mengambil piring yang sudah berisikan makanan dari tangan Michella. Setelah itu, Devan meletakkan piring tersebut di ruang makan dan bergegas kembali untuk menggendong Michella.
"Mas, aku bisa jalan sendiri loh, kamu enggak perlu gendong aku segala," kata Michella. Namun, Devan masih tetap terlihat teguh dengan apa yang dia lakukan.
"Hus, sudah sayang kamu hanya tinggal diam cantik saja, biar Mas yang gendong kamu dan anak kita." Balas Devan yang semakin membuat Michella bertambah jengah.
Setiap harinya, ada saja tingkah sang suami yang membuat Michella harus tahan-tahan sabar. Bahkan saat ini, selain suaminya bertambah over protective, sekarang bertambah lagi satu masalah yang menimpanya yaitu menghadapi ngidam suaminya. Ngidam suaminya bukanlah perkara hal yang mudah, karena setiap tengah malam, ada saja keinginan yang harus diturutinya. Contoh saja, saat suaminya meminta lontong sayur di saat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari yang harus dia beli dari nenek-nenek penjual keliling. Itu pun harus dia makan bersama dengan Michella juga, tapi harus duduk di tengah jalan trotoar. Mendengar hal itu, Michella hanya bisa mengelus dada saja, sebab dirinya tahu kalau semua itu bukanlah keinginan suaminya.
"Mas, malam-malam begini kita mau nyari di mana lagi sih, lihat! tidak ada satu pun orang yang berjualan," ucap Michella sambil menunjuk setiap sisi jalan yang tidak ada satu pun penjual lontong sayur.
Namun, Devan yang mendengar ucapan Istrinya hanya tak acuh dan masih tetap melajukan mobilnya.
Hampir tiga jam, mereka mengelilingi setiap jalan dan akhirnya berhasil juga menemukan satu buah Angkringan yang penjualnya pun seorang nenek-nenek.
"Sayang, benar kan apa yang aku katakan, kalau malam-malam begini juga pasti ada yang jualan," ucap Devan yang kemudian membantu Michella keluar dari dalam mobilnya.
"Hmm," gumam Michella pelan.
"Nek, ada jual lontong sayur? tanya Devan.
"Ada Nak," balas Nenek penjual.
"Sayang, kamu mau enggak kalau mau biar Mas pesan dua," ucap Devan.
"Iya aku mau satu," jawab Michella.
__ADS_1
Setelah itu, si nenek membuatkan dua pesanan lontong sayur untuk Devan dan Michella.
Hari-hari berikutnya, tampak Devan sudah tidak ngidam yang aneh-aneh lagi. Malah sekarang ngidamnya lebih ke manja saja ke Michella.
"Sayang, suapi Mas makan pake ayam itu ya," ucap Devan yang kemudian Michella lakukan. Bahkan, tingkah manja Devan saat ini seperti bukan tingkah manja seorang suami, melainkan tingkah manja seorang anak-anak pada ibunya. Namun, hal ini tidak memberatkan Michella karena yang paling penting sudah tidak meminta yang aneh-aneh lagi seperti biasanya.
Sekarang, sembilan bulan telah berlalu dan kandungan Michella kian membesar. Apa lagi sekarang kandungan Michella dua kali lipat lebih besar dari wanita hamil biasanya, karena sekarang Michella tengah mengandung bayi kembar.
"Mas, perut aku mules lagi rasanya, seperti mau buang air kecil tapi kali ini seperti beda saja." Ucap Michella sambil memegang perutnya.
"Jangan-jangan kamu mau melahirkan sayang, kalau begitu ayo kita ke rumah sakit segera ya," jawab Devan yang kemudian langsung menuntun Michella.
Devan tidak lupa mengabari orang tuanya dan juga mertuanya, kalau hari ini mereka ke rumah sakit, karena Devan pikir mungkin Michella akan segera melahirkan.
Sepanjang perjalanan, Michella menahan rasa sakit bercampur mules yang sangat luar biasa, bahkan tak tanggung-tanggung, Michella sampai menjambak rambut suaminya untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Mas Dev, sakit banget rasanya," ucap Michella.
Setelah tiba di rumah sakit, para perawat dan dokter langsung bergegas membantu Devan untuk membawa Michella menuju ruang persalinan.
"Pak Devan, sekarang Anda ikut masuk juga ya, untuk membantu menenangkan istri Anda," ucap sang Dokter yang langsung mendapatkan anggukan dari Devan.
Suasana di ruang persalinan itu semakin kacau, apa lagi saat Michella berteriak dengan melantunkan kalimat pasrah yang membuat Devan kembali menyemangatinya.
"Mas, rasanya aku enggak kuat nahan sakit ini." Imbuh Michella dengan derai air mata.
"Sayang, kamu kuat kok Mas yakin kamu bisa, ayo semangat sayang," ucap Devan tanpa henti-hentinya. Bahkan tak tanggung-tanggung, Devan kembali menjadikan rambutnya untuk dijambak lagi oleh Michella sebagai bentuk menyalurkan rasa sakitnya.
Hingga dua jam lamanya, akhirnya kedua bayi kembar mereka telah lahir ke dunia, dimana Devan dan Michella mendapatkan sepasang anak yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
"Sayang, akhirnya anak kita lahir juga," kata Devan.
"Iya Mas, tapi kenapa ya anak kita ini wajahnya mirip kamu semua, tidak ada sedikit pun yang mirip dengan aku." Balas Michella dengan sedikit cemberut. Padahal berbulan-bulan Michella mengandung dan sampai melahirkan dengan penuh kesakitan, eh malah satu pun anaknya tidak ada yang mirip dengannya.
"Sabar sayang, nanti kita buat anak lagi saja yang mirip dengan kamu," ucap Devan yang langsung mendapatkan hadiah pukulan dari Michella. Mungkin suaminya tidak memikirkan bagaimana sakitnya seorang wanita mengandung dan melahirkan, bahkan belum lagi nanti saat sibuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil.
"Oh iya Mas, Michella lupa kira-kira anak kita mau kasih nama apa?"
"Kalau Mas, untuk yang laki-laki namanya Reno Sebastian yang arti dari Sebastian sendiri diambil dalam bahasa Prancis yaitu menghormati, jadi Mas mau kalau anak laki-laki kita akan menghormati wanitanya, sedangkan untuk yang perempuan Mas memberikan nama Putri Aditya, semoga dengan nama Aditya di belakang yang sama dengan kamu, bisa menjadi wanita tangguh yang seutuhnya," jelas Devan.
Mendengar hal itu, Michella mengangguk senang tanda setuju.
Sekarang, suasana di ruang rawat Michella tampak begitu haru dan penuh kebahagiaan, apa lagi sekarang telah lengkap dengan hadirnya sepasang anak kembar yang menemani mereka hingga hari tua.
Selesai.
Untuk cerita selanjutnya akan dilanjutkan di novel yang baru dengan judul penyesalan balas dendam, jadi bisa dibaca di novel yang satunya ya, karena akan ada teka-teki yang bikin greget. Terima kasih semua.
Kritik dan saran Mimi terima, jika ada nilai yang baik dalam novel ini bisa diambil sebagai pengajaran hidup dan buruknya dibuang ya.
Mimi bawakan dua novel yang menarik untuk teman-teman baca juga.
Karya Claudia Diaz.
Karya LyaaR.
__ADS_1