Istri Kejam Milik Devan

Istri Kejam Milik Devan
Istri Kejam Milik Devan


__ADS_3

Waktu terus bergulir, sehingga tidak terasa kalau hari ini adalah hari pernikahan Devan dan Michella, dimana pernikahan yang di dalamnya tidak ada rasa cinta sama sekali di hati keduanya.


Semua keluarga, baik dari Devan maupun Michella turut hadir di pernikahan keduanya. Pernikahan yang memiliki konsep berwarna putih pertanda kebaikan dan ketulusan, tapi jika dilihat lebih dalam, sebenarnya warna putih tersebut bagi keduanya adalah warna yang menyiratkan akan kekosongan karena keduanya benar-benar tidak saling mencintai terutama Devan yang sedari tadi hanya menghela nafas panjang.


"Akhirnya kalian sah juga, Ayah dan Ibu sudah memberikan hadiah kalian rumah dan juga tiket ini" ucap Firman yang langsung memberikan 2 buah tiket ke Maldives.


"Ini untuk kalian berbulan madu, Ayah dan Ibu juga ingin cepat-cepat menggendong cucu kami"


Baik Michella maupun Devan yang mendengarkan itu hanya membalas dengan senyuman saja, tapi di dalam hatinya Devan menyiratkan akan kemarahan karena tidak mungkin dia akan memiliki anak, apa lagi dari seorang wanita udik.


Setelah selesai acara pernikahan tersebut, masing-masing baik dari keluarga Michella maupun Devan, sudah kembali pulang. Sementara Devan dan Michella, mereka menginap di satu ruangan hotel karena permintaan dari Ayah Firman.


"Udik, sekarang lu tidur di sofa, sedangkan gue yang akan tidur di kasur ini" ucap Devan dengan nada dingin.


"Tidak, aku tidak mau, kalau kamu mau ya lebih baik kamu saja yang tidur di sofa, sedangkan aku tidur di kasur" jawab Michella dengan pelan dan wajah tampak terlihat lelah karena sudah terlalu lama menghadapi para tamu undangan.


"Tidak bisa, ingat ya yang memberikan hadiah ini Ayah gue sendiri, sedangkan lu itu hanya menumpang di sini!" tunjuk Devan ke arah Michella.


Michella yang masih memiliki batas kesabaran, akhirnya mengalah dan memilih untuk tidur di sofa, apa lagi seluruh badannya terasa lelah, sehingga masih sangat malas untuk berdebat dengan Devan.


Keesokan harinya, Michella terbangun lebih dulu, setelah itu mulai membersihkan dirinya yang terasa lengket karena kemarin malam Michella tidak sempat, sebab Michella langsung tidur untuk mengistirahatkan seluruh tubuhnya. Sedangkan Devan, sekarang masih istirahat di kasur empuknya.


Setelah selesai bersih-bersih, Michella langsung memanggil pelayan hotel untuk meminta sarapan dua porsi. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Devan. Walaupun Devan selalu bersikap buruk terhadap dirinya, mau tidak mau Michella yang sekarang sudah menjadi istrinya Devan harus selalu memenuhi kewajibannya, sebagaimana kewajiban seorang istri.

__ADS_1


Devan yang mulai terbangun, langsung melihat segala sisi ruangan dan sedang mendapati Michella yang sedang makan dengan lahapnya. Melihat hal itu, tentu saja rasa benci Devan semakin besar karena sudah berbagai cara dia menolak pernikahan ini.


Pernah sekali Devan memohon Michella untuk membatalkan pernikahannya dan sebagai balasannya, Devan akan memberikan cek senilai 700 juta, angka yang sangat fantastis bukan, bahkan siapa saja pasti akan tergiur melihat angka tersebut. Tapi beda halnya dengan Michella yang memang tidak ada niat untuk membatalkan pernikahan ini, bahkan dia sendiri juga sudah berbicara ke Devan, kalau mau membatalkan pernikahan ini, lebih baik dia sendiri yang bicara ke orang tuanya, jangan membawa-bawa dirinya juga.


Devan yang memang sudah terlanjur benci, lantas berjalan ke arah Michella dan setelah itu membanting makanan yang Michella makan.


Sontak saja, melihat hal itu membuat Michella marah, bahkan ekor matanya menatap Devan dengan tajam.


"Kenapa, marah ya, udik lu itu enggak cocok makan-makanan enak, cocoknya lu itu makan yang ada di pinggiran jalan saja" ucap Devan dengan tatapan merendahkan.


"Oh, jadi yang pantas untuk makan-makanan mewah ini hanya seorang Devan Mahendra saja ya, kalau begitu ini untuk kamu" jawab Michella dan langsung membawa makanan Devan tepat di wajahnya. Setelah itu, Michella langsung menumpahkan seluruh makanan ke wajah Devan.


Lalu, Michella langsung bergegas pergi karena takut untuk menghadapi emosi Devan, setelah apa yang sudah dilakukan oleh Michella tadi.


Sementara Devan yang wajahnya masih penuh dengan makanan, bahkan kuah kari masih melekat di kulit wajahnya. Terlihat kalau sekarang rahang wajahnya semakin ketat beserta dengan kepalan tangannya. Wajah merahnya menandakan kalau emosi yang dimiliki sudah mencapai level atas.


Segera Devan langsung membersihkan seluruh tubuhnya, setelah itu bergegas pergi mencari Michella untuk memberikan perhitungan dengannya.


Kembali ke Michella yang sekarang sedang makan nasi gurih dengan tambahan telur dadar beserta sambal kentang. Michella makan dengan santai sesekali dia memuji makanan tersebut yang ternyata sangat lezat menurut lidahnya. Pencarian makanan lezat ini membutuhkan waktu sampai 30 menit dengan berjalan kaki. Sampai santainya Michella makan, tanpa dia sadari kalau seseorang sedang menatapnya dengan tajam dan penuh amarah.



Orang itu adalah Devan yang sudah mencari Michella keliling jalan dan akhirnya dia menemukan Michella makan di warung kaki lima.

__ADS_1


"Udik, awas saja lu ya, setelah selesai makan, lu akan gue kasih hukuman karena sudah bermain-main dengan seorang Devan" gumamnya.


Michella yang ternyata mendengar gumam orang tersebut, langsung menoleh dan mendapatkan Devan sedang menatap dirinya dengan tajam yang seakan-akan Devan sedang mengulitinya. Michella bahkan beberapa kali meneguk air liurnya sambil berpikir apa yang harus dia lakukan dalam keadaan terdesak seperti ini. Sampai akhirnya dia terpikirkan untuk membelikan Devan makan.


"Oh iya Bu, saya pesan satu lagi ya, nasi gurih dan teh hangat satu"


"Siap Mbak" jawab Ibu penjual nasi gurih dan segera mungkin membuatkan pesanan Michella.


"Ini Mbak, nasi gurih sama teh hangat satu"


"Terima kasih Bu" ucap Michella dengan lembut.


" Dev, sekarang ayo makan, aku sudah membelikan kamu nasi gurih ini" sahut Michella.


Melihat hal itu, tentu saja Devan sesegera mungkin menggelengkan kepalanya, tapi melihat dari tatapan orang-orang, mau tidak mau Devan memakan nasi gurih yang sudah Michella beli dengan senyum terpaksa.


"Kurang ajar kau Udik, setelah ini akan aku balas perbuatan kamu" umpat Devan dalam hati. Tapi, sesaat setelah mengunyah makanannya, ternyata rasa nasi gurih itu memang sangat lezat, bahkan Devan memakan nasi itu dengan sangat lahap.


"Sudah Dev, makannya jangan terburu-buru begitu, tidak akan ada yang mengambil kok, nasi gurih kamu" ucap Michella yang sebenarnya hanya mengulur waktu agar Devan tidak mengingat perbuatannya. Jujur saja di dalam hati Michella, dia sangat menyesal telah membuang-buang makanan tadi, tapi karena emosi yang sudah membakar akal sehatnya, sehingga secara tidak sadar, Michella langsung menumpahkan makanan itu tepat di wajah Devan.


"Van, kalau masih kurang kamu bisa tambah kok, tenang saja, aku yang akan membayar makanan kamu"


Mendengar hal itu, tentu saja Devan langsung mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


"Huh, menyesal aku sudah menawarkan dia untuk tambah makan lagi" ungkap Michella dalam hati.


__ADS_2