
Setelah semua selesai makan, Devan terlebih dahulu pergi entah ke mana, sebab Michella sendiri juga tidak peduli dengannya. Saat di ruang makan juga tidak ada momen-momen romantis seperti pasangan lain yang baru menikah, jangankan untuk romantis, saling bertegur sapa juga sangat jarang.
Sedangkan, untuk Michella saat ini tengah sibuk memikirkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Apa lagi dia berpikir mustahil Devan mau memberikan nafkah untuknya dalam bentuk uang, jangan kan uang, nafkah batin saja yang gratis, tidak memerlukan uang juga tidak Devan penuhi, Michella terkadang berpikir, apa Devan termasuk golongan penyuka sesama jenis atau memang karena Devan sangat membenci dirinya ini.
Tidak mau berpikir panjang, sekarang hal yang pertama kali dilakukan Michella adalah bersantai dengan membaca novel dan sesekali memakan cemilan yang masih tersedia sangat banyak di dalam kulkas. Michella sama seperti generasi "Z" pada umumnya yaitu rebahan yang menjadi salah satu rutinitas yang tidak boleh untuk dilewatkan.
Sementara di sisi lain. Devan sedang pergi menuju ke kantor Ayahnya. Sebab dia harus terlihat rajin dan juga cekatan, agar Perusahaan yang dijanjikan oleh Ayahnya, secepatnya jatuh ke tangannya, sehingga dengan mudah dia mengusir Michella dan dia juga tidak ragu lagi untuk menikahi Casandra karena dia tidak membutuhkan lagi restu kedua orang tuannya, bahkan tidak ada lagi ancaman untuk dirinya sendiri.
Sesampai di kantor, Devan melewati beberapa karyawan yang tengah menatap dirinya dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang centil bahkan ada yang terang-terangan ingin meminta Devan menjadikan karyawan tersebut untuk menjadi istri ke duanya. Semua karyawan tahu, kalau calon pemilik Perusahaan Mahendra sudah menikah, walaupun mereka tidak tahu siapa istri dari Devan karena acara pernikahan tersebut dilaksanakan secara tertutup dan tidak ada satu pun media yang boleh meliput acara pernikahan itu.
Dengan paras yang tampan dan berjalan dengan gagah, bahkan aura kepemimpinan Devan terlihat sangat jelas. Apa lagi beberapa bulan terakhir ini, Devan banyak sekali menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan raksasa, setelah dia menjabat sebagai Wakil Direktur. Banyak sekali perkembangan-perkembangan Perusahaan Mahendra termasuk membangun beberapa anak perusahaan di beberapa provinsi di Indonesia sampai merambah ke Asia Tenggara.
Devan sekarang sedang mengamati beberapa dokumen yang sudah menumpuk karena sudah beberapa hari, dia libur akibat pernikahan konyol itu. Tak terasa sampai fokusnya Devan melihat beberapa dokumen sampai tidak mendengar langkah kaki orang yang masuk ke dalam ruangannya.
"Dev, kenapa kamu sudah masuk kerja, kan Ayah sudah bilang kalau semua pekerjaan kamu, sudah digantikan sama Mariska, sekretaris kamu'' ucap Firman.
"Yah, aku itu enggak betah kalau di rumah saja, lebih baik Devan kerja saja dari pada di rumah terus" sahut Devan dengan mata masih berfokus pada dokumen yang dia pegang.
__ADS_1
" Tapi Nak, Ayah kan sudah membelikan 2 tiket bulan madu kalian ke Maldives, bukan kah waktu itu keinginan kamu mau pergi ke Maldives bareng Michella"
"Iya Yah, Devan hampir lupa, kalau begitu sepertinya lusa Devan berangkatnya, Ayah dan Ibu jangan mengantarkan kami ya, soalnya Devan malu sama Michella" jawab Devan.
"Tenang saja, Ayah tau kok kamu itu anak yang pemalu" ucap Firman sambil menepuk pundak anaknya. Setelah itu bergegas pergi menuju ke ruangannya.
" Andai Ayah tahu, kalau yang meminta liburan ke Maldives itu kekasihku, Casandra" gumam Devan.
"Tunggu, lebih baik aku gunakan saja tiket itu untuk pergi dengan Casandra, pasti dia senang. Sedangkan untuk si Udik, biar saja dia di rumah sendiri sampai membusuk" seringai Devan.
Kilas balik.
"Sayang, nanti kalau kamu mau menikahi aku, jangan lupa ya aku ingin kita bulan madunya itu ke Maldives ya, di sana kita akan menghabiskan waktu satu bulan lebih. Soalnya kata teman aku, tempat itu salah satu tempat yang romantis untuk pengantin baru'' ucap Casandra sambil melihat-lihat satu set perhiasan yang sudah di beli Devan.
"Iya sayang, nanti kalau aku menikahi kamu, pasti kita akan berlibur ke Maldives, sayang" jawab Devan yang sesekali mengelus rambut Casandra.
Dari sinilah, awal mula tidak suka orang tua Devan, melihat anaknya memiliki kekasih lintah darat seperti Casandra. Pernah sesekali Casandra datang ke rumah orang tua Devan, tapi melihat tingkah laku Casandra yang tidak memiliki sopan santun dan bahkan mereka tahu kalau rekening Devan selalu terkuras habis akibat selalu memenuhi keinginan Casandra. Membuat keduanya marah, bahkan tidak segan-segan mencoba mengancam Casandra. Melihat hal itu, tentu saja Casandra mengadukan ke Devan, bahkan dengan tambahan kalimat-kalimat tipu daya dari Casandra. Devan yang memang sudah terlanjur sangat mencintai Casandra, sampai berani memarahi kedua orang tuanya bahkan mengancam kalau dia akan menghancurkan perusahaan kalau sampai kedua orang tuanya, terutama Ayah Firman berani menghardik Casandra.
__ADS_1
Selesai kilas balik.
Kini Devan sudah selesai dengan semua urusan kantor, Devan akhirnya kembali ke rumah. Sebab pada saat dia menelepon kekasihnya yaitu Casandra, nomornya terlihat tidak aktif atau panggilan berada di luar jangkauan. Sehingga mau tidak mau, akhirnya dia pulang saja walaupun dia pasti muak melihat muka Michella terus. Sepanjang perjalanan pulang, Devan melihat beberapa penjual kaki lima dan akhirnya dia terpikirkan membeli martabak untuk Michella. Inilah pertama kalinya Devan membelikan seseorang makanan dari kaki lima karena bersama dengan Casandra, Devan selalu membeli makanan di tempat menengah atas, agar kebersihan makanan tersebut lebih terjamin.
"Pak, martabak kacangnya satu sama martabak coklat satu ya" ucap Devan.
"Baik Mas, silakan tunggu sebentar ya''
Setelah beberapa menit, akhirnya martabak pun sudah jadi dan Devan mulai membayar martabak tersebut, melihat harganya Devan sedikit terkejut karena sangat murah meriah yaitu satu porsi hanya 10.000 walaupun dengan tambahan campuran keju atau campuran yang lain.
Sesampai di rumah, Devan melihat kalau Michella sedang berada di ruang tamu dan tentu saja dia langsung mengambil martabak tersebut untuk diberikan ke Michella.
"Ini, gue membelikan martabak untuk lu" ucap Devan.
Melihat martabak tersebut, membuat Michella tersenyum senang bahkan tanpa sengaja dia memeluk Devan.
"Deg" bunyi jantung Devan seketika berdebar, bahkan dia seperti orang linglung karena tiba-tiba dipeluk oleh Michella.
__ADS_1
Michella yang secara tidak sengaja memeluk Devan, seketika langsung melepaskan pelukan itu dengan wajah berubah berwarna merah dan juga sangat malu pastinya, karena dia pikir pasti Devan akan menghina dirinya lagi bahkan takut kalau dirinya di sebut sebagai wanita murahan, tapi kan dia memang istri Devan, kenapa juga dia harus malu, pikir Michella.
Sementara Devan yang masih mematung, akibat dipeluk Michella secara tiba-tiba, langsung menggelengkan kepalanya untuk kembali mencapai kesadarannya.