
Malam ini sangat membosankan bagi Devan, tidak ada yang menemani dirinya lagi saat makan malam atau pun hanya sekedar menjadi teman untuk mengobrol saja. Biasanya setiap malam setelah perjanjian dirinya dengan Michella untuk menjadi pasangan suami istri yang baik. Michella selalu mengajak dirinya mengobrol riang, menonton atau pun makan bersama.
Tapi, entah kenapa sekarang istrinya itu seperti enggan untuk berdekatan dengan dirinya, bahkan sedari sore tadi hingga berganti malam, Michella tidak pernah keluar dari kamarnya.
"Huh, kenapa ya malam ini sangat terasa sepi, apa lagi sekarang Michella tidak mau menemani aku, apa jangan-jangan dia tahu ya kalau tadi siang aku menemui Casandra, tapi tidak mungkin dia tahu, kan alasan aku pergi mau ke tempat Ayah, atau jangan-jangan dia menelepon Ayah lagi" gumam Devan.
Keesokan paginya, di ruang makan tampak Michella dan Devan sedang menikmati makanan tanpa ada suara atau pun bunyi sedikit pun. Entah lah sampai pagi ini sikap Michella terhadap Devan masih sama yaitu hanya menampilkan sikap datar dan dingin. Sehingga untuk memulai percakapan, Devan menjadi sedikit ragu. Tapi mau tidak mau dia harus memulainya karena baru satu hari saja dia di diam kan oleh sang istri, sudah terlihat sangat frustasi.
"Sayang, kan waktu itu Mas sudah janji sama kamu, kalau lusa kita akan pergi ke Maldives, jadi tepat hari ini kita akan pergi ke Maldives ya sayang" ucap Devan memulai percakapan dengan Michella.
"Ke Maldives, bukan kah hari ini kita masih harus bekerja Mas, apa lagi nanti ada pertemuan penting" jawab Michella tanpa melihat ke arah Devan.
"Sudah lah, hari ini Mas sudah meminta izin cuti untuk kita berdua, jadi kamu harus segera siap-siap ya"
"Iya, setelah sarapan ini aku akan mengemasi pakaian kita Mas" sahut Michella.
__ADS_1
Mendengar Michella masih mau berbicara dengan dirinya, ada rasa senang yang meliputi diri Devan, entah lah perasaan ini membuat Devan dengan cepat langsung mengubah raut wajahnya kembali mengukir senyum.
Beberapa saat kemudian, Michella yang dibantu para maid, sudah selesai mengemas beberapa barang-barang penting untuk kebutuhan dirinya dan Devan selama berada di Maldives. Tidak dimungkiri oleh Michella, kalau hari ini dia sangat senang, sebab salah satu impian kecilnya akhirnya tercapai juga.
"Sayang, kenapa kamu membawa barang-barang sebanyak ini sih" imbuh Devan.
"Tidak apa-apa Mas, ini semua sebagian besar adalah pakaian kita, jadi selama di Maldives kita tidak kehabisan stok pakaian" ungkap Michella.
"Padahal kan kita bisa beli di sana saja, dari pada harus membawa pakaian sebanyak itu"
"Baiklah kalau itu mau kamu, sebagai suami yang baik, Mas ikut saja apa kemauan istri" ucap Devan dan kemudian mulai memasukkan barang-barang satu per satu ke dalam mobil. Kemudian setelah itu, Devan dan Michella bergegas pergi menuju bandara untuk naik pesawat dengan penerbangan Jakarta ke Maladewa.
Selama di penerbangan yang memakan waktu kurang lebih 7 jam 20 menit, akhirnya tiba lah sampai ke negara Maladewa. Melihat negara tersebut membuat Michella semakin semangat menuju ke Maldives, tapi sebelum itu, mereka akan mencari tempat menginap untuk malam ini karena hari yang sudah mulai gelap sehingga tidak memungkinkan untuk mereka melanjutkan perjalanan ke Maldives.
Keesokan harinya, Michella dan Devan langsung bergegas pergi melanjutkan perjalanannya. Tidak terlalu lama, akhirnya sudah sampai ke Maldives, di mana terlihat pulau-pulau kecil dan ada rumah-rumah yang indah. Terlihat juga air laut yang bewarna biru dan jernih. Satu hal yang membuat Michella kagum adalah pantai nya yang sangat bersih.
__ADS_1
Dengan sorak riang, Michella menggenggam tangan Devan, lalu segera mengambil kamera miliknya untuk memulai berfoto-foto riang. Michella mengambil banyak foto untuk dia abadikan di album foto miliknya sedari kecil. Banyak foto yang Michella abadikan bersama Devan dan terlihat gelak tawa dari keduanya.
"Mas, terima kasih ya, kamu akhirnya membawa aku ke sini, dulu saat aku masih berumur 7 tahun, aku memiliki impian untuk bisa berlibur ke Maldives, bahkan aku menceritakan ini ke teman-teman dan juga guru ku sewaktu aku masih sekolah dasar, Mas tahu apa respon mereka. Banyak diantara mereka yang menertawakan aku bahkan guru ku juga ikut menertawakan, tapi karena aku memiliki keyakinan kuat, aku balas mereka dengan kata-kata ku yaitu jika aku bisa pergi ke Maldives maka mereka harus menjadi babu aku selama 1 Minggu, mendengar perkataan aku, semua pada setuju Mas, termasuk guru ku, mungkin setelah kita pulang dari Maldives aku akan mencari mereka dan menyuruh mereka untuk menjadi babu ku" ucap Michella. Mendengar apa yang diucapkan Michella, tangan Devan terulur mengelus anak rambut Michella yang terurai panjang dan sesekali terharu mendengar perkataan istrinya.
"Sekarang salah satu impian kamu terwujud sayang, nanti Mas bantu kamu mencari teman-teman sekolah dasar dan juga guru kamu, agar mereka jadi babu kamu selama 1 Minggu" imbuh Devan disertai dengan gelak tawa karena tentu saja tidak mungkin Devan melakukan itu semua, bisa-bisa di sangka gila kali sama orang-orang.
Setelah menikmati sedikit nuansa Maldives di malam hari yang indah dengan bintang-bintang juga terlihat berkelap-kelip menemani mereka. Sekarang waktunya untuk Devan dan juga Michella bergegas makan malam dan setelah itu beristirahat untuk memulihkan tenaga hari ini, sebab besok akan memulai hari yang menyenangkan di tempat tersebut.
Sementara itu, di kediaman orang tua Devan. Tampak terlihat keributan kecil yang terjadi antara sepasang suami istri paruh baya itu.
"Sayang ayo kita tidur, jangan terlalu keras dengan pekerjaan kantor, kan bisa dilanjutkan besok pagi" ucap Ibu Mita.
"Tidak apa-apa sayang, Mas masih kuat kok, apa lagi besok mas kembali bekerja di kantor untuk sementara waktu jadi segera mungkin Mas memeriksa laporan ini, biar anak kita juga berlama-lama di sana untuk bekerja keras memberikan cucu untuk kita, apa lagi aku sudah lama mendambakan seorang cucu" jawab Ayah Firman.
"Iya Mas, aku tahu hanya saja Mas jangan terlalu kelelahan, ingat umur sudah tahu juga" imbuh Bu Mita.
__ADS_1
"Tapi, walaupun tua-tua ini, masih bisa membuat istri Mas yang satu ini kelelahan bukan? sahut Ayah Firman menggoda Bu Mita sehingga membuat wajah Bu Mita merah merona karena tingkah suaminya itu. Bahkan tidak segan-segan hadiah cubitan kecil dilayangkan Bu Mita ke suaminya.