
Noah terus saja memikirkan kalimat sang ibu yang menohok. Meski pernikahan ini sungguh tidak ia sukai, tapi semua ini juga bermula dari kesalahannya sendiri.
Sampai pagi menjelang, Lily masih betah menemani Clara tidur. Clara menangis semalaman karena ulah Noah tentunya. Cukup lama Lily menenangkan Clara sampai akhirnya semalam bisa tidur.
"Kau bangun, Sayang?" celetuk Lily ketika Clara menggeliatkan badan.
Lily sendiri saat ini sebenarnya baru saja terbangun, tapi sudah terduduk di tepi ranjang sambil sesekali menguap.
"Maaf, Bu. Aku jadi merepotkanmu," kata Clara sambil meraup wajah.
Lily tersenyum sambil mengusap lengan Clara.
Meski kedekatan dengan Noah masih begitu jauh dan entah ada harapan dekat atau tidak, tapi Clara sama sekali tidak ada rasa sungkan pada ibu mertuanya. Sifat Lily yang lembut dan perhatian berhasil meluluhkan hati Clara yang semula takut dan canggung.
"Kau mandilah dulu, ibu turun ke bawah bantu siapkan sarapan," kata Lily.
Clara mengangguk. "Baik, Bu. Aku juga harus siapkan keperluan Noah."
Rasanya tidak tega melihat Clara yang terus-terusab diacuhkan oleh Noah. Pada umumnya, hubungan tanpa cinta mungkin akan membuat seorang wanita enggan melayani sang suami. Namun, tidak dengan Clara. Dia begitu patuh dan apa adanya.
Ketika Lily ke luar dari kamar dan baru beberapa melangkah maju, nampak Noah sedang menuruni tangga masih dengan memakai baju tidur.
"Lho, ibu ada di sini?" tanya Noah usai menguap.
"Hm." Hanya itu jawaban dari Lily.
Noah tidak peduli dengan reaksi sang ibu dan lantas melengos berjalan lebih dulu menuju ruang makan. Lily mengikuti langkah Noah di belakang.
"Jangan terlalu memanjakan dia," kata Noah.
Lily mensejajari langkah Noah. "Apa maksudmu?"
Noah menghela napas saat menarik kursi dari kolong meja makan. Sebelum bicara kembali, Noah lebih dulu duduk.
"Jangan ibu pikir aku jahat padanya," kata Noah.
Lily masih diam karena belum mengerti kemana arah pembicaraan Noah.
"Aku hanya takut dia sama saja dengan Chloe," lanjut Noah.
Kini Lily ikut duduk karena mulai penasaran.
"Kau pikir Clara memiliki sifat yang sama dengan mantanmu itu?" tanya Lily dengan nada cukup tinggi. "Tidak, Noah!"
"Dari mana ibu tahu." Noah menatap ibunya. "Kita bahkan baru mengenalnya kan?"
Lily mendecih dan buang muka untuk sesaat. "Lalu apa kau tahu sifat Chloe meski sudah saling mengenal sejak lama?"
Noah terdiam seribu bahasa. Akhir-akhir ini sang ibu memang pandai dalam urusan berdebat. Noah selalu merasa tersudutkan meski awalnya dia sendiri yang ingin menyudutkan ibunya atau siapapun yg mendukung pernikahan ini.
__ADS_1
"Kau yang sudah lama mengenal Chloe saja sampai tidak tahu bagaimana sifat dia. Itu karena kau selalu memanjakannya," ujar Lily lagi. "Kau bahkan sampai melawan ibu hanya karena mencintai Chloe."
Noah masih terdiam. Perdebatan dengan sang ibu selalu berakhir seperti ini.
"Cobalah kau terima Clara. Kali ini saja kau percaya pada kata-kata ibumu menyangkut wanita. Kalau bukan Clara, kau pikir siapa yang mau merawat Joy?"
Perdebatan mereka pun harus terhenti karena tidak lama kemudian Clara muncul. Ia datang sudah dengan tampilan rapi dan elegan.
"Maaf, mengganggu obrolan kalian," kata Clara lirih.
Noah acuh-tak acuh sementara Lily berditi menghampiri Clara. "Kau sarapan saja dulu dengan Noah, ibu mau mandi dan bersiap-siap. Takutnya nanti ayah datang ibu belum siap."
Ragu-ragu Clara ikut duduk. Tidak di samping Noah, melainkan di hadapan Noah--terpisah dari meja makan yang penug dengan menu sarapan.
Tidak ada satu pun yang bicara di sini. Noaj diam, Clara juga diam.
"Sial! Aku selalu saja gugup!" umpat Clara dalam hati.
Diam-diam Clara curi-curi pandang ke arah Noah yang dengan acuj menikmati sarapannya.
"Makan saja, tidak usah melihatku terus," kata Noah tiba-tiba.
Hal itu tentunya membuat Clara gelagapam sendiri hingga menelan ludah susah payah.
"Tidak, aku tidak melihatmu," elak Clara.
Noah mendecih. "Kau pikir aku tidak tahu."
Sekitar sepuluh menit berlalu, Noah lebih dulu menyelesaikan sarapannya. Sementara Clara, ia terlihat masij berperang dengan sendok dan piringnya.
"Siapkan bajuku, aku mau mandi dulu!" perintah Noah.
"Sudah," sahut Clara acuh.
"Kau yakin?"
Clara mengangguk. "Sudah semuanya termasuk dari hal yang sensitif."
Seketika Noah menaikkan satu alisnya mendengar perkataan Clara. Clara yang merasa keceplosan segera menggigit bibir.
"Apa maksudmu?" tanya Noah.
"Tidak ada. Intinya aku sudah menyiapkan segala keperluanmu," ketus Clara lagi.
Noah melengos lalu pergi. Setelah Noah pergi, Lily muncul lagi. Beliau sudah rapi dengan atasan kemeja dan rok span warna hitam. Umur boleh lanjut, tapi wajah tetap awet muda. Melihat tampilan ibu mertuanya, Clara saja sampai terpesona.
"Apa ayah sudah datang?" tanya Lily pada Clara.
"Em, belum Bu. Mungkin…"
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Belum selesai bicara, terdengar ketukan pintu dari arah ruang tamu. Seorang pelayan berlari kecil untuk segera membukakan pintu.
"Itu pasti ayah," kata Lily. "Kalau begitu ibu berangkat dulu ya. Kau baik-baik di sini."
Clara mengangguk.
Seperginya Ibu mertua, Clara jadi merasa kesepian. Jujur saja, selama tinggal di rumah ayah ibu, mereka lebih sering mengobrol berdua dan mengacuhkan Clara. Di rumahnya dulu, mereka lebih sering membangga-banggkan sosok Chloe.
Saat Clara berjalan ke ruang tengah sambil melamun, Noah datang.
"Apa ibu sudah pergi?" tanyanya.
"Sudah. Baru saja," jawab Clara.
Keduanya sempat terdiam beberapa detik seperti sedang memikirkan sebuah kalimat untuk dilontarkan.
"Aku berangkat dulu," kata Noah tiba-tiba.
"Tunggu dulu!" cegah Clara.
Noah berbalik badan.
"Dasimu semertinya belum terpasang dengan benar." Clara maju satu langkah, berjinjit dan langsung meraih, membenarkan posisi dasi Noah yang dirasa tidak pas.
Dalam posisi sedekat ini, Noah bisa merasakan betapa wanginya aroma Clara. Entah parfume atau apa shampo apa, tapi Noah begitu menikmati aroma harumnya.
Semakin lama, Noah merasakan kalau wajah Clara jauj berbeda dengan Chloe. Meski kembar, raut wajah Clara lebih terlihat sejuk dan damai.
"Sudah," kata Clara kemudiam sambil tersenyum.
Noah yang mulai salah tingkah, segera berdehem supaya tidak disadari oleh Clara.
"Aku berangkat," kata Noah dengan cepat.
Selagi Noah berjalan, Clara terus saja mengamati punggungnya hingga Noah sudah tak terlihat lagi.
"Aku harus menerima keadaan ini," lirih Clara. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan bisa menghindar lagi sekarang."
Dalam perjalanan, Noah tidak kunjung berhenti memikirkan Clara.
"Wajah mereka sama, tapi kenapa aku merasa mereka berbeda," kata Noah.
Terus saja memikirkan tentang Clara, sampai Noah tidak sadar kalau mobil sudah berhenti di gedung kantornya.
"Tuan!" panggil Pak Rey. "Sudah sampai, Tuan."
Noah lantas bergidik. "Oh, oke Pak. Maaf aku melamun."
__ADS_1
***