Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Chapter 13


__ADS_3

Bab 13


Sekitar pukul tiga sore, hujan turun dengan begitu derasnya. Jika hari-hari lalu hanya hujan gerimis, kali ini membludak lebih deras diikuti suara petir yang terkadang membuat dada berdegup terkejut.


Noah sudah selesai mandi. Di dalam kamarnya, dia mulai merasa khawatir karena Clara tidak kunjung pulang. Sudah satu jam dari waktu Bibi Tere dan Jou pulang tadi.


Harusnya Noah tidak peduli. Harusnya masa bodoh saja. Namun, rasa was-was di hatinya membuatnya panik akan keberadaan Clara. Belum lagi di luar sana hujan deras.


"Kemana dia?" gumam Noah saat langkah kakinya sampai di pintu kaca menuju balkon.


Noah mendorong pintu tersebut dan berjalan keluar sambil memeluk tubuhnya sendiri menahan hawa dingin di luar sini. Cipratan hujan yang tertiup angin, semakin menambah hawa dingin. Kabut tebal juga nampak menutupi area perumahan dan nampak hanya lampu-lampu jalan yang sedikit terang.


"Uh!" kata Noah dengan suara tertahan saat suara petir menggelegar. Saking terkejutnya, Noah sampai menutup kedua matanya.


"Gelap sekali di luar sana. Ck! Kalau begini aku akan terus was-was," keluh Noah.


Noah masih memeluk tubuhnya sendiri dan kini mulai merasa lebih kedinginan hingga menggigil. Tidak tahan merasa khawatir, Noah berjalan cepat meninggalkan kamar. Tadi, sebelum keluar, Noah lebih dulu menjambret jaket hodinya untuk mengurangi hawa dingin.


"Bibi Tere!" panggil Noah dengan suara lantang.


Satu panggilan tidak mendapat sahutan, Noah kembali memanggil Bibi Tere lebih lantang.


"I-iya, Tuan, Sebentar!" Tergopoh-gopoh Bibi Tere berlari menghampiri Noah. "Maaf Tuan, saya baru saja memberi susu untuk Jou," sambung Bibi Tere sembari menunduk.


Noah terlihat celingukan. "Apa Clara sudah pulang?"


Bibi Tere terpaku diam. Jujur saja, Bibi Tere lupa kalau sedari tadi belum bertemu Clara sejak terakhir berpisah di taman.


"Ma'af Tuan, sepertinya belum. Saya belum melihatnya dari tadi."


"Pak Rey!" teriak Noah tiba-tiba.


Bibi Tere yang masih berdiri di hadapan Noah, tentu langsung terjungkat kaget.


"Pak Rey!" teriak Noah lagi memanggil sang sopir.


Pak Rey muncul dengan langkah kaki cepat seperti yang tadi di lakukan Bibi Tere.


"Ada apa, Tuan?" tanya Pak Rey. Pria enam puluh tahun itu terlihat panik.


"Siapkan mobil!" kata Noah cepat.

__ADS_1


Tidak mau cari tahu atau banyak tanya dulu, Pak Rey segera menuju garasi. Sampai di sana, Noah lebih dulu masuk ke dalam mobil sementara Pak Rey masih di luar.


"Maaf, Tuan. Di luar sedang hujan. Tuan mau diantar kemana?" tanya Pak Rey heran.


"Masuk saja dan bawa mobilnya dulu," sahut Noah sambil menutup pintu mobil dengan cepat.


Pak Rey lantas memutari mobil menuju pintu ruang kemudi. Mobil pun perlahan-lahan mulai melaju meninggalkan area rumah menembua hujan yang masih sangat deras.


Duduk di samping kemudi, Noah terlihat gelisah. Hujan yang begitu deras, tentunya membuat tatapan mata memandangi jalanan harus lebih tajam dan jeli.


"Terakhir aku melihat Clara ada di taman," batin Noah. "Dia pergi ke mini market kan? Mungkin saja ada di mini market dekat taman itu."


"Hujan semakin deras, Tuan. Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Pak Rey lagi.


"Jangan banyak tanya, terus saja jalankan mobil sampai di taman kota."


Pak Rey mengangguk patuh.


Sampai di lokasi taman, tentunya tidak ada siapapun di sana. Hujan deras sepertinya tadi membuat para mengunjung berlarian menepi ke tempat yang teduh.


"Pak Rey," panggil Noah. "Kira-kira di mana lokasi mini market dekat taman ini?"


Kening Pak Rey berkerut penasaran. Pak Rey tidak habis pikir kenapa harus ke mini market dalam keadaan hujan deras begini. Tidak biasanya juga Noah bertanya tentang mini market.


"Ke sana sekarang!" Perintah Noah tanpa penjelasan.


Pak Rey hanya nurut saja.


Mobil sudah berhenti di halaman mini market. Dilihat dari dalam mobil, suasana di dalam mini market tidak terlalu ramai. Terlihat juga di teras ada beberapa orang dengan barang belanjaannya menunggu hujan reda.


"Eh, Tuan mau ke mana?" pekik Pak Rey saat tiba-tiba Noah keluar dari mobil dan berlari menuju mini market.


Pak Rey masih tidak percaya kalau Tuannya itu berani menerobos hujan yang begitu deras hanya untuk masuk ke dalam mini market.


"Apa yang Tuan mau beli sebenarnya?" tanya Pak Rey pada udara dingin di dalam mobil. "Biasanya dia meminta pelayan untuk membelikannya."


Noah yang sudah sampai di dalam mini market segera memutari setiap rak yang ditata di sana. Beberapa kali berkeliling, Noah sama sekali tidak menemukan Clara.


"Dia tidak di sini," kata Noah. "Ck! Aku jadi tambah panik sekarang!"


Noah keluar dari tempat tersebut dan berlari lagi masuk ke dalam mobil. Jarak yang tidak terlalu jauh antara mobil dan teras mini market, membuat Noab tidak terlalu basah.

__ADS_1


"Jalan lagi, Pak," kata Noah. "Pelan saja."


Lagi-lagi Pak Rey hanya mengangguk patuh.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, mata Noah tak henti-hentinya mengamati kesekeliling jalanan di luar sana.


"Berhenti, Pak!" kata Noah tiba-tiba.


Mobil pun berhenti secara mendadak karena Pak Rey kaget dengan suara Noah yang keras.


"Astaga!" umpat Noah ketika melihat sosok wanita tengah duduk sendirian di sudut kursi halte.


"Nona Clara," lirih Pak Rey. Kini Pak Rey pun tahu tujuan Noah yang mendadak harus keluar dalam keadaan hujan deras.


Clara yang sudah kedinginan, mengamati mobil hitam yang kini berhenti tak jauh di hadapannya. Begitu sosok pria keluar dari dalamnya, Clara sontak terperanjat.


"Ka-kau?" Clara nampak terkejut tidak percaya. "Sedang apa di sini?"


"Kau yang sedang apa di sini!" salak Noah saat itu juga.


"A-aku, aku hanya sedang menunggu hujan reda."


Noah bisa melihat bagaimana Clara sudah menggigil kedingan. Bajunya juga nampak basah tapi tidak semua. Perlahan Noah mengamati Clara mulai dari ujung kepala hingga perlahan turun ke kaki.


Belum sempat sampai di kaki, mata Noah berhenti pada Rok Clara yang berwarna crem. Di sana terlihat ada noda merah di bagian ujung rok.


"Apa itu?" tanya Noah sambil menunjuk.


Dilihat semakin jeli, kini ada darah lain yang mengalir pelan di kaki Clara.


"Astaga!" pekik Clara tiba-tiba. Ia mulai meliukkan badan ke arah belakang untuk memastikan sesuatu.


Begitu melihat apa yang ada di bagian rok depan dan belakang, Clara jadi gugup dan panik sendiri. Ia yang sudah kedinginan lebih kuat lagi saat menggigit bibir.


"Apa itu!" seru Noah lagi yang kini mulai memeriksa keadaan Clara. "Apa ini darah!"


Wajah Clara nampak memerah. "Itu, itu hanya …"


"Ayo pulang!"


Noah merangkul Clara dan membawanya masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Clara yang mungkin akan menjelaskan sesuatu.

__ADS_1


***


__ADS_2