Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
chapter 20


__ADS_3

Bab 20


Masih menikmati air hangat yang menguap, Noah menyandarkan kepala pada bantalan busa di bibir bak mandi. Kedua matanya terpejam dengan kepala tengah membayangkan sesuatu.


"Aku berniat menghancurkannya dulu," kata Noah. "Aku masih sakit hati tentang Chloe yang beraninya pergi meninggalkanku. Tapi … dengan menghancurkan Clara apakah cara yang benar?"


Noah terus memikirkan Clara. Sejenak, Noah menenggelamkan kepalanya beberapa detik. Begitu terangkat, Noah duduk tegak sambil menyugar rambur ke belakang dengan kedua tangan.


"Tapi akhir-akhir ini aku merasa nyaman dengannya. Aku seperti tidak merasa kesepian lagi."


Noah berdiri lalu meraih handuk dan melingkarkannya di pinggang. Sudah hampir satu jam Noah berendam di kamar mandi. Bibirnya yang seksi bahkan terlihat mulai membiru, dan jari-jemarinya nampak kusut.


Keluar dari kamar mandi, Noah tidak menemukan Clara di sana. Clara yang bilangnya hendak membuatkan susu hangat belum juga muncul.


"Apa dia lupa?" batin Noah.


Noah tidak terlalu memikirkan susu hangat. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Setelah menggeser layarnya, Noah mendapat satu pesam dari Betrand.


(Besok aku sampai di London, pembuatan gedung hotel tinggal beberapa persen lagi. Aku datang untuk memberi semua laporan padamu nanti.)


Ya, selama ini Betrand tidak terlihat karena sebenarnya ia sedang ditugaskan untuk memantau pembuatan hotel di area pesisir pantai Singapura. Pembangunan itu bukan sepenuhnya milik Noah memang, tapi milik sang ayah yang dipasrahkan pada Noah untuk mengurusnya. Josh saat ini terlalu sibuk dengan bisnis pengembangan lahan perkebunan dan anggur. Untuk bisnis lain, Josh berikan pada orang kepercayaannya.


Selesai membaca pesan tersebut, Noah langsung menghubungi Betrand.


"Kau sudah bisa datang ke kantor besok kan?" tanya Noah begitu panggilan terhubung.


"Bisa, tapi mungkin agak siang. Aku harus menemui ayahmu dulu."


"Baiklah. Kita bertemu besok."


Panggilan sudah terputus. Bertepatan dengan itu, Clara masuk sambil membawa segelas susu hangat.


"Oh maaf," kata Clara sambil putar balik. Ia terkejut saat masuk karena Noah masih mengenakan handuk saja.


"Kau mau kemana?" tanya Noah.


"Em, sebaiknya aku keluar saja dulu. Kau harus pakai baju," sahut Clara tanpa menoleh.


"Kemarilah!" pinta Noah.


"Tapi …"


"Aku bilang, kemari!"


Clara terpaksa berbalik dan tubuh seksi sang suami kini terpampang nyata di hadapannya.


Ya Tuhan! Kalau terus begini aku bisa pingsan!


Kedua kaki Clara bahkan mendadak gemetatan saat Noah mulai mendekat. Kedua tangan yang memegang nampam berisi segelas susu pun ikut terkena imbasnya.

__ADS_1


"Letakkan saja dulu di sana. Bisa-bisa gelas itu terjatuh," kata Noah dengan nada mengejek.


Brengsek! Bisa-bisanya dia tersenyum begitu. Aish!


Clara ingin mundur, tapi kaki ini tidak bisa di ajak bekerja sama. Saking kakunya, akhirnya Noah meraih nampan tersebut dan meletakkannya di atas meja.


Masij berdiri, Clara menampar pelan pipinya sendiri supays segera tersadar. Berhubung Noah masih memunggunginya, Clara tengah menggerutu tanpa suara sambil mengepalkan kedua tangan.


Saat Noah berbalik usai sedikit menyesap susu hangatnya, Clara pun segera terkesiap.


"Ambilkan aku baju tidur!" pinta Noah.


Tidak perlu menjawab, Clara berlari menuju ruang ganti. Beberapa detik kemudian, Clara muncul sambilem membawa baju berwarna coklat tua.


Clara lantas meletakkan baju tersebut di atas ranjang karena Noah sudah duduk di sana.


"Kenapa harus yang ini. Bukankah kau sudah tahu aku paling enggan dengan kancing baju?"


Noah menenteng atasan baju tidur tersebut lalu melemparkannya ke arah Clara. Gelagapan, Clara pun menangkap dengan cepat.


"Kau tidak perlu membuka semua kancingnya kan. Cuku satu aja dan kepalamu sidah bisa masuk." Clara menjelaskan sambil mempraktekkan.


Bukannya paham, Noah malah berdecak kesal. Memang, keduanya masih belum saling mengenal begitu jauh. Apa yang disukai dan tidak, mereka sama-sama belum paham. Termasuk Clara yang tidak tahu kalau Noah enggan pakai baju sambil angkat kedua tangan.


Mulanya mungkin Clara heran karena hampir setiap baju Noah memiliki kancing hidup. Hanya ada beberapa kaos saja di dalam lemari. Tentunya Clara belum paham itu semua.


"Ambilkan saja jubah tidurku. Itu akan lebih mudah kupakai," jelas Noah kemudian.


"Tapi ini …"


"Tidak ada tapi-tapian!" hardik Clara.


Clara mendengus kesal lalu sempat menghentakkan kaki sebelum berbalik kembali ke ruang ganti.


"Kenapa lama sekali!" hardik Noah begitu Clara muncul lagi.


Ck! Apanya yang lama? Tidak ada semenit dia sudah bilang lama. Gila!


Clara ingin sekali melempar jubah tidur yang ia pegang ke wajah Noah yang begitu menyebalkan. Namun, itu hanya angan-angan saja. Nyali Clara tidak sebesar itu untuk berani melawan Noah.


"Duduk di sini!" perintah Noah saat sudah selesai memakai jubah tidurnya.


Tidak mau berdebat, Clara pun menurut saja. Ia duduk di tepi ranjang di hadapan Noah yang bersandar pada bantal yang ditumpuk.


"Dengar …" Noah mengacungkan jari telunjuk. "Kau adalah istriku. Aku mau, saat kau menyiapkan baju untukku, kau buka semua kancingnya lebih dulu."


Astaga! Ini masih soal kancing baju? Kenapa ribet sekali?


Clara sungguh tidak habis pikir. Sepertinya Noah memiliki masalah dengan kancing baju.

__ADS_1


"Hey!" Noah menjentikkan jari tepat di drpan wajah Clara yang melamun. "Kenapa malah diam?"


"Maaf,maaf, aku hanya sedang merasa heran."


Kening Noah berkerut. "Apa maksudmu?"


"Tidak, tidak ada. Em, lanjutkan saja bicaramu," kata Clara.


"Intinya, setiap aku selesai mandi kau harus ada di sampingku. Kau paham?"


Clara mengangguk saja karena sepertinya tidak sulit.


Noah sebelumnya tidak berani minta bantuan pada Clara mrngenai kerepotannya saat bersiap pergi ke kantor. Dulu, ibu dan pelayan yang membantunya, tapi kini ada Clara. Sayangnya hingga beberapa bulan ini Noah terus saja mengabaikan Clara.


"Itu saja?" Clara memastikan lagi.


"Ya," jawab Noah singkat.


Saat Clara sudag berdiri dan hendak meninggalkan kamar, Clara berbalik badan lagi.


"Noah," panggil Clara.


"Hmm."


"Apa aku boleh bekerja?"


Kening Noah berkerut. "Kenapa harus bekerja? Kau tidak kenyang di sini?"


"Bukan, bukan itu. Aku hanya ingin bekerja. Aku tidak mau ketergantungan di sini."


"Aku mampu membiayaimu. Kau tidak perlu bekerja," jelas Noah.


"Aku tahu. Tapi saat ini, kita masih bukan apa-apa. Aku merasa tidak pantas jika harus meminta apapun padamu. Em, kau tahu maksudku kan?"


"Hm."


Hanya itu yang Noah dengungkan.


"Apa boleh?" Clara memastikan.


"Terserah kau saja. Asal jangan membuatku malu. Kalau perlu jangan sampai ada yang tahu kalau kau istriku."


Degh!


Kalimat itu menandakan kalau Clara masih bukan siapa-siapa dalam kehidupan Noah. Mungkin Clara mulai berharap Noah bisa menaruh hati padanya.


"Aku mungkin terlalu berharap," batin Clara sembari meninggalkan kamar.


***

__ADS_1


__ADS_2