Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Chapter 15


__ADS_3

Bab 15


Begitu lelahnya dan rasa dingin masij menusuk, Clara sampai terlelap di atas kasur dalam posisi tengkurap melintang di atas ranjang. Noah yang baru saja selesai mandi melangkahkan kaki mendekat.


Noah kini hanya mengenakan jubah handuk tanpa apapun di baliknya. Sementara satu tangan, sedang menggosok-gosok rambutnya yang basah menggunakan handuk.


Sampai di dekat ranjang, Noah sedikit membungkukkan badan dan memiringkan kepala. Noah kemudian duduk di tepi ranjang sampil mengulurkan satu tangan. Wajah Clara yang tertutup helaian rambut, Noah singkirkan perlahan hingga wajah cantik dengan mata tertutup itu terlihat.


"Wajahmu lebih sejuk dipandang," kata Noah. "Apa aku harus menuruti kata ibuku?"


Kini, Noah mulai membelai pucuk kepala Clara dengan lembut.


"Aku hanya takut kecewa lagi."


Noah berdiri setelah berkata demikian. Ia melebarkan selimut dan menutupkan pada tubuh Clara.


"Aku tidak akan semudah itu percaya pada sikapmu yang polos," kata Noah lagi.


Selesai berganti pakaian, Noah keluar meninggalkan kamar. Ia menenteng laptopnya membawa menuju ruang tengah di lantai satu. Di sana, Noah duduk lalu membuka laptopnya, segera mengecek beberapa file dokumen meeting tadi siang yang belum sepenuhnya beres.


Sekitar setengah jam, semua sudah beres dan tinggal menyerahkan hasilnya pada Angela hari esok. Saat laptop masih dalam keadaan on, Noah melihat ada satu email yang masuk.


Sebelum membuka, Noah sudah merasa tidak enak hati. Dan benar saja, begitu pesan tersebut dibuka, Noah segera tahu siapa pengirimnya.


"Untuk apa dia masih menghungiku?" tanya Noah malas.


Meski begitu, Noah tetap saja membaca isi pesan email tersebut.


“Halo Noah Sayang. Aku sangat merindukanmu! Tunggu aku pulang ya!”


Cih!


Noah buru-buru mematikan laptopnya dan melengos pergi.


"Kau pulang atau tidak, aku tidak peduli!" cerca Noah sambil menutup pintu.


Saat berjalan menuju ruangan lain, tidak sengaja Noah berpapasan dengan Bibi Tere yang sedang menggendong Jou.


"Tuan …" Bibi Tere mengangguk sopan.


Noah tersenyum tipis dan sempat melirik Jou yang kini sudah memasuki umur lima bulan. Ya, setara dengan umur pernikahan Noah dan Clara yang menginjak empat bulan.


"Hwaaak!"


Tiba-tiba Jou menangis saat Noah acuh dan berjalan pergi.


"Sayang, kau kenapa? Kenapa tiba-tiba menangis?" Bibi Tere coba menenangkan sambil menimang-nimang.

__ADS_1


Jou tentu belum bisa berbicara selain merengek dan menggerakkan tubuh untuk menunjukkan bahwa dirinya menginginkan sesuatu.


Bibi Tere pun memutar badan mengikuti rengekan tangan Jou yang mengarah pada Noah yang kini sedang duduk di sofa ruang keluarga. Noah sedang duduk menonton siaran berita di televisi.


"Maaf, Tuan." Bibi Tere mendekat.


Noah mendongak, terlihat Jou mengulurkan kedua tangan ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Noah yang masih tidak peka.


"Em, sepertinya Tuan muda Jou ingin ikut dengan Tuan Noah," kata Bibi Tere.


Noah nampak terkejut dan semakin tidak paham. Ia menatap Jou yang memang sedari tadi merengek sambil mengulurkan tangan.


"Dari mana kau tahu dia ingin bersamaku?" tanya Noah.


Bibi Tere meringis bingung. "Dia terus saja merengek, coba saja Tuan ajak dia sebentar. Mungkin dia akan tenang."


Noah berkerut wajah saat kembali menatap Jou yang terus mengoceh tidak jelas dan menggerak-gerakkan tangan.


"Apa kau yakin dia akan tenang bersamaku?" Noah masih ragu.


"Coba saja, Tuan."


Memang selama ini Noah hampir tidak pernah menggendong Jou ataupun sekedar mengajaknya bercengkerama. Noah yang memang memiliki watak acuh, tentunya tidak terlalu tertarik dengan yang namanya anak kecil. Apalagi anak itu hasil dari wanita yang sudah membuatnya kecewa.


Namun, lama-kelamaan Noah tidak tega melihat Jou yang terus merengek.


Dan ajaib, seketika Jou langsung tertawa-tawa dan merangkul Noah. Melihat hal tersebut, Bibi Tere jadi terharu dan ingin menjatuhkan air mata.


"Kalau sudah begini, apa?" tanya Noah.


"Ajak saja Jou duduk. Sebentar lagi pasti dia tidur," ujar Bibi Tere.


Noah berdecak namun tetap menggendong putranya itu. Noah memangku Jou dan mengajaknya menonton TV.


"Awas kalau kau menangis!" ancam Noah yang dibalas tawa oleh Jou.


Jou terus saja mengoceh tidak jelas sampai akhirnya lelah sendiri dan tertidur bersandar pada dada bidang Noah.


"Kau?"


Seseorang nampak terkejut ketika melihat Noah memangku Jou. Clara yang terbangun dari tidurnya, kini sudah berdiri di belakang Noah.


"Kebetulan sekali," kata Noah sembari berdiri. "Kau angkat Jou sekarang juga."


Clara buru-buru menerima Jou yang disodorkan dengan cepat oleh Noah.

__ADS_1


"Tanganku sudah pegal!" keluh Noah.


"Pelan-pelan saja, nanti dia bangun," cerca Clara.


Noah tidak peduli dan pergi begitu saja tanpa pamit dan lupa mematikan tv.


"Dasar ayah tidak bertanggung jawab!" sembur Clara. "Suka hati kau membuatnya bersama Chloe, tapi kini Jou selalu kau acuhkan."


Clara merasa jengkel setiap melihat betapa acuhnya Noah pada Jou. Tadi, Clara sudah merasa senang karena melihat Noah mau menggendong Jou, tapi ternyata tetap sama, dia tetap acuh.


"Lho, kenapa Jou jadi bersama Nona?" tanya Bibi Tere heran. "Di mana Tuan Noah?"


Clara memasang wajah datar. "Dia sudah pergi ke kamarnya."


Bibi Tere membulatkan bibir saja.


Secara perlahan, Clara meletakkan Jou di atas ranjang. Ia tidak mau kalau sampai Jou terbangun. Kasihan juga Bibi Tere yang seharian sudah mengurusnya. Pasti dia juga ingin segera beristirahat.


"Kalau Bibi Tere kerepotan jika Jou bangun, Bibi bisa memanggilku," kata Clara. "Aku tidak apa jika bibi bangunkan."


Bibi Tere mengangguk seolah patuh, padahal meski nanti Jou terbangun dia tidak akan tega membangunkan Clara.


Sebebarnya Clara ingin sekali tidur bersama Jou. Dibanding harus tidur dengan Noah yang meski ada orangnya tapi berasa tidak ada, akan lebih baik tidur dengan Jou. Namun, ibu mertua tidak mengijinkan untuk saat ini. Alasannya karena Lily menginginkan Noah dan Clara segera bisa dekat.


Sampai di kamar, Noah terlihat sudah tidur tanpa selimut. Clara enggan mendekat, tapi disitulah dia harus tertidur.


"Kenapa lama sekali?"


"Eh!" Clara urung menjatuhkan diri di atas ranjang saat tiba-tiba Noah berbalik dan bertanya.


"Ka-kau belum tidur?" tanya Clara gugup.


"Sebentar lagi," jawab Noah.


Ragu-ragu Clara naik ke atas ranjang. Dia menarik selimut lalu membaringkan badan di samping Noah.


Keduanya hanya diam untuk beberapa saat memandangi langit-langit kamar yang berwarna biru laut.


"Kemarilah!" pinta Noah.


Bukannya mendekat, Clara justru spontan bergeser.


"Aku minta kau kemari, kenapa malah bergeser?" salak Noah.


Clara yang gugup dan bingung terlihat gigit bibir. "Aku hanya …"


"Kemarilah, cepat!" Tidak sabar, Noah menarik lengan Clara hingga tubuh sudah saling bersentuhan.

__ADS_1


Jika biasanya Clara tidur akan menaruh bantal guling di bagian tengah, sepertinya malam ini dia sendiri yang akan menjadi guling.


***


__ADS_2