
Mela menggandeng tangannya sendiri dengan erat. "Maaf, Tuan. Sedari tadi saya memang tidak melihat Nona Clara."
"Bibi Tere!" teriak Noah begitu lantang membuat Mela terjungkat kaget.
Tidaj kunjung menampakkan diri, sekali lagi Noah berteriak memanggil Bibi Tere.
"Bibi Tere!"
Dari arah pintu ruang menuju taman, Bibi Tere muncul sambil menggendong Jou. Dikira sedang bermain-main dan digoda, Jou malah tertawa ngakak saat Bibi Tere berlari cukup cepat.
"Maaf, Tuan. Ada apa?"
Noah melirik Jou yang masih terkekeh dan memandangnya. Noah tidak membalas tawa itu melainkan melengos pura-pura tidak tahu.
"Di mana Clara? Apa kau tahu?" tanya Noah.
"Oh, Nona Clara tadi pamit mulai kerja, Tuan," jelas Bibi Tere.
Noah terdiam sejenak sambil berpikir sesuatu. "Kira-kira di mana dia kerja?"
Noah tidak berkata lagi. Ia pergi menenteng tasnya sambil menjambret selembar roti.
Mulanya Noah pikir dirinya tidak akan peduli, tapi entah kenapa rasa ingin tahu tentang apa saja menyangkut Clara ingin segera ia ketahui.
Saat pintu lift terbuka, Noah terhenyak dan terjungkat kaget. Noah sampai mengusap dada dan memelalak ketika saat pintu lift terbuka ada Betrand tengah berdiri di sana.
"Sialan!" sembur Noah saat itu juga. Masih menahan rasa kaget, satu kaki Noah terangkat menemdang kaki Betrand.
__ADS_1
"Aku mana tahu kau ada di situ," cerca Bentrand lagi. "Dan lagian, bagaimana mungkin kau bisa kaget begitu?"
Noah acuh tak acuh hingga pergi menyerempet tubuh Betrand. Betrand yang niatnya hendak turun ke lantai satu, urung dan mengikuti langkah Noah.
"Kau sedang ada masalah?" tanya Betrand begitu sudah masuk ke ruang kerja Noah.
"Tidak ada," jawab Noah singkat.
Menjawab tidak ada, tapi raut wajah datar dan kesal tidak bisa ia sembunyikan.
"Eh, ngomong-ngomong bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Clara?"
Mendengar pertanyaan itu, mata Noah berubah menatap tajam.
"Jangan tanya tentang itu. Kau tidak lihat wajah Noah menyedihkan?"
"Mereka baik-baik saja kan?" tanya Betrand pada Angela dengan nada berbisik.
Dari bawah kolong meja, dengan cepat Noah menendak kaki kursi yang Betrand duduki. Bentrand sampai kaget dan berdecak.
"Aku kan hanya ingin tahu," celetuk Betrand.
"Aku tidak mau ikut campur. Silahkan kalian bicara." Setelah meletakkan berkas di atas meja, Angela memilih pergi.
"Mulutmu seperti wanita!" sembur Noah kemudian.
Betrand duduk maju menyandarkan dada pada tepian meja dan melipat kedua tangan di sana. "Hey! Sebagai sahabatmu, aku juga ingin tahu."
__ADS_1
"Urusan pribadi tidak perlu dibagi-bagi," jelas Noah. "Dari pada menggosip, lebih baik kau jelaskan bagaimana perkembangan pembangunan hotel kita."
Betrand membuang napas kasar. Ia begitu penasaran tentang hubungan mereka berdua, tapi yang bersangkutan tidak mau berbagi.
"Hei! Apa kau tahu?"
"Tahu apa?" tanya Noah enggan. "Tidak usah mengalihkan topik."
"Tidak. Kurasa kau harus tahu tentang ini."
"Apa?"
"Mia ada di sini."
"Mia?" Noah membulatkan mata. Bukan karena kaget, tapi karena Noah lupa dengan siapa itu Mia. "Mia siapa?"
"Astaga!" Betrand menepuk keningnya sendiri. "Bagaimana kau lupa dengan Mia?"
"Memang Mia siapa?" Noah sungguh enggan untuk mengingat-ingat.
"Teman dekat Chloe."
Degh! Noah terpaku diam. Noah sudah hampir melupakan tentang Chloe. Panggilan semalam bahkan Noah abaikan.
"Apa Chloe juga sudah kembali?" tanya Betrand.
"Aku tidak tahu," jawab Noah singkat.
__ADS_1
***