Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Bagian 42


__ADS_3

Lima tahun sudah berlalu, hubungan antara Noah dan Clara masih sama. Lebih sering ada perdebatan hal-hal kecil dan sifat acuh tak acuh. Lima tahun tentunya bukan waktu yang singkat untuk Clara lalui. Menjadi istri tanpa cinta, sentuhan apalagi berhubungan layaknya suami istri, ah! Itu tidak mungkin.


Sesekali Noah sempat memergoki Clara tidak memakai apapun di ruang ganti. Bukan lelaki normal jika Noah tidak tergiur. Lagi-lagi ego dan gengsi menahannya sampai detik ini.


"Bajumu sudah kusiapkan," kata Clara begitu Noah keluar dari kamar mandi.


Hanya begitulah yang Clara lakukan setiap hari. Membangunkan suami, menyiapkan segala kebutuhan suami, memasak, dan lain-kain. Tentunya tidak termasuk dengan pujian sayang dan kata mesra.


"Aku tunggu di ruang makan," sambung Clara lagi.


Noah hanya berdehem tanpa berkata.


Pagi ini, Clara sudah rapi lebih dulu dari Noah. Ia mandi sekitar pukul lima, karena hari ini berencana untuk mengantar Jou ke sekolah seperti biasanya. Tampilannya yang sederhana tapi modis, tentunya sempat membuat Noah curi-curi pandang.


Ketika Clara sudah pergi, otak Noah mulai berkeliaran membayangkan tampilan Clara hari ini. Tubuhnya yang tinggi dan langsing, tentu bisa dikatakan seksi. Bulatan belakang yang menonjol karena dress span ketat, berhasil membuat Noah menelan saliva. Untuk bagian depan, Noah tidak terlalu memperhatikan karena tertutup blazer berbahan jins.


"Aku tidak akan tertarik padanya!" tepis Noah seketika. "Aku harus menahan diri. Selama ini aku juga bisa kan?"


Noah bergidik cepat lalu segera mengenakan pakaiannya.


"Ini hanya kekaguman sesaat naluri priaku. Ya, kupikir begitu." Noah terus saja mengelak apa yang sedang ia rasakan saat ini ketika berdekatan atau melihat Clara.


Noah sudah siap, di ruang makan Clara sudah lebih dulu menikmati sarapannya bersama Jou yang tentunya kini sudah berumur 5 tahun lebih.


Jou yang mulai tumbuh, terlihat tidak jauh berbeda pawakan dengan Noah. Bulu mata tebal, kulit putih, rambut coklat dan mata biru. Apa yang dimiliki tubuh Noah sepertinya diturunkan pada Jou.


"Mom, hari ini mengantarku kesekolah, kan?" tanya Jou dengan mulut penuh roti.


Clara mengusap dagu Jou sambil tersenyum. "Tentu saja, Sayang. Ibu akan sekalian pergi ke butik nenekmu."


Jou terlihat girang lalu kembali melanjutkan menikmati sarapannya. Tidak lama setelah itu, Noah pun datang ikut bergabung untuk sarapan.


"Morning, Dad!" sapa Jou.


Noah hanya membalas dengan senyuman sembari mengusap rambut Jou.


Proses sarapan berlangsung, seperti biasa Jou selalu diam-diam mengamati tingkah ayah dan ibunya yang saling buang muka. Jou heran karena selama ini mereka hanya sedikit bicara bahkan jarang bercanda di hadapannya.


"Apa Daddy mencintai Mommy?" tanya Jou tiba-tiba sambil menatap Noah dan Clara bergantian.

__ADS_1


Clara segera menelan makanannya yang belum terkunyah sempurna, sedangkan Noah berdehem sambil mengusap ujung hidungnya. Mereka berdua terlihat sama-sama salah tingkah.


"Kenapa diam?" Jou kembali berkata.


Dari pada merasa gugup tidak karuan, Clara segera duduk bergeser lebih dekat, kemudian merangkul pundak Jou.


"Tentu saja Daddy mencintai Mommy."


"Benarkah?" Jou menatap binar ke arah Clara. "Tapi, aku sering mendengar Daddy membentak Mommy."


Degh! Clara tertegun, perlahan memutar pandangan ke arah Noah. Karena memang sudah menjadi wataknya, Noah terlihat tidak terlalu menggubris perkataan Jou.


"Sepertinya, Daddy juga tidak mencintaiku," kata Noah lagi yang membuat Clara menjerit kecil.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu, Sayang?" Clara menangkup kedua pipi Jou. "Tentu saja ayah mencintaimu." Clara melirik Noah, berkedip memberi kode.


Bukannya menjawab, Noah malah melengos. Ia meneguk air putih lalu berdiri. "Sudah siang, aku berangkat dulu."


Rasa kecewa Clara pun terlihat jelas, pun dengan Jou. Sudah Clara cermati, sebulan ini sikap Noah acuh malah semakin parah.


"Lihat kan, Mom. Daddy selalu seperti itu. Dia memang tidak mencintai kita berdua." Jou menatap sendu ke arah Clara. "Why, Mom?"


Clara menghela napas lalu semarinya mengusap-usap kepala Noah. Meski merasa teriris, tapi lengkungan senyum di bibir Clara masih terlihat.


Jou tahu ibunya sedang mengalihkan pembicaraan. Di umur yang masih lima tahun, rasa ingin tahu pasti sangat besar. Namun, setiap ingin memaksa meminta penjelasan, Jou selalu mengurungkan niat karena tidak tega dengan ibunya.


Di dalam hati, meski sudah mencona acuh, Clara tetap merasa teriris. Lima tahun sudah perjalan pernikahan ini, tapi masih sama seolah seperti orang asing. Meski sejujurnya mengharapkan sentuhan, Clara tidak mau berharap. Clara sadar sampai detik ini hati Noah masih sulit dijangkau.


"Mommy," panggil Jou yang duduk di jok samping Clara yang tengah menyetir.


"Ya, Sayang. Kenapa?" sahut Clara.


"Kenapa Mommy diam saja? Wajah Mommy terlihat menyedihkan."


Masih sambil fokus menyetir, Clara menjulurkan satu tangannya mengusap pipi Jou. "Mommy baik-baik saja. Cuma agak kelelahan."


Jou mengangguk saja meski ia yakin ibunya sedang memikirkan sesuatu.


Beberapa menit kemudian, mobil pun berhenti di halaman sekolah. Setelah mencium pipi dan punggung telapak tangan sang ibu, Jou segera turun dari mobil. Melalui kaca jendela yang terbuka, Clara melambaikan tangan yang langsung dibalas lambaian tangan juga oleh Jou.

__ADS_1


"Mungkin kau yang membuat Mommy tetap bertahan," gumam Clara sambil memandang Jou yang berlari masuk ke dalam gedung sekolahan.


Tidak lama setelah itu, Clara memutar mobilnya. Begitu sudah berbelok ke arah jalan raya, tiba-tiba seseorang berdiri tetap di moncong mobilnya. Beruntung, Clara terkesiap dan langsung mengerep mobilnya.


Clara membulatkan mata, bibir terbuka menatap seseorang di luar sana. Seorang wanita dengan rambut ikal sepanjang siku lengan, tengah berdiri sambil melentangkan kedua tangan.


"Chloe?" celetuk Clara kemudian.


Di sana, masih di depan moncong mobilnya, kini Clara tahu siapa wanita itu. Seoramg wanita yang sudah lama menghilang dan menghancurkan kehidupannya.


Tok! Tok!


Chloe mengetuk kaca mobil. "Keluar kau!"


Clara mematikan mesin mobil, melepas sabuk pengannya kemudian turun.


"Chloe?" Clara masih tidak percaya kalau wanita yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Cloe.


Di hadapan Clara, sifat angkuh Chloe masih nampak. Ia memasang wajah menyebalkan membuat Clara ingin muntah.


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Clara.


Chloe mendengus lalu menyeringai. "Inikah sambutanmu untukku?"


"Aku tidak berniat menyambutmu," ujar Clara tak kalah acuh.


"Harusnya kau senang aku datang, karena sebentar lagi kau akan terbebas."


Apa maksudnya? Terbebas dari apa? Clara tengah membatin bingung.


"Apa ibu dan ayah tahu kau pulang?" tanya Clara lagi.


Chloe tertawa. "Tentu saja. Mereka bahkan sangat senang melihatku kembali."


Sungguh hati Clara terasa teriris. Lima tahun ini belum bisa menggapai hati Noah, ternyata karena Chloe akan kembali. Mungkin mereka akan segera bersatu kembali.


"Tega sekali mereka," batin Clara.


"Malam ini aku akan datang menemui Noah. Kuharap kau tidak keberatan," kata Chloe sambil menyeringai.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Silahkan saja temui sesuka hati kau


***


__ADS_2