Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Bagian 38


__ADS_3

Satu kecupan berhasil mendarat sempurna, membuat mata terbuka itu berubah membelalak. Clara terpaku diam. Sentuhan bibir Noah seperti sengatan listrik berdaya tinggi. Jika tidak kuat, mungkin akan meleleh dan mati.


Secepat mungkin Clara berkedip. Ia sadarkan diri dari lamunan tidak jelas ini. Clara mendorong dada Noah lalu segera mengelap bibirnya.


"Kenapa?" tanya Noah.


Sial! Suara serak itu terdengar menggoda. Wajah Noah sayu, seolah meminta Clara untuk mendekat.


"Tidak, aku hanya terkejut," kata Clara kemudian.


Noah kembali maju dan kini meraih cepat tengkuk Clara hingga posisi kepala miring ke kiri. Yang Noah lakukan kali ini bujan lagi sebuah kecupan, melainkan lumattan. Serasa tidak ada tenaga untuk melawan, perlahan Clara merasa apa yang Noah lakukan membuatnya enggan lepas.


"Tu-tunggu," kata Clara tiba-tiba sambil mendorong dada Noah lagi. Terlihat, bibir Clara sudah basah dan napasnya terengah-engah.


"Ada apa?" tanya Noah.


"Aku kehabisan napas," lirih Clara.


Noah tidak peduli kalimat itu. Noah justru kembali menghujani Clara dengan ciuman yang lebig buas. Clara yang hanya berbalut handuk, kini merasakan ada sentuhan yang pelan-pelan merayap ke bagian tertentu.

__ADS_1


Kenapa ini? Kenapa aku tidak bisa berkutik? Sentuhan ini … astaga! Apakah aku menikmatinya?


Clara mulai berpikiran kemana-mana, sementara Noah tengah menikmati apa yang saat ini sedang ada dalam genggaman.


Di mana handuk? Bukankah aku harusnya memakai handuk?


Jangan tanya di mana, kain berbulu itu sudah terinjak-injak oleh buasnya perlakuan Noah. Tidak berhenti di situ, tangan kekar milik Noah semakin berani. Clara tidak sanggup jika harus menahannya lagi.


Satu ******* kecil pun lolos begitu saja, membuat hasrat Noah semakin meninggi. Tidak sabar lagi, Noah memutar badan dan mencondongkan badan Clara. Tidak mau kehilangan keseimbangan, Clara dengan cepat mencengkeram bibir wastafel.


Saat Noah akan memulai, tiba-tiba semuanya terasa berhenti. Birahi yang memuncak mendadak hilang seolah baru saja ada angin yang mengempas. Noah termenung, di hadapannya dalam posisi memunggungi, Clara pun merasa heran.


Noah menaikkan resleting celananya lalu keluar begitu saja meninggalkan Clara. Clara yang bingung, perlahan memungut handuk lalu kembali melilitkan pads tubuhnya yang sempat berkeringat.


"Ada apa dengannya?" tanya Clara heran. "Apa yang salah?"


Meski sempat takut dengan tingkah Noah, tapi kini rasa itu berubah menjadi kecewa. Clara sudah siap melakukannya, tapi mendadak Noah berhenti dan pergi begitu saja.


"Apa ada yang salah dengan tubuhku?" Clara bertanya pada dirinya sendiri dari pantulan cermin.

__ADS_1


Noah sudah memakai jubah tidur dan tidak lagi terpikirkan untuk mandi. Noah berjalan cepat menuju ruang baca tidak jauh dari kamarnya.


"Kenapa aku harus berhenti?" Noah meraup wajah lalu berdecak kesal.


Sambil berkacak pinggang, kini Noah mondar-mandir untuk beberapa detik sebelum kemudian terduduk di kursi kayu.


"Aku bahkan begitu menikmatinya. Sial! Kenapa mendadak wajah Chloe muncul?"


Noah terus menggerutu dan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya tengah dirasakannya saat ini.


Noah bukan mengingat Chloe karena masih menyimpan rasa, melainkan karena rasa takut. Noah mendadak berpikir kalau-kalau Clara akan mengecewakannya seperti yang Chloe lakukan.


"Sungguh aku selalu tergoda, tapi rasa takut ini … ah! Aku tidak bisa!" Noah mengacak-acak rambutnya sendiri.


Wajah tampannya nampak frustrasi dan menggeram beberapa kali diikuti hentakkan kaki.


"Sialan! Kenapa kau harus terlihat menggoda


***

__ADS_1


__ADS_2