Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Bagian 31


__ADS_3

Sore harinya, Clara baru teringat kalau kalau besok harus datang ke butik sementara dirinya saat ini sudah mulai rutin bekerja. Di halte bus, Clara duduk menunggu taksi lewat sambil berpikir mencari cara supaya besok bisa datang di tempat keduanya.


"Aku lupa kalau aku kerja, jadi aku setuju saja saat ibu menyuruhku datang ke butik," kata Clara. "Kalau begini aku jadi tidak enak kalau tiba-tiba membatalkannya."


Clara mendesis-desis sembari mengentak-hentakkan kakinya bergantian pada balok paving yang terpasang sepanjang jalan. Clara terus berpikir meski pada akhirnya tidak menemukan cara.


Ponsel mati, mobil ada di bengkel. Sepertinya hari ini adalah kesialan untuk Clara. Clara lupa mengisi daya sejak semalam. Kalau tentang mobil, Clara tidak tahu kenapa sampai mogok.


Clara berdiri lalu mondar-mandir sambil gigit jari. Ia gelisah juga gelisah karena taksi tak kunjung lewat padahal hari semakin sore. Ia takut tidak ada waktu untuk bicarara dengan ibu mertusnya menyangkut hal tadi pagi.


Saat masih mondar-mandir, sebuah mobil sedan berhenti di hadapannya. Clara tahu siapa itu. Pemilik mobil tersebut membuka pintu kemudian turun menghampiri Clara.


"Kau masih di sini?" tanya Jack.


"I-iya," sahut Clara. "Mobilku di bengkel."


"Biar kuantar saja. Ayo!"


"Tidak usah," tolak Clara. "Aku menunggu taksi saja di sini."


"Tidak apa-apa, ayo biar aku antar. Sudah mulai gelap, akan bahaya kalau kau sendirian di sini." Jack terus merayu.


Clara menoleh ke sekitar, jalanan memang mulai gelap. Lampu-lampu jalan bahkan sudah mulai dinyalakan. Belum lagi nuansa mendung yang mengabarkan mungkin saja sebentar lagi akan datang hujan.


"Baiklah. Maaf kalau merepotkanmu," kata Clara.


Clara segera masuk saat pintu sudah dibukakan oleh Jack. Begitu pintu tertutup, Jack melangkah memutari mobil sambil menyungging seringaian. Tidak perlu menunggu lama, Jack pun sudah ikut masuk.


Sepanjang perjalanan, tidak terlalu banyak percakapan. Clara yang sudah lelah seharian memilih diam dan menyandarkan kepala sambil melihat tiang-tiang lampu yang seolah berlarian di luar sana.


"Kalau Noah menikahimu atas dasar cinta, tidak mungkin dia membiarkanmu bekerja," batin Jack.


Rasa ingin memiliki begitu dalam, Jack terus saja mengorek beberapa informasi yang bisa menunjukkan kalau Noah dan Clara hanya menikah karena terpaksa.


"Kenapa kau mau, Clara?" batin Jack lagi sambil sesekali melirik Clara. "Aku aka cari tahu bagaimana kau bisa menikah dengan Noah."


"Dimana kau tinggal?" tanya Jack. "Aku kan belum tahu saat ini."


"Oh, maaf. Aku lupa memberitahumu," sahut Clara yang segera duduk tertegak. "Dipertigaan depan, nanti belok kiri. Di situ perumahan tempatku tinggal," jelas Clara kemudian.


"Oke." Jack melajukan mobilnya lebih cepat.


"Oh iya, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Jack membuka percakapan.


"Boleh. Apa?"


"Kenapa kau mau menikah dengan Noah?"

__ADS_1


Kening Clara berkerut. "Apa maksudmu?"


"Maaf, bukan bermaksud aku ikut campur. Aku hanya bertanya sebagai seorang sahabat saja," jelas Jack supaya Clara tidak salah paham atau marah. "Aku hanya sedikit mendengar gosip di luar sana."


Benar saja. Meski awalnya coba ditutup-tutupi, tapi dengan cepat semua orang akan tahu. Melihat bagaimana pamornya keluarga Noah, akan tidak mungkin jika orang-orang tidak mencari tahu.


"Itu hanya gosip kan," sahut Clara sambil tersenyum.


"Kuharap juga begitu. Hanya saja aku tidak mau kau kenapa-kenapa."


Clara meringis sambil garuk-garuk kepala. "Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Semua baik-baik saja kok."


Bertepatan dengan jawaban Clara, mobil sudah memasuki kompleks perumahan.


"Yang mana rumahmu?" tanya Jack.


"Rumah dengan cat warna biru dan gerbang warna hitam di urutan ke tujub dari jalan masuk kompleks."


Sampailah mereka di depan gerbang rumah. Clara segera melepas sabuk pengamannya lalu beranjak turun. Clara berjalan ke arah sisi lain hingga bertemu wajah dengan Jack yang muncul dari balik kaca jendela.


"Terimaksih sudah mengantarku," kata Clara.


"It's okey!"


Jack kembali menutup kaca jendel lalu mundur untuk memutar balik mobilnya ke arah jalan pulang. Sementara Clara, ia masuk setelah penjaga membukakan pintu gerbangnya.


Clara masuk ke dalam rumah, Noah juga masuk meninggalkan balkon. Noah berdiri di ujung tangga lantai dua dengan kedua tangan terlipat. Wajahnya nampak seram dan tatapannya begitu tajam.


Clara dengan santainya menaiki tangga sambil berdendang tanpa tahu kalau di ujung tangga sudah ada sang suami. Barulah ketika di pertengahan tangga, Clara menyadari keberadaan Noah.


Astaga! Sedang apa dia di sana? Kenapa wajahnya sangat mengerikan.


Mulut Clara yang semula berdendang, kini sudah mengatup rapat. Kedua kaki yang berjanlan cukup lincah, kini melambat dan bergetar.


Meski langkahnya begitu lambat, detik-detik berikutnya Clara pun sampai di hadapan Noah. Rasa takut ada, tapi Clara coba bersikap biasa saja.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Clara. Wajahnya ia buat semanis mungkin barangkali rupa seram Noah akan meluntur.


Cih! Kenapa wajahnya ia ubah menjadi imut seperti itu. Dasar sialan!


Noah memaki-maki di dalam hati. Rasa penasaran sekaligus cemburu yang mendorong ia ingin marah. Noah yakin yang mengantar Clara tadi adalah seorang pria.


"Kenapa baru pulang?" tanya Noah dengan nada menyalak.


Meski takut, Clara mencoba setenang mungkin.


"Maaf, mobilku kan di bengkel, terus ponselku mati. Aku hampir satu jam menunggu taksi di halte."

__ADS_1


Noah mencibir tidak percaya mendengar penjelasan Clara.


"Tidak ada taksi, atau kau berniat pulang dengan orang itu?"


"Ha?" Clara mengerutkan dahi. "Orang yang mana?"


Noah berdecak. "Mana lagi kalau bukan orang yang mengantarmu tadi."


"A-apa?" Clara melompong tanpa suara.


Jadi, Noah tahu kalau aku pulang diantar seseorang?


"Siapa tadi yang mengantarmu?" tanya Noah lagi sambil menyolot.


"I-itu? Itu bosku. Tadi …"


"Pria atau wanita?"


Clara menggigit bibir mulai ketakutan.


"Pri-pria."


"Astaga!" Noah menghela napas lalu meraup wajahnya sendiri. "Kenapa kau mau. Kau itu sudah bersuami. Tidak baik satu mobil dengan pria lain."


"Dia hanya mengantarkanku saja. Kami juga tidak bangak megobrol tadi."


"Alasan!" sembur Noah. Rasa cemburu memuncak, tapi Noah enggan mengakuinya. Alhasil ia lampiaskan dengan marah-marah.


Kenapa dia jadi sewot begitu sih! Aku kan cuma diantar pulang. Apa yang salah?


Salah, karena Clara tidak tahu kalau Noah sedang cemburu.


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Clara dengan wajah sendu.


****! Apa lagi itu? Dia selalu memamerkan wajah kucing padaku.


Noah malah menjadi frustrasi sendiri jika terus-terusan menatap Clara.


"Bagaimana aku bisa percaya kalau kau bisa semobil dengan pria lain?" Noah masih meluap-luap.


"Aku sudah menolak tadi, tapi karena aku takut terlambat pulang akhirnya aku mau diantar bosku pulang."


Noah terdiam. Ia mulai berpikif tentang suasana gelap di luar sana. Kalau Clara terus menunggu taksi di halte terus, bisa jadi sampai sekarang Clara belum ada di rumah.


"Baiklah, kali ini aku maafkan. Besok, kau telpon aku atau minta Pak Rey untuk mengantar dan menjemputmu."


Clara mengangguk nurut.

__ADS_1


***


__ADS_2