Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Bagian 29


__ADS_3

Acara bubar sekitar pukul sebelas malam. Karena arah menuju rumah tidak searah, Clara dan Noah memilih naik taksi online. Sementara Tuan rumah, kini sudah meninggalkan tempat pesta menuju kamar masing-masing.


Setelah selesai berganti pakaian, Jack meninggalkan kamar. Ia turun menuju dapur saat merasakan tenggorokannya begitu kering. Sepanjang pesta berlangsung, Jack sama sekali tidak menikmati acaranya. Ia terus saja memikirkan Clara yang ternyata sudah menikah dengan Noah yang tak lain juga sahabatnya semasa kecil.


Elle sebenarnya sedari tadi sudah mengamati kegelisahan Jack selama pesta berlangsung. Diam-diam Elle juga melihat cara Jack yang terus curi-curi pandang ke arah Clara.


Elle berniat keluar dari kamar untuk menemui Jack. Elle lebih dulu memakai jubahnya untuk mengurangi hawa dingin, kemudian pamit keluar pada sang suami yang hendak tidur lebih dulu.


"Ibu," panggil Jack saat melihat ibunya melenggak menuju tangga.


"Hi, Jack. Kau belum tidur?" sahut Elle.


"Belum, aku minum sebentar tadi. Ini sudah mau ke kamar lagi. Ngomong-ngomong ada apa?" tanya Jack.


Elle menarik jubahnya lebih ke depan hingga menutupi bagian dada. Setelah itu ia mengajak Jack duduk do sofa ruang tengah.


"Ada apa sih, Bu?" tanya Jack heran.


"Tidak ada apa-apa, ibu hanya ingin tanya sesuatu saja," jawab Elle.


"Tentang apa?"


"Clara."


"Clara?" Jack menaikkan kedua alisnya dan bibirnya terbuka sekian detik usai berucap. "Ada apa dengan Clara?" tanya Jack kemudian.


"Apa Clara istri Noah yang sering kau ceritakan pada ibu?" tanya Elle.


Jack terlihat bingung sendiri dan gugup. Selama ini ia selalu menceritakan kedekatannya dengab siapa pun pada sang ibu, termasuk mengenai asmara. Terakhir kali Jack bercerita kalau dirinya akan kembali menemui Clara usai pulang dari negara seberang. Dan Jack tidak menyangka kalau Tuhan mempertemukannya secara tidak disangka-sangka.


"Kenapa diam?" Elle meraih tangan Jack. "Apa benar?"


Jack menatap sendu wajah ibunya. Ia seolah ingin mengadu kalau hatinya sedang merasakan patah hati.


"Iya, Bu. Clara itu yang selalu kuceritakan," jawab Jack.


Helaan napas terdengar dari arah Elle. Dia bisa merasakan bagaimana harapan Jack yang sudah hancur.


"Ibu tahu kau mencintainya, tapi sekarang dia sudah menjadi milik orang lain," kata Elle. "Kau mungkin harus merelakan."


"Oh iya, Bu. Apa ibu tahu gossip tentang pernikahan Noah." Jack mengalihkan pembicaraan.


"Apa maksudmu?"


"Kudengar, Noah kekasih kembaran Clara. Mereka sudah lama berpacaran. Tapi mereka gagal nikah karena Chloe harus pergi. Aku baru tahu kalau gossip itu menyangkut Clara dan Chloe."

__ADS_1


"Lalu?"


Jack berdecak. "Jadi ibu tidak tahu kalau mereka dipaksa menikah. Maksudku, Clara dan Jack dipaksa menikah karena ada bayi diantara mereka. Bayi hasil Noah dan Chloe."


"Oh ya!" Elle membelalak sempurna. "Dari mana kau tahu semua itu?"


"Aku dan Betrand bertemu di Singapura. Karena Betrand tahu aku teman Noah, jadi dia menceritakan sebagian apa yang terjadi dengan pernikahan Noah."


Elle manggut-manggut sambil mengusap dagu. "Lalu, kau mau apa dengan semua itu?"


"Ibu, itu artinya aku masih ada harapan untuk bisa mendapatkan Clara." Jack berbicara dengan wajah sumringah.


"Apa maksudmu, Jack?" Elle melepas genggaman Jack dengan cepat. "Kau jangan aneh-aneh."


"Apanya yang aneh, Bu?"


"Jangan bilang kau akan merusak hubungan mereka? Cinta bukan seperti itu Jack!"


Elle sudah berdiri dan memasang wajah kecewa pada Jack.


"Tenang dulu, Bu." Jack meraih tangan ibu dan memintanya duduk kembali. "Bukan seperti itu maksudku."


"Lalu apa?"


Jack tidak menjelaskan apapun selain menunjukkan senyuman penuh arti. Rlle hanya berharap Jack tidak berbuat aneh dan macam-macam.


Glen pergi belajar ke luar negri usai pernikahan Clara dan Noah berlangsung.


Selama ngobrol panjang lebar dengan Glen, Clara tidak tahu kalau ternyata diam-diam Noah menguping. Clara ngobrol di sambil duduk di balkon di temani secangkir cokelat hangat.


Sekitar satu jam berlalu, Clara masuk ke dalam. Ia menutup pintu kaca dan menarim tirainya hingga tertutup sempurna.


"Apa tidak ada hari lain?" cibir Noah saat Clara berjalan ke arah meja sofa untuk meletakkan cangkirnya yang sudah kosong.


Clara pikir Noah sudah tidur sedari tadi. Karena saking fokusnya menatap layar ponsel, Clara sampai tidak menyadari Noah sudah menatapnya dari tadi.


"Apa maksudmu?" tanya Clara saat sudah meletakkan cangkirnya.


"Ini sudah malam, tidak bisakah kau menelpon seseorang besok saja?"


Clara mengatupkan bibir membentuk garis lurus.


"Kau membuatku tidak bisa tidur!" lanjut Noah.


"Maaf, aku hanya rindu adikku. Sudah beberapa minggu ini kami tidak saling berhubungan," jelas Clara.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi kau bisa kan menunggu hari esok?" Noah terus mendesak.


"Iya, maaf. Aku salah." Wajah Clara terlihat sendu.


"Kemarilah!" perintah Noah.


Dari cara memanggil dan menatap, Clara sudah merasa ngeri sendiri. Ia merasa nyawanya seolah sedang terancam oleh suaminya sendiri.


"Em, kau tidur saja dulu. Aku belum ngantuk," kata Clara sambil menggaruk tengkuk.


"Kau mau membantah?" Tatapan Noah semakin terlihat menajam.


"Bu-bukan begitu. Aku, aku hanya belum me-"


"Aku bilang kemari!" tegas Noah. "Biasakan jangan membantahku!"


Clara terhenyak hingga tubuhnya terjungkat kaget. Kedua pundaknya bahkan sampai terangkat dan mulai merinding.


"Clara, KEMARI!" Kalimat itu semakin terdengar penuh penekanan.


Tiada pilihan dan tidak mungkin bisa menghindar, Clara perlahan mendekat.


"Cepat!"


Clara terjungkat lagi. "I-iya, aku datang."


Clara mempercepat langkahnya lalu segera naik ke atas ranjang. Tubuh Clara mulai panas dingin karena takut dengan Noah. Disaat pikiran buruk mulai berkeliaran di kepala, Noah yang Clara kira akan memarahinya justru tiba-tiba merangkul Clara dan menjatuhkan diri di atas ranjang.


Noah membenamkan kepala Clara dalam pelukan.


"Temani aku tidur," kata Noah. "Kau tahu aku sudah terbiasa tidur dipeluk sekarang kan?"


Astaga! Apa ini mimpi lagi? Clara membeku dingin dan tidak bisa berkutik. Kalau ini mimpi, pelukan ini tidak akan begitu terasa hangat.


"Kupikir kau akan memarahiku," kata Clara dalam umpatan di dada Noah.


"Memang," sahut Noah sambil menunduk menyusuri wajah Clara yang mendongak.


"Berhentilah menakutiku!" hardik Clara sambil memukul dada Noah.


Noah lantas sigap meraih tangan Clara dan melotot.


"Maaf, maaf, aku tidak bermaksud." Clara menciut lagi.


Sejujurnya Noah ingin tertawa melihat bagaimana raut wajah Clara saat ini. Saat mendengar Clara merengek manja, saat itulah Noah merasa betah bersama Clara.

__ADS_1


Semua terasa berbeda dengan semasa bersama Chloe dulu. Noah terus menyadari akan hal itu.


***


__ADS_2