Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Bagian 43


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh, Clara kembali ke gedung sekolah untuk menjemput Jou. Dalam perjalanan tadi, Clara tidak henti-henti mengingat tentang Chloe yang sudah kembali. Menyangkut Noah, mungkin Clara bisa membiakannya. Namun, jika menyangkut Jou, Clara tentu tidak mau.


Dulu, sewaktu Chloe telpon, ia memang sempat berkata kalau akan kembali. Mungkin inilah jawabannya.


"Mommy!" teriak Jou sambil melambaiakan tangan.


Melihat wajah sumringah itu, Clara hanya bisa terasenyum kecut lalu turun dan berjongkok menyambut Jou yang terus berlari.


Bugh!


Jou pun jatuh dipelukan Clara. Bocah kecil itu meneluk Clara dengan begitu hangat.


"Mommy, aku lapar," kata Jou ketika pelukan terlepas.


"Kita mampir saja ke KFC. Bagaimana?"


Jou mengangguk antusias. Ketika Clara sudah berdiri, Jou tampak memiringkan kepala melihat seseorang yang berdiri di belakang Clara. Miringan kepala dan wajah aneh Jou, membuat Clara jadi penasaran.


"Ada apa, Sayang?" tanya Clara sembari memutar badan.


Betapa terkejurnya Clara ketika tubuhnya sudah berbalik. Kini di hadapannya berdiri lagi sosok kembarannya yang tadi pagi juga sudah menemuinya.


Mungkinkah sedari tadi Chloe menunggu di sini?


Joy yang terlihat bingung, menarik-narik ujung lengan baju Clara. "Mommy, siapa dia? Kenapa mirip sekali dengan Mommy?"


Dengan santainya, Chloe tersenyum seolah sedang mengejek bagaimana Clara akan bertindak.


Saat Clara hendak jongkok untuk memberi penjelasan, Chloe sudah lebih dulu menyerobot. Chloe jongkok menatap Jou sambil tersenyum. Namun, saat Chloe hendak meraih pundak Jou, Jou sudah menyingkir di belakang Clara dan hanya menunjukkan sebagian wajah.


"Tidak usah takut," kata Chloe.


Jou mendongak menatap Clara masih dengan wajah bingung. Clara ingin menjawab, tapi situasinya membingungkan. Jika Clara menjelaskan A, mungkin saja Chloe akan menjelaskan tentang B.


"Sini, Sayang! Nanti kita kenalan." Chloe yang masih berjongkok coba merayu Jou.


"Ayo pulang, Mommy!" Jou yang takut kembali menarik-narik lengan Jou.


"Iya, Sayang. Ayo pulang."


Clara lantas menggendong Jou dan membawa masuk ke dalam mobil. Setelah Jou duduk di jok samping kemudi, Clara kembali lagi menemui Chloe.


"Tolong, jangan buat dia bingung," kata Clara.

__ADS_1


"Memang siapa yang membuatnya bingung?" Chloe balik berkata. "Aku ibu kandungnya. Aku berhak menemuinya."


"Bukan seperti ini caranya. Sebaiknya aku pulang." Clara melengos lalu masuk ke dalam mobil.


Baru saja masuk dan duduk, Chloe mengetuk pintu kaca mobil dari luar. Meski enggan, akhirnya Clara membuka kaca mobilnya.


"Ada apa lagi?"


Chloe berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Ingat, sebentar lagi mungkin kau harus mundur. Tugasmu menikah dengan Noah harus merakhir karena aku sudah kembali."


Perlahan kaca mobil menaik, Clara enggan menanggapi kalimat yang terlontar dari mulut Chloe.


Sepanjang perjalanan, Clara hanya diam saja. Jou yang biasanya banyak omong dan selalu mengajak ibunya mengobrol, kini juga ikut diam. Rasa cinta mungkin sudah tumbuh, tapi belum juga mendapat balasannya, Clara mungkin harus kehilangan. Tanpa terasa, buliran bening mulai menetes. Tidak mau sampai Jou tahu, Clara segera mengelapnya.


Sampai di rumah, Clara segera masuk kamar. Ia ingin berdiam diri hari ini sampai malam datang. Clara saat ini duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Angin sore hari yang berembus, membuat tubuhnya terasa dingin.


"Apa mereka akan bersatu lagi?" gumam Clara. "Tapi aku sudah mencintainya. Inikah yang membuat dia akhir-akhir ini cuek? Karena kekasih lamanya datang lagi?"


Clara terus saja terbayang-bayang hal tersebut. Pagi tadi memang Noah begitu acuh. Semua terjadi sudah satu bulan ini. Mulanya semua terasa baik-baik saja, bahkan Noah juga terkadang menunjukkan rasa perhatian. Namun, mendadak cuek lagi pun dengan Jou yang tam lain adalah putranya sendiri.


"Harusnya aku senang jika dia kembali. Aku akan bebas, kan? Aku bisa kembali lagi mengejar mimpiku. Tapi …."


Clara sudah tidak bisa menahannya lagi. Air mata itu tumpah membasahi wajahnya hingga menitik menyentuh kedua tangan yang saling menggenggam di atas pangkuan.


Dari kejauhan, seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar tengah memantau Clara dari balik pintu kaca menuju balkon. Pundak Clara yang bergerak-gerak naik turun, membuat rasa penasaran muncul.


Noah meletakkan tas kerja dan melepas jasnya di atas ranjang. Setelah itu, dengan langkah perlahan dan penuh rasa penasaran, Noah berjalan mendekat.


Berjalan semakin dekat, kini Noah bisa mendengar ada suara isak tangis di sana.


"Clara," panggil Noah pelan.


Suara pelan itu lantas membuat Clara membelalak. Ia segera mengusap air matanya dengan cepat, ia berdehem satu kali untuk mempersiapkan diri, barulah kemudian menoleh.


"Ka-kau sudah pulang?" tanya Clara gugup.


Dengan satu alis terangkat, Noah bertanya. "Kau menangis?"


Clara spontan gelagapan dan salah tingkah. "Ti-tidak, aku tidak menangis. Aku hanya, hanya sedang … em …"


"Sudahlah, tidak perlu ditutup-tutupi," potong Noah.


Noah penasaran dan tidak tega, hanya saja gengsinya yang begitu tinggi masih menahanya untuk saat ini.

__ADS_1


"Ada masalah?" tanya Noah lagi.


Perlahan-lahan raut wajah Clara membuat Noah tidak tahan untuk tidak bertanya ataupun iba.


"Tidak. Aku hanya sedang rindu orangtuaku," akhirnya Clara menemujan jawaban asal yang masuk akal.


"Aku siapkan kau air hagat dulu," kata Clara kemudian. Ia hanya sedang coba menghindar.


Begitu Clara menghilang masuk ke kamar mandi, Noah kembali bertanya-tanya.


"Aku tidak yakin dia merindukan orang tuanya," kata Noah lirih. "Aku tahu bagaimana sifat orangtuanya yang begitu pilihkasih. Jadi, untuk apa mereka dirindukan."


"Airnya sudah siap," kata Clara tiba-tiba hingga membuat Noah sempat berjinjit.


"Hemm." Hanya itu jawaban Noah.


Noah melenggak masuk ke dalam kamar mandi, sementara Clara menyiapkan baju ganti.


Tok! Tok! Tok!


Clara mendongak seketika, saat mendengar ketukan pintu. Setelah meraih satu setel baju tidur dan meletakkan baju itu di atas nakas, Clara meninggalkan ruang ganti.


"Ada apa, Mela?" tanya Clara ketika pintu sudah terbuka.


"A-ada, ada tamu di bawah."


Clara mengerutkan dahi tatkala Mela berbicara dengan suara terbata-bata.


"Tamu siapa?" tanya Clara kemudian. Diam-diam, hati Clara mulai tidak nyaman.


"Ada apa?" Noah muncul dan ikut menimbruk. "Siapa yang datang?" tanya Noah lagi.


"I-itu, Tuan. Di bawah, ada … ada …" Bibir Mela masuh terasa kelu untuk berbicara.


Kini Clara yakin ada sesuatu di bawah sana, tebakan demi tebakan mulai muncul di kepalanya.


"Mungkinkah …" tidak menyelesaikan kalimatnya, Clara langsung menyerobot lari begitu saja.


Mela yang sempat terserempet tubuh Clara, segera berlari menyusul.


"Tamu siapa sih!" celetuk Noah heran. "Kenapa mereka buru-buru sekali." Noah tak mau ambil pusing. Ia angkat bahu lalu melengos masuk ke ruang ganti.


***

__ADS_1


__ADS_2