Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Bagian 30


__ADS_3

Semakin hari, Clara merasa hubungannya dengan Noah semakin terasa dekat. Obrolan dan gurauan bahkan kini semakin sering dilakukan. Setiap pagi, keduanya bahkan mulai sering bercanda dan tertawa. Noah yang selalu bermasalah dengan kancing kemeja dan dasi, kini sudah tidak lagi merasa kerepotan karena selalu dibantu Clara.


Di sisi lain meninggalkan kedekatan Noah dan Clara, di negara asing di mana tinggal sekarang, Chloe nampak gelisah. Setelah mendapat kiriman sebuah video dari Mia. Saat acara sesi dansa dimulai, ternyata yang diam-diam merekam adalah Mia.


"Kenapa mereka semakin dekat?" cerocos Chloe sambil mondar mandir. "Aku tidak akan membiarkan mereka terus berdekatan," lanjutnya lagi.


Chloe behenti mondar-mandir dan beralih melangkah ke arah ranjang. Dengan penuh emosi, Chloe menjambret ponselnya lalu menelpon Mia.


"Cari tahu lagi tentang mereka!" perintah Chloe tanpa basa-basi saat panggilan sudah terhubung.


"Tenang, kau tidak usah buru-buru," sahut Mia.


"Aku tidak tahan lagi kalau seperti terus. Aku tidak mau kalau mereka saling jatuh cinta!" Suara Chloe yang lantang terasa memekik gendang telinga.


Mia yang merasakan telinganya berdenging, segera menjauhkan ponselnya untuk sesaat.


"Hei, kau harus ingat." Mia kembali menempelkan ponsel di telinga. "Kau harua fokus pada tujuanmu di sana."


Chloe menghela napas lalu perlahan duduk di tepi ranjang. Chloe mengusap dada sembari mengatur napasnya supaya emosinya mereda.


"Kalau begini aku harus bagaimana?" tanya Chloe. Saat ini suaranya sudah tidak terdengar menyalak lagi.


"Kau tidak usah khawatir. Aku yakin Noah tidak mungkin mencintai Clara. Kalaupun iya, itu karena Noah pikir Clara adalah dirimu."


Benar juga. Bagaimana Chloe bisa tidak kepikiran begitu? Pelan-pelan bibir Chloe menyungging senyum.


"Ada benarnya juga," kata Clara. "Aku sama sekali tidak kepikiran hal itu."


"Makanya, kau fokus saja di situ. Kau anggap saja Clara sebagai perantara supaya Noah tidak melupakanmu."


Kini Chloe bisa merasa lebih lega setelah berbicara dengan Mia. Chloe mulai yakin kalau Noah memang tetap akan mencintai dan menunggunya sampai kembali.


"Kau mau sarapan apa?" tawar Clara sambil menunjukkan beberapa menu yang tersedia di atas meja.


Noah menarik satu kursi lalu mendudukinya. "Ambilkan saja sop. Hari ini aku tidak ingin daging."


"Oke." Clara mulai mengambil mangkok lalu ia ambil beberapa centong sayur.


Mereka berdua lantas sarapan bersama. Dari tempat lain, Bibi Tere yang sedang memberikan susu untuk Jou terlihat tersenyum saat melihat dua majikannya semakin akur.


Baru saja mereka selesai sarapan, Lily datang mengejutkan mereka.

__ADS_1


"Pagi, Sayang," sapa Lily pada keduanya.


"Ibu?" ceplos Noah. "Sedang apa di sini?" tanyanya kemudian.


"Ibu mau menemui Clara," jawab Lily.


"Ada perlu apa, Bu?" tanya Clara. "Apa ada yang penting?"


Lily duduk di kursi yang sebelumnya Noah duduki. "Lumayan penting."


"Kalian ngobrol saja. Aku berangkat dulu," potong Noah.


Clara mendekat lalu membenarkan posisi dasi Noah yang bergeser. "Hati-hati."


Melihat kedekatan mereka berdua, Lily tidak bisa jika tidak tersenyum bahagia.


"Aaa, kalian manis sekali," celetuk Lily dengan mata binar dan menyangka dagu.


Menahab rasa malu, Clara pun memalingkan wajah. Pun dengan Noah. Noah bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Rencananya Noah ingin memberi satu kecupan untuk Clara, tapi urung karena ada sang ibu.


"Apa ibu mau sarapan?" tawar Clara pada ibu mertuanya.


Clara segera duduk. Ia sudah begitu penasaran dengan maksud kedatangan ibu mertua.


"Apa kau masih ingin menjadi designer?" tanya Lily


Clara mengerutkab dahi mendapat pertanyaan tersebut. "Apa maksud ibu?"


"Ibu tahu kau ingin sekali menjadi seorang designer …"


Clara mengangguk-angguk.


"… ibu tahu itu impian terbesarmu."


Clara mendadak sendu jika mengingat akan hal itu. Sebuah mimpi terbesar yang harus Clara lepaskan karena harus menikah secara mendadak waktu itu.


"Ibu minta maaf karena sudah memaksamu untuk menikah dengan Noah. Ibu dan ayah tidak mau kalau Noah terus terpuruk karena ditinggal Chloe. Ibu tahu, ibu terlalu egois karena memaksa keluargamu untuk menggantikanmu yang menikah dengan Noah."


Clara yang mulai mengerti akan hal tersebut, harusnya merasa marah. Ibu mertua yang selama ini baik pada Clara, ternyata penyebab mengapa bisa terjadi penikahan. Namun, melihat bagaimana cara Lily berbicara, Clara merasa tidak tega jika harus marah.


"Kenapa ibu melakukan ini padaku?" tanya Clara.

__ADS_1


Lily memutar posisi duduknya menghadap ke arah Clara. Kemudian Lily meraih dan menggenggam tangan Clara dengan erat.


"Ibu hanya tidak mau Noah sampai menikah dengan Chloe. Sejujurnya, ibu senang saat mendengar Chloe pergi jauh. Tapi itu tidak menyangka kalau ternyata sudah ada Jou di antara mereka."


Clara mendengarkan dengan baik. Rasa sakit dan kecewa di bulan-bulan yang lalu, memang belum bisa Clara lupakan sepenuhnya. Berkorban dan tak ada yang mengerti, itu juga termasuk bagian tersakit untuk Clara. Namun, perlahan-lahan sejujurnya Clara mulai menerima pernikahan ini.


"Ibu," panggil Clara pelan.


"Ya, sayang."


"Kenapa ibu tidak menyukai Chloe?" tanya Clara. "Bukankah Noah dan Chloe saling cinta?"


"Ya, memang. Kalau saja Noah tahu bagaimana kelakuan Clara di luar sana, ibu yakin Noah tidak akan pernah mencintai Chloe."


Kelakuan yang mana, Clara masih tidak paham. Mungkin yang dimaksud kelakuan buruk, tapi apa itu Clara ragu untuk bertanya.


"Kalau begitu, kenapa ibu justru menyuruh Noah menikah denganku. Aku dan Clara bukankah sama?"


"Kalian memang sama. Sama rupa, tapi bukan sama sosl sifat dan sikap. Ibu memintamu menikah dengan Noah bukan tanpa alasan, Clara. Ibu berharap kau bisa membuat Noah melupakan Chloe dan hidup bersamamu saja."


Mendapat dukungan dari ibu mertua, tentunya adalah hal yang diinginkan pada setiap menantu. Clara hanya merasa heran mengapa Lily bisa memilih dirinya untuk menjadi istri Noah .


"Oh iya. Sepertinya kita sudah ngobrol terlalu jauh." Lily menghela napas dan tertawa kecil. "Ibu sampai lupa dengan tujuan datang ke sini."


Clara ikut tertawa. "Kalau begitu kita alihkan topik sekarang. Aku bahkan hampir menangis karena ibu."


"Oh sayang, maafkan ibu." Lily mengusap pipi Clara. "Ibu hanya tidak tahan jika menyembunyikan hal ini terus-terusan darimu."


Ya Tuhan, andai saja ibu bisa bersikap seperti ini padaku, aku akan sangat bahagia.


Dari sikap Lily pada Clara, Clara bisa membedakan bagaimana rasa hangatnya. Ibu tidak pernah begitu perhatian, tapi ibu mertua dengan tulusnya begitu bersikap baik pada Clara.


"Besok, kau datang ke butik ibu," kata Lily.


"Memang ada apa lagi, Bu?"


"Kau datang saja, besok juga kau akan tahu."


Sebelum pamit pulang, Lily berbicara lagi. "Jangan lupa bawa beberapa koleksi gambarmu. Ibu ingin melihatnya."


***

__ADS_1


__ADS_2