Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
chapter 16


__ADS_3

Bab 16


Sekitar pukul enam pagi, yang terbangun lebih dulu adalah Noah. Entah karena kedinginan atau merasa nyaman, Clara masih begitu nyenyak tidur dalam pelukan Noah.


Dalam posisi tidur miring dan kepala Clara berada di lengan Noah, diam-diam Noah mulai mengamati wajah cantik milik Clara. Noah sibakkan rambut poni itu, hingga seluruh wajah nampak jelas.


"Aku akan coba," kata Noah. "Setidaknya aku tidak mau disebut wanita kejam."


"Emmh!" Clara melengkuh membuat Noah segera pura-pura tertidur lagi.


Clara hampir saja menggeliat seenaknya dan menguap, tapi begitu sadar posisinya ia urungkan niat tersebut. Clara kini mengatupkan dua bibirnya dan tenang sesaat.


"Jam berapa ini?" batin Clara.


Matahari di luar sana memang sudah terlihat terang menyorot gorden tipis yang menggantung di jendela kaca.


Begitu sudah tahu jam berapa saat ini dari jam dinding, Clara saat ini tinggal bingung cara bangun dari tempat tidur. Bukan tidak tahu, Clara hanya takut Noah terbangun.


Menarik napas dalam-dalam, kemudian Clara embuskan secara perlahan. Clara pun mulai mengangkat lengan Noah yang berada di atas perutnya. Ketika sudah terangkat dan akan Clara geser, tiba-tiba mata Noah terbuka. Clara yang sangat terkejut, terhenyak hingga mundur dengan cepat.


"Aw!"


Alhasil Clara terjatuh dari atas ranjang.


Bukannya menolong, dari atas ranjang dengan posisi tengkurap dan nergeser ke tepian, Noah menatap Clara dengan wajah seolah sedang mengejek. Clara sendiri saat ini sedang merasa kesakitan di bagian pantattnya.


"Kau sedang apa?" tanya Noah santai.


Clara yang tidak mau terlihat bodoh, segera bangkit. "Aku hanya sedang mimpi panjat pohon."


"Ish! Pantattku sakit sekali," keluh Clara dalam hati.


"Lain kali hati-hati," kata Noah lagi.


Kalimat Noah rasanya tedengar seperti ejekan di telinga Clara.


Sudah tak kuasa menahan malu, Clara berbalik badan memuju kamar mandi. Sementara masih di atas ranjang, Noah malah sedang tertawa cekikikan.


"Wajahnya sangat lucu," ujar Noah.


Saking nikmatnya saat tertawa, tidak terasa buliran bening menyembul dari palik pelupuk mata. Ternyata sudah lama Noah tidak tertawa lepas seperti ini.


"Apa dia sedang menertawaiku?" tanya Clara di dalam kamar mandi. "Menyebalkan sekali dia!"


Clara berdecak kesel sebelum kemudian membasuh wajah dengan air. Setidaknya meski belum mandi, wajah sudah terlihat lebih segar.


Keluar dari kamar mandi, Noah masih terlihat berbaring di atas ranjang. Posisinya tengah bersandar pada bantal yang ditumpuk. Kedua tangannya sedang memegang benda pipih yang menyala, dan dua matanya tenyu fokus pada benda tersebut.

__ADS_1


"Sebaiknya aku siapkan dulu keperluan dia," kata Clara lirih.


Clara masuk ke dalam ruang ganti dan segera menyiapkan pakaian kerja untuk Noah. Ketika Clara sedang mengambil sepatu di rak sudut ruangan, di luar sana Ponselnya tengah berdering.


Dari dalam sini suaranya tidak terlalu terdengar karena memang Clara juga sedang sibuk menyiapkan keperluan Noah.


"Berisik sekali!" hardik Noah ketika ponsel di atas nakas terus berdering dan bergetar.


"Memang siapa yang pagi-pagi menelpon?" Lanjut Noah lagi.


Karena penasaran, Noah pun meraih ponsel tersebut dan meletakkan ponselnya sendiri di atas pangkuan.


"Megan?" kata Noah. "Siapa Megan?"


Ponsel itu kini sudah berhenti berdering. Tidak mau peduli dan tidak ingin tahu, Noah kembali meletakkan ponsel milik Clara di atas rakas. Bertepatan dengan itu, Clara pun muncul dari ruang ganti.


"Apa tadi ponselku berdering?" tanya Clara.


Noah tidak menjawab melainkan hanya angkat bahu. Kalau saja punya sedikit keberanian, Clara ingin sekali memukul wajah yang sok tampan itu. Huh! Nyatanya memang Noah sangat tampan. Clara tidak bisa mengelak akan hal itu.


Saat Clara hampir menggapai ponselnya, Noah lebih dulu berbicara membuat Clara spontan menoleh.


"Siapkan aku air hangat."


"Ya. Tunggu sebentar," jawab Clara. Clara hendak kembali lagi meraih ponsel, tapi lagi-lagi Noah mencegahnya.


"Sekarang!"


"Kau tidak mau?" sungut Noah.


"Bu-bukan, bukan begitu. Aku hanya …"


"Menyebalkan!" hardik Noah.


"Aish!" Clara tiba-tiba mengacak rambutnya hingga terlihat awut-awutan. "Sadarkah selama ini kau itu yang menyebalkan!"


Noah sudah membeku dengan mata membulat sejak Clara mendesis dan mengacak-acak rambut.


"Apa-apaan kau ini!" salak Noah. "Kau membentakku ya!"


"Ah sudahlah!" Clara mengibas tangan kemudian berlalu menuju kamar mandi.


"Astaga!" Sampai di dalam kamar mandi, Clara merasakan kedua kakinya gemetaran. "Bagaimana aku bisa berbicara setinggi itu padanya?"


Clara bersandar pada dinding di samping bak mandi. Deru napasnya terasa naik turun tidak karuan dan jantungnya berdegup lebih kencang.


"Jangan-jangan nanti dia akan memarahiku?" Clara kembali menggigit bibir.

__ADS_1


Kali ini Clara dengan cepat bergidik. "Tidak, tidak! Dia tidak akan marah. Ya, harusnya begitu."


Clara mulai memutar kran air untuk mengisi bak mandi. Harusnya dia fokus, tapi karena kembali merasa was-was jika Noah marah sungguhan, Clara sampai tidak sadar tangannya bergeser mendekati lubang kran air yang panas.


"Aw!" Jerit Clara saat itu juga.


Clara buru-buru menarik lengannya dan karena saking panasnya menyentuh tangan, Clara sampai mundur menabrak dinding.


"Ada apa?" Noah muncul begitu mendengar jeritan Clara.


"Tidak ada apa-apa!" Clara dengan cepat menyembunyikan tangannya.


Noah yang curiga menatap Clara dengan tajam, lalu pandangannya turun pada sikap Clara yang menempel pada dinding menyembunyikan tangan.


"Uh! Rasanya perih, panas." Clara sedang merintih di dalam hati.


"Kemarikan tanganmu!" pinta Noah.


"Sudah kubilang tidak ada apa-apa. Itu air untuk kau mandi sudah siap, mandilah!" jawab Clara.


Clara menepi dan ingin segera meninggalkan kamar mandi, tapi dengan cepat Noah menghalanginya.


"Astaga!" pekik Noah saat mendapati tangan Clara sudah memerah di bagian ibu jari dan merambat ke jari telunjuk. "Kok bisa?" kata Noah lagi.


"Biarkab saja. Aku tidak apa-apa," kata Clara.


"Apanya yang tidak apa-apa!" salak Noah yang membuat Clara terkaget dan berjinjit sesaat. "Tanganmu merah!" lanjutnya lagi.


Saking kagetnya dan merasa perih, Clara justru tiba-tiba menangis. Hal tersebut tentunya membuat Noah panik dan segera membawa Clara keluar dari kamar mandi.


"Apa sangat sakit?" tanya Noah saat Clara sudah ia dudukkan di tepi ranjang.


Clara menggeleng.


"Berhentilah menangis. Kau jangan buat aku panik."


Bukannya mereda, tangisan Clara justru menjadi. Tidak bersuara terlalu keras memang, hanya saja air mata itu mengalir dengan begitu derasnya.


"Aku ambilkan es dulu," kata Noah.


"Tidak usah," cegah Clara sambil meraih lengan Noah yang hendak pergi. "Ini hanya luka ringan. Nanti akan sembuh." Clara masih sesenggukan.


Noah jongkok lagi di hadapan Clara. "Kalau begitu kenapa menangis?"


"Ka-kau, kau membentakku tadi. Aku, aku kan takut."


"A-apa?"

__ADS_1


Noah ternganga tidak percaya. Rasa khawatir yang ia rasakan ternyata justru dikira amarah oleh Clara.


***


__ADS_2