Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Chapter 27


__ADS_3

Noah teringat dengan panggilan dari Chloe yang terabaikan. Selama ini Chloe hanya mengirim pesan via email tanpa menghubungi via telpon sekalipun. Entah apa alasannya, Noah tidak terlalu ingin tahu. Cuma, Noah hanya sedikit khawatir jika ternyata menang Chloe sudah kembali.


"Harusnya aku senang jika Chloe kembali, tapi … rasa-rasanya aku tidak ingin lagi bertemu dengannya," kata Noah.


Sepanjang perjalanan pulang, Noah terus saja memikirkan tentan Chloe. Bukan tentang rindu, melainkan rasa kecewa dan sakit yang selama ini Noah kubur. Wanita yang harusnya Noah nikahi dengan tega berpamitan pergi meninggalkan satu putranya yang masih bayi.


Egois! Satu kata yang pantas dilontarkan untuk Chloe.


Ketika masih melamun sambil menyetir, Noah dikejutkan dengan getaran ponsel dari dalam saku. Ibu menelpon.


"Ya, Bu. Ada apa?" tanya Noah saat panggilan sudah tersambung.


"Kau di mana sekarang?" tanya Lily.


"Aku sedang di perjalanan pulang. Kenapa?"


"Datanglah nanti malam ke acara ulang tahun pernikahan Tuan Pablo dan Nyonya Elle."


"Malam ini?"


"Ya."


"Kenapa mendadak?" sungut Noah.


"Maaf, ibu lupa memberitahumu sejak kemarin. Ibu sedang banyan pekerjaan di butik."


Noah berdecak. "Ya, baiklah! Aku usahakan datang nanti."


"Jangan lupa kau ajak Clara."


Panggilan sudah terputus. Noah membuang napas dan melajukan mobil lebih cepat. Sebenarnya ini belum waktunya untuk pulang, tapi otak Noah sudah merasa penat. Jadi ia ingin istirahat sebentar sebelum nanti datang ke acara pesta.


"Clara!" Panggil Jack saat melihat Clara hendak masuk ke dalam lift.


Clara pun menoleh dan urung masuk.


"Ada apa, Tuan?"


Jack terkekeh saat mendengar Clara memanggilnya dengan sebutan Tuan. Rasanya tidak pantas dan terdengar lucu.


"Jangan memanggilku 'Tuan'," kata Jack sesampainya di hadapan Clara.


Clara tersenyum. "Kau bosku di sini, aku harus memanggilmu seperti yang lain.


"Baiklah, terserah kau saja," kata Jack. "Aku hanya ingin mengundangmu ke pesta aniversary orang tuaku. Apa kau bisa datang?"


"Kapan?" tanya Clara.


"Malam ini."


Clara tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak supaya bisa menjawab dengan benar.

__ADS_1


"Em, aku usahakan ya," kata Clara kemudian.


"Ini alamatnya." Jack mengulurkan sebuah kertas bertuliskan alamat.


Clara menerimanya sambil tersenyum.


Selesai berbicara dengan Jack, Clara mendapat panggilan dari ibu mertuanya. Beliau meminta Clara segera datang ke butik. Berhubung waktu kerja sudah berakhir, Clara segera menuju alamat yang dikirimkan oleh ibu mertuanya.


Sekitar pukul tiga sore, Clara sampai di sebuah butik berlantai dua di pinggiran kota. Bangunan bagian depan yang terbuat dari kaca, menampilkan beberapa gaun dan pakaian yang membungkus sempurna pada manekin yang bergaya.


Semua yang dipamerkan di etalase tersebut, membuat Clara begitu terkagum-kagum sampai tidak sadar kedua tangannya sudah menempel pada kaca tersebut. Dua bola matanya membula dengab bibir terbuka, jelas membuktikan kekaguman Clara dalam dunia Fashion.


"Clara!" tegur Lily begitu menyadari sang menantu sedang merekat pads dinding seperti seekor cicak.


Clara yang kepergok segera berdehem dan merapakan diri. "Hai, Bu. Maaf, aku hanya sedang melihat-lihat saja."


Lily tersenyum. "Kau kan bisa melihat dari dalam. Ayo masuk!"


Clara nyengir lalu ikut ibu mertuanya masuk. Tidak jauh berbeda dengan di luar, di dalam sini malah Clara semakin ternganga melihat begitu banyaknya gaun dan beberapa model baju lainnya hang tertata rapi dalam gantungan dan manekin.


Clara sampai berputar mengagumi tempat penuh baju ini. Dan satu lagi, bukan hanya baju saja yang tersedia. Tapi juga ada tas, sepatu dan lain-lain lagi. Lily hanya mengulum senyum melihat tingkah Clara.


"Butik ini milik ibu?" tanya Clara.


Lily mengangguk.


Masih dengan wajah penuh kekaguman, Clara melenggak maju mendekati sederetan baju yang tergantung di sana. Beberapa gaun dengan warna berbeda-beda membuat Clara berbinar.


"Kau mau?" tawar Lily.


"Aku?" Clara menunjuk dadanya sendiri dan beralih menunjuk gaun berwarna ungu muda di hadapannya. "Gaun ini?"


Lily mengangguk lagi. "Cobalah!"


Penuh antusias Clara manatik baju tersebut dari gantungan. Namun begitu kedua tangan sudah memegang hangernya, Clara mendadak bermuka datar.


"Kenapa?" tanya Lily.


Clara memeluk gaun tersebut. "Apa tidak apa-apa jika aku coba?"


"Tentu saja tidak. Kalau kau suka, kau bisa memakainya malam ini," ujar Lily.


Clara menatap ibu mertuanya dengan saksama. "Malam ini? Memang malam ini aku ke mana?"


"Apa Noah belum memberutahumu?" tanya Lily.


Clara menggeleng. "Memang ada apa?"


Lily menepuk pundak Clara dengan pelan. "Malam ini, kita akan pergi ke acara pesta Tuan Pablo dan Nyonya Elle."


Clara membulatkan bibir. "Apa aku harus ikut?" tanya Clara kemudian.

__ADS_1


"Tentu saja, kau kan istri Noah. Jadi harus ikut datang."


Clara mengangguk-angguk saja.


"Bagaimana, kau mau coba gaun itu?" tanya Lily.


Clara nampak bingung dan menggaruk-garuk kepalanya. "Tapi aku tidak mampu membayarnya."


Sontak, Lily langsung tertawa begitu keras. Suara tawanya sampai membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Clara yang bingung, hanya meringis tipis dan meliuk-liukkan badan pelan.


Lelah tertawa, Lily segera mengatur napas kemudian kembali menepuk pundak Clara.


"Clara sayang, memang siapa yang menyuruhmu bayar? Kau tinggal memakai saja. Itu kenapa aku menyuruhmu datang ke sini."


Senyum binar di wajah Clara mengembang lagi, Clara semakin girang memeluk gaun tersebut.


"Kau mandi saja di sini, biar kita sekalian berangkat," ujar Lily.


"Memang tidak apa-apa?"


"Tentu tidak. Aku juga akan bersiap-siap, biar nanti ayah dan Noah yang datang menjemput.


Clara bergegas siap-siap. Selesai membersihkan diri, Clara duduk di depan meja rias dengan cermin oval di hadapannya. Clara tentunya sudah duduk mengenakan gaun yang tadi. Kini, Lily yang akan merias wajah Clara.


Sekitar seperempat jam berlalu, Clara sudah terlihat begitu anggun. Riasan tipis yang Lily berikan, membuat Clara terlihat natural dan cantik.


"Terimakasih, Bu," kata Clara sambil menatap dirinya dari pantulan cermin.


Lily mengangguk. "Kau tunggulah di sana. Ibu akan bersiap."


Clara beranjak duduk di sebuah sofa berbentuk L dengan satu meja bulat di tengahnya.


Tidak lama setelah Clara duduk, seseorang datang membuat Clara sontak berdiri. Mereka saling pandang dalam pikiran masing-masing.


"Kenapa dia begitu cantik?" batin Noah kerika menatap Clara.


Clara juga sedang membantin. "Kenapa dia menatapku begitu? Apa ada yang aneh?"


"Sudah, tidak usah dipandang begitu. Nanti liurmu menetes, Noah," ledek Lily yang tiba-tiba muncul.


Noah dan Clara langsung membuang muka dan terlihat salah tingkah.


"Di mana ayahmu?" tanya Lily pada Noah.


"Ayah menunggu di mobil."


Mereka segera meninggalkan butik dan menyusul Josh yang sudah duduk di jok kemudi. Josh dan Lily duduk di depan, tentunya Noah dan Clara duduk di belakang.


"Kau cantik," celetuk Noah lirih.


Clara menoleh membalas tatapan Noah tanpa bisa bersuara apapun.

__ADS_1


__ADS_2