
"Kenapa diam? Apa aku salah bicara?" tanya Megan.
Clara tersenyum sambil menggeleng. "Sepertinya Noah masih mengharapkan Chloe."
Megan ternganga dan membulatkan mata kemudian tertawa sambil memukuli pahanya sendiri. Kalimat yang dilontarkan Clara terdengar lucu menurut Megan.
"Dari mana kau bisa yakin akan hal itu?" tanya Megan setelah tawa berhenti.
Clara angkat bahu. "Aku tidak tahu. Aku hanya merasa memang begitu."
Megan lantas menghela napas kemudian berdiri. "Sudahlah, tidak usah berpikiran terlalu jauh. Sesekali kau harus berpikir positif tentang Noah."
Setelah berkata begitu, Megan pergi meninggalkan Clara. Sementara Clara ia masih duduk termenung mengingat lagi kata-kata Megan yang sepertinya tahu isi pikirannya selama ini.
"Mungkin benar kata Megan. Aku memang terlalu khawatir saat ini."
Clara membuang napas kasar lalu meraih secangkir teh yang tinggal setengah dan sudah mendingin. Clara kemudian meneguknya sampai habis.
Baru saja meletakkan cangkirnya, Clara mendapat panggilan telpon dari seseorang. Clara mengambil ponselnya di dalam tas.
"Ibu?" pekik Clara.
Clara segera melihat jam yang tertera di sudut ponselnya. Sudah pukul dua belas siang. Sebelum mengangkat panggilan tersebut, Clara berpikir sejenak.
"Apa ibu memintaku datang sekarang?" batin Clara.
Saat Clara hampil menekan tombol diam berwana hijau, Noah datang. Saat itu juga tak lama ponsel berhenti berdering.
"Siapa yang telpon?" tanya Noah. Noah menutup pintu lalu berjalan mendekati Clara.
"Ibu," jawab Clara.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau angkat?" Noah ikut duduk.
"Aku mau mengangkatnya, tapi …"
Belum selesai bicara, ponsel kembali berdering. Ibu menelpon lagi, Clara pun segera mengangkatnya.
"Halo, Bu. Kenapa?" tanya Clara.
"Kau jadi ke butik jam berapa?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Clara mengangkat kepala menatap Noah.
"Sebentar lagi, Bu."
"Oke. Ibu tunggu ya."
Panggilan berakhir.
"Ada apa?" Tanya Noah penasaran.
"Untuk apa?"
"Aku tidak tahu. Ibu memintaku datang sejak kemarin."
"Kau mau ke sana sekarang?" tanya Noah lagi.
Clara bingung harus menjawab apa.
"Apa boleh?" tanya Clara.
"Hm." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Noah.
__ADS_1
Hm? Apa itu hm? Maksudnya boleh atau tidak?
"Kenapa diam saja?" salah Noah. "Jadi ke butik ibu atau tidak?"
"Eh!" Clara menjerit kecil saat tiba-tiba Noah menyalak.
"Jadi atau tidak?"
"I-iya, iya jadi kok." Clara buru-buru ikut berdiri.
Clara meraih lalu mencangklong tasnya dengan cepat kemudian berjalan cepat menyusul langkah Noah yang sudah beberapa meter menjauh.
"Ish! Kenapa cepat sekali langkahnya!" gerutu Clara sesampainya di parkiran. "Aku jadi ngos-ngosan begini kan?"
Noah sudah sampai di mobil lebih dulu, jadi Noah tidak mendengar Clara yang sedang menggerutu.
Di samping mobil, Noah sudah melipat kedua tangan memandang Clara yang sedang berdiri sambil menekan dada. Terlihat pundaknya naik turun mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Cepatlah!" perintah Noah.
Clara kembali berdiri tegak lalu berlari hingga akhirnya sampai juga di samping mobil.
"Kenapa ngos-ngosan begitu? Kau baru saja lari marathon?" tanya Noah dengan nada meledek.
Dasar sialan! Dia pikir semua ini lucu!
Clara menggerutu di dalam hati, dan tidak mungkin ia tunjukkan ke hadapan Noah.
"Ayo masuk!" salak Noah lagi.
Clara menahan napas dan mengepalkan kedua tangan sebelum akhirnya menghela napas dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
***
Jangan lupa tinggalkan Vote untuk kendukung penulis yaaaa! thanks.