Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
Bagian 41


__ADS_3

Clara berdiri, pun dengan Jack. Saat Clara hendak pamit, Jack mengajaknya bicara lagi.


"Apa boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Jack.


Clara bingung harus menjawab apa. Clara tahu bagaimana Jack, rasanya akan jahat jika dirinya tidak membagikan nomor ponsel.


Ah, hanya nomor ponsel saja. Harusnya sih, tidak masalah.


Clara pun mendikte nomor ponselnya di hadapan Jack.


"Terimakasih," kata Jack.


"Aku juga terimakasih karena kau tidak marah padaku."


Clara sudah ke luar meninggalkan kantor Jack. Seperti biasanya, lagi-lagi Clara lupa mengisi daya ponselnya dan pada akhirnya dia terpaksa menunggu di halte lagi.


Di tempat lain, Clara tidak tahu kalau ternyata sang suami datang menjemputnya di butik. Setelah tahu kalau Clara ke tempat Jack, Noah terlihat kesal. Lily yang tahu Noah marah coba menenangkan, tapi sepertinya Noah tidak peduli.


"Aku menyusulnya sekarang," kata Noah.


"Tunggu, Noah!" teriak Lily dari teras.


Noah tidak peduli dan saat ini sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Noah!" Lily masih saja berteriak memanggil Noah. "Jangan memarahi Clara!"


Teriakan itu tak akan sampai di telinga Noah karena mobil sudah melaju kencang. Di tempatnya berdiri, Lily hanya bisa berharap semoga mereka tidak bertengkar.


Tidak perlu menunggu lama, Mobil Noah sudah berhenti di halaman gedung perusahaan Jack. Namun sayang, tempat ini sudah nampak sepi. Sepertinya juga sudah tutup. Terlihat dari gerbang yang sudah mau ditutup dan memang tidak ada siapapun selain satpam.


"Di mana dia?" gumam Noah. "Apa dia bersama Jack?"


Noah merogoh ponsel di saku jasnya. Ia menekan satu kontak lalu menempelkan ponselnya pada daun telinga. Satu panggilan dan terbukti nomor Clara tidak aktif. Saat itu juga Noah menggeram kesal sambil memukul bundaran setir.


Noah putar balik ke jalan pulang. Sekitar beberap meter mobil melaju, Noah mendapati pemandangan yang menambah rasa jengkel. Noah menghentikan mobilnya dan membuat dua orang di luar sana nampak terkejut.


"Noah," pekik Clara lirih.


Begitu Clara sudah masuk, Noah mendekati Jack.


"Sudah aku peringatkab untuk tidak menemui istriku. Dasar tidak punya malu!" sembur Noah.


Jack ingin melawan, tapi ia tidak mau terlihat arogan di hadapan Clara.


Sampai di rumah, Noah menarik lengan Clara dengan paksa. Bisa dikatakan, yang Noah lakukan saat ini terlihat kasar.


Brak!

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dengan kasar dan saat ini Noah mendorong punggung Clara masuk ke dalam.


"Untuk apa kau menemuinya!" tanya Noah penuh amarah. "Kau wanita bersuami, tidak pantas jika kau berduaan dengan pria lain."


Clara tidak mau Noah berpikir macam-macam.


"Aku datang menemui Jack karena berpamitan tidak bisa lagi bekerja di sana. Saat kau melihat kami berdua tadi, itu aku sedang menunggu taksi. Jack datang menawari tumpangan tapi aku tidak mau."


Clara menjelaskan dengan detail tanpa celah sedikitpun. Tapi bukan Noah kalau bisa percaya segampang itu.


"Aku curiga, jangan-jangan kalian ada sesuatu."


Kalimat itu membuat Clara ternganga. "Apa maksudmu?"


"Bukan apa-apa, aku hanya pikir kau memang tidak punya perasaan. Kau tidak jauh berbeda dengan kembaranmu."


"Stop!" hardik Clara dengan tegas. "Jangan samakan aku dengannya. Di sini yang jahat itu kau! Kau selaly mempermainkan hatiku. Kau seolah baik padaku, merayuku, tapi kau empaskan aku seolah aku tidak memiliki hasrat layaknya wanita normal."


Noah tertegun dengan kalimat lantang tanpa tersendat itu.


"Kau!" Clara mengacungkan jari telunjuk. "Kau yang jahat


***

__ADS_1


__ADS_2