
Noah ikut masuk mengantar Clara masuk ke dalam butik. Noah hanya ingin memastikan kalau Clara benar-benar bertemu ibunya. Tidak lama setelah Noah dan Clara masuk, dari arah lain ibu terlihat berjalan mendekat sambil tersenyum.
"Aku kembali ke kantor," kata Noah.
Clara mengangguk.
"Hai, Sayang," sapa Lily pada menantunya. Lily memberi kecupan di pipi Clara.
"Hai, Bu," balas Clara.
"Kau datang dengan Noah?" tanya Lily. Lily sempat melihat Noah saat berbicara dengan Clara tadi.
Clara mengangguk.
"Shane! Bawakan dua minuman ke ruanganku!" perintah Lily pada karyawannya.
"Yes, Maam!" sahut Shane.
"Ayo masuk!" Lily mengajak Clara ke ruangannya. Sebuah ruang yang luas dengan berbagai macam-macam benda di dalamnya.
Lily mengajak Clara duduk di sofa dekat dengan dinding kaca. Mereka duduk saling berhadapan dengan jarak sekitar lima puluh senti.
"Bukankah Noah harusnya di kantor? Kenapa bisa dia yang mengantarmu ke sini?" tanya Lily.
Wajah Clara berubah datar karena teringat kembai dengan kejadiab pagi ini hingga siang. Noah sungguh membut Clara merasa jengkel.
"Oh, atau kau bekerja di kantor Noah?" tebak Lily.
Clara menggeleng. "Tidak, Ibu."
"Lalu?"
Clara menggela napas, menunduk sesaat memandangi kedua tangannya yang saling menggenggam.
"Ada apa?" tanya Lily heran.
Saat Clara belum sempat menjawab, Shane masuk membawa nampan berisi dua gelas jus mangga dingin. Shane meletakkan nampan tersebut di atas meja, dan setelah itu pamit ke luar.
Obrolan pun kembali berlanjut.
"Kalian bertengkar?" tanya Lily lagi.
Clara kembali menggeleng.
"Hari ini aku tidak kerja, Bu," kata Clara.
Kening Lily berkerut.
"Noah tidak lagi mengijinkanku bekerja," jelas Clara.
"Kenapa? Semuanya baik-baik saja kan?"
Clara mengangguk. Clara ingin tahu bagaimana tanggapan dari ibu mertuanya menyangkut hubungan Noah dan Jack. Apakah sesuai perkataan Megan atau malah sebalikya.
__ADS_1
"Memang di tempat siapa kau bekerja?" tanya Lily mulai penasaran.
"Jack."
"Oh. Apa!" Lily mendadak berteriak membuat Clara terjungkat kaget. Sadar suaranya terlalu keras, Lily buru-buru mengatupkan bibir dan berdehem. "Maaf, ibu hanya kaget."
Pantas saja Lily merasa tidak asing dengan nama perusahaan yang tadi pagi di sebutkan Clara.
"It's Okey, Bu." Clara menggidikkan kedua pund pelan. "Tadi Noah juga beraksi sama. Berteriak juga."
Lily tersenyum kaku sambil garuk-garuk area bawa telinga. Padahal area tersebut sama sekali tidak gatal.
"Apa hubungan mereka benar-benar tidak baik?" tanya Clara. "Aku masih tidak percaya kalau mereka saling bersaing."
"Apa Noah menjelaskan semua itu padamu?" Lily malah bertanya.
Clara menggeleng. "Megan yang memberitahuku."
Lily membulatkan bibirnya sembari mengangguk-angguk pelan.
"Apa benar begitu, Bu?" Clara masih berharap mendapat penjelasan dari ibu mertuanya.
"Ya," jawab Lily. Lily menarik napas lebih dulu sebelum kembali bicara. "Mereka memang terlihat teman, tapi sebenarnya selalu bersaing di belakang."
Kali ini Clara yang membulatkan bibir. Clara ini sudah yakin kalau memang begitu keadaannya. Penjelasan ibu dan mega sama persis.
"Ngomong-ngomong, sudah sejak kapan kau bekerja di perusahaan Jack?" tanya Lily.
"Seminggu yang lalu."
Clara nampak sedih dan kecewa. Seminggu ini Clara begitu menikmati pekerjaannya di studio pemotretan milik Jack. Di sana Clara bisa melihat beberapa model pakaian yang akan dekenakan untuk berfoto.
"Tapi aku butuh pekerjaan, Bu," kata Clara memasang wajah sedih.
Lily bergeser lalu mengusap tangan Clara. "Kalau boleh tahu, kenapa kau ingin bekerja? Ibu tahu Noah sangat bisa mencukupimu."
Clara tidak mungkin menjelaskan dengan jujur menyangkut kenapa dirinya ingin bekerja. Kalau begitu, sebaiknya Clara menjelaskan bagaimana?
"Em, aku hanya ingin tidak ketergantungan, Bu. Aku sudah terbiasa mencari uang sendiri."
Clara berharap jawaban tersebut tidak membuat Ibu mertuanya salah paham.
"Ibu tahu. Kalau begitu, biar ibu yang memberi jalan tengah." Mendadak wajah Lily berbinar. Senyum lebar terpampang di wajahnya, membuat Clara merasa heran.
"Apa, Bu?"
"Berhentilah bekerja di tempat Jack."
Wajah Clara mulai merengut saat mendapat jawaban dari ibu mertuanya yang ternyata sama dengan jawaban Noah.
"Kau bisa bekerja di sini," kata Lily lagi.
Kedua mata Clara membulat lebih besar. Jawaban berikutnya ternyata diikuti dengan tawaran dan bisa dikatakan juga sebagai sebuah solusi.
__ADS_1
"Di butik ini?" tanya Clara yang belum yakin.
Lily masih tersenyum dan mengangguk mantap. "Ibu tahu impianmu menjadi seorang designer. Kau bisa menggambar dan mendesign rancangan sesuai keinginanmu."
"Benarkah?" Clara sudah nampak antusias. Dia sampai tidak sadar tejungkat sedikit dan menggenggam erat kedua tangan ibu mertuanya.
"Tentu saja," sekali lagi Lily meyakinkan.
Saking bahagianya, Clara sampai terlihat ingin berjingkrak-jingkrak. Jikalau saja pantas, Clara pasti sudah berlarian sambil berteriak kegirangan.
"Kau mau kan?"
Clara mengangguk-angguk dengan cepat. "Aku mau, Bu."
Di samping rasa bahagian itu, tiba-tiba Clara merengut lagi.
"Ada apa?"
"Tapi … bagaimana caraku berpamitan pada Jack. Aku tidak enak hati padanya, Bu. Dia teman baikku sejak lama."
"Benarkah?" Lily baru mengetahui akan hal itu.
Melihat Clara yang mulai gelisah, Lily kembali mengusulkan. "Nanti ibu bantu bicara dengannya."
Saat itu juga, wajah Clara kembali sumringah. Perlahan setiap ujung bibir tertarik membentuk senyuman.
Ternyata, tidak sampai Lily berbicara dengan Jack, Noah sudah bertindak lebih dulu. Noah saat ini sudah masuk ke gedung perusahaan milik Jack.
"Di mana ruangan Jack?" tanya Noah pada resepsionis tanpa basa-basi.
"Apa sudah buat janji sebelumnya?" tanya resepsionis tersebut.
"Aku temannya, tidak usah pakai janji segala."
Dari cara Noah bicara, tentunya membuat resepsionis tidak percaya.
"Tunggu sebentar, biar saya hubungi Tuan Jack."
"Katakan padanya, Noah yang datang," jekas Noah.
Resepsionis tersebut meraih gagang telpon dan mulai menekan beberapa tombol di sana. Tidak lama, panggilan pun tersambung dan resepsionis tersebut mengatakan kalau ada orang yang mencari Jack.
Begitu telpon sudah diletakkan kembali pada tempatnya, resepsionis itu kembali berkata pada Noah. "Tuan sudah dituggu di ruangan Tuan Jack. Ada di lantai dua."
Tidak bicara apa-apa lagi, Noah langsung melenggak pergi. Dengan langkah cepat, Noah berlari menaiki tangga. Tidak perlu naik lift, itu akan membuang waktu saja. Pikir Noah.
Sampai di lantai dua, Noah segera mencari ruangan Jack. Beberapa karyawan yang lewat sempat melirik aneh, tapi Noah tidak peduli. Saat melihat sebuah pintu putih tidak jauh di hadapannya, Noah yakin itu adalah ruangan Jack.
Entah karena merasa kesal atau apa, Noah nyelonong begitu saja masuk ke ruangan tersebut. Jack yang semua sedang duduk di kursi putarnya segera berdiri.
"Halo, Noah!" sapa Jack seramah mungkin.
Noah hanya tersenyum tipis lalu mendekat. "Aku ingin bicara denganmu."
__ADS_1
"Baiklah. Ayo duduk!
***