
Bab 14
"Lebih cepat, Pak!" teriak Noah yang kini duduk bersama Clara di jok belakang.
Melihat darah itu membuat Noah semakin bergidik ngeri. Beberapa kali bahkan Noah mengetutkan wajah dan medesis.
"Cepat, Pak!" teriak Noah sekali lagi.
"I-iya, Tuan," jawab Pak Rey tergagap.
"Aku baik-baik saja. Sungguh." Clara ikut bicara.
"Diam kau!" Hardik Noah membuat Clara menciut diam.
"Tapi …"
"Diamlah!" Noah masih saja membentak. "Cepat dong, Pak. Masa dari tadi tidak ada rumah sakit!"
"Eh!" Mendadak Clara menjerit kecil. "Tidak usah. Kenapa jadi rumah sakit."
"Sudah kubilang, kau diam saja!"
Suasana di dalam mobil begitu terlihat riweh karena kepanikan dari Noah. Meski mengaku tidak peduli, melihat darah itu sungguh Noah tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Clara.
Clara yang sebenarnya sudah ikut bingung sendiri melihat sikap Noah, hanya bisa berpasrah menurut.
Sekitar pukul empat sore, mobil pun memasuki area gedung rumah sakit. Tepat saat itu juga, hujan di luar sana mulai mereda dan berganti dengan gerimis ringan.
Kenapa jadi begini? Astaga!
Kenapa harus ke rumah sakit?
Apa yang harus aku katakan nanti?
Clara hanya bisa menggerutu di dalam hati. Apalagi melihat Noah yang begitu sigap, Clara malah mendadak merasa begitu diperhatikan. Cara Noah turun dan meminta bantuan pada suster untuk membantu Clara, terlihat begitu tulus.
Dalam situasi seperti ini, alhasil membuat Clara terlanjut menikmati rasa perhatian dari Noah.
"Apa dia sedang menghawatirkanku?" diam-diam bibir Clara melengkung membentuk senyuman tipis.
"Ada apa ini, Tuan?" tanya suster pada Noah.
"Sepertinya istriku mengalami pendarahan. Cepat bantu dia!" Jelas Noah.
Saat suster menatap Clara, dengan cepat Clara menyipitkan kedua mata dan menggelengkan kepala bermaksud memberi kode bahwa sebenarnya semua baik-baik saja.
"Kenapa diam saja, Sus!" hardik Noah.
"Oh iya Tuan. Saya akan bawa istri Tuan ke ruang periksa," sahut Suster tersebut dengan cepat.
Clara kini sudah duduk di atas kursi roda dan dibawa suster menuju ruang pemeriksaan. Sementara Noah mengikuti di belakang bersama dengan Pak Rey.
"Silahkan Tuan menunggu di luar, biar kami memeriksa istri anda," kata Dokter saat sudah datang.
__ADS_1
Sampai ruangan, Clara ingin rasanya berteriak sekencang mungkin. Melihat dokter dan suster yang hendak mendekat untuk memeriksa, membuat Clara sudah merasa malu sendiri.
"Maaf, Dok," kata Clara tiba-tiba sambil mengangkat telapak tangan di depan dada. "Saya tidak perlu diperiksa."
"Lho, kenapa Nona?" tanya dokter heran.
Clara yang sudah duduk di atas brangkar terdengar mendesis lagi sambil menggaruk-garuk tengkuknya sendiri. Dokter dan suster yang merasa heran, saling pandang sesaat.
"Tapi Nona harus segera diperiksa. Pendarahan itu sangat bahaya."
Kali ini Clara meringis karena bingung sekaligus malu jika harus menjelaskan pads dokter tersebut.
"Maaf, Dokter, aku sama sekali tidak pendarahan," jelas Clara malu-malu. "Aku hanya sedang datang bulan."
"Datang bulan?" Dokter dan suster terlihat terkejut.
"Tapi Nona, itu darahnya terlihat banyak di rok Nona. Di kaki Nona juga." Suster ikut bicara.
Dokter pun paham dan terlihat tersenyum. "Apa sudah biasa seperti ini?" tanya Dokter.
Clara memangguk. "Aku lupa kalau sudah mendekati haid. Dan ternyata keluar hari ini pas kebetulan aku sedang tidak di rumah."
Dokter manggut-manggut paham. "Kalau begitu, biarkan suster ambilkan baju rumah sakit dan bantu Nona membersihkan diri."
"Baik Dokter."
Clara masuk ke dalam toilet yang tersedia sementara suster menyiapkan baju. Dan dengan dokter, dia keluar untuk menemui Noah yang sedari tadi menunggu.
"****! Memalukan!" maki Clara sambil melepas roknya, kemudian memasukkan ke dalam kantong keresek yang sudah disediakan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Noah masih dengan raut wajah panik.
"Silahkan kita bicarakan di ruangan saya," kata dokter.
Noah mengikuti langkah sang dokter. Sampai di sebuah ruangan milik dokter tersebut, Noah dipersilahkan duduk. Tidak lama setelah itu, Clara muncul diantar oleh suster.
"Kau baik-baik saja?" tanya Noah yang justru membuat pipi Clara memerah.
Apalagi saat Clara melirik dokter dan suster yang diam-diam mengulum senyum. Sangat memalukan! Ingin rasanya menutup wajah dengan sesuatu yang tebal.
"Silahkan duduk." Suster mempersilahkan Clara ikut duduk.
"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok?" tanya Noah. "Dia baik-baik saja kan?"
Harusnya tidak perlu ke ruangan dokter segala. Kenapa tidak langsung pulang saja sih! Clara terus-terusan menggerutu di dalam hati.
"Istri anda baik-baik saja."
Fiuh! Saat itu juga Noah merasakan hatinya begitu sangat lega.
"Ayo kita pulang," potong Clara sebelum Noah beranjak bertanya lagi.
"Tunggu dulu," Noah menggenggam tangan Clara. Alhasil Clara terduduk lagi.
__ADS_1
Clara terlihat merengut, membuat dokter dan suster menahan tawa.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Dok? Katakan padaku."
Wajah Clara semakin pucat pasi menahan panik dan malu. Seperti paham dengan kegelisahan Clara, dokter melempar senyum.
"Sebaiknya Tuan tanya istri anda di rumah nanti," ujar Dokter.
Clara menghela napas lirih dan tersenyum ke arah dokter.
"Anda sungguh baik, Dok," batin Clara merasa lega.
"Ayo pulang. Donter sudah mengatakan aku baik-baik saja kan?"
Clara sudah berdiri dan menarik-narik lengan Noah. Karena memang Clara terlihat baik-baik saja, Noah pun menurut saja.
Sampai di rumah, Clara pikir Noah tidak akan membahas hal ini lagi. Namun, baru sampai di ruang tamu, Noah sudah menarik lengan Clara.
"Katakan, apa yang terjadi?" Paksa Noah. "Kenapa sampai ada darah begitu banyak di bajumu?"
"Itu … itu hanya … ah sudahlah! Tidak usah dibahas." Clara melengos dan menggigit bibir lalu berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
"Hei!" Noah yang masih penasaran langsung menyusul. "Kau jangan membuatku khawatir!"
Di balik pintu kamar, Clara terdiam mendengar kalimat Noah.
"Dia mengkhawatirkanku? Benarkah?"
Brak! Noah mendorong pintu dengan cepat, membuat Clara terjungkat. Clara tidak lagi bisa menghindar kali ini saat Noah melangkah semakin dekat.
"Jelaskan padaku!" Noah melotot.
Clara menggigit bibir bawah sembari memilin-milin jemari. "Aku, aku hanya sedang datang bulan."
"A-apa?" Noah ternganga tidak percaya. "Da-datang bulan?"
Clara mengangguk.
"Oh astaga!" Noah membuang kasar napas sambil menyugar rambutnya. "Kenapa kau tak bilang!" salak Noah kemudian.
"Bagainana aku akan bilang kalau kau terus menyuruhku diam."
Noah pun terdiam sejenak sebelum kemudian acuh dan melengos.
"Em, terimakasih sudah mengkhawatirkanku," kata Clara sebelum Noah masuk ke ruang ganti.
Noah tidak menjawab melainkan hanya menoleh. Ketika Noah sudah tidak terlihat, diam-diam Clara tersenyu dan mulai jingkrak-jingkrak sendiri.
"Kau kenapa?"
"Oh aku. Aku hanya sedang meregangkan otot," kata Clara yang salah tingkah saat mendadak Noah muncul dari ruang ganti untuk mengambil handuk di gantungan.
"Oh Tuhan! Malunya aku!"
__ADS_1
Clara menangkup wajah lalu menjatuhkan diri di atas ranjang.
***