
Bab 19
"Kau dari mana?" tanya Bill seraya mengamati tampilan sang istri. "Kenapa baru pulang?"
Tania meletakkan tas jinjingnya di atas meja lalu duduk di sofa. "Tentu saja aku baru bertemu teman-temanku," ujar Tania.
Mendengar jawaban itu, Bill lantas membuang napas kasar. Bill berdiri sambil berkacak pinggang menatap tajam pada sang istri.
"Keuangan kita sedang menurun, harusnya kau bantu aku bukannya malah kelayapan tiap hari."
Tidak mau disalahkan, Tania berdiri. "Tugas istri bukan mencari uang suamiku. Kalau kita sedang ada masalah dengan keuangan, cobalah kau minta bantuan pada besan kita."
Bill terdiam lalu jatuh terduduk seolah sedang berpikir. Awal ketika Noah menikah dengan Clara, keluar Noah memang nampak kaya raya. Namun, akhir-akhir ini mendadak ada berita miring yang mengatakan kalau mereka bangkrut.
"Bukankah mereka bangkrut?" tanya Bill.
Tania berdecak kemudian duduk bergeser lebih dekat dengan sang suami. "Suamiku, itu kan hanya gossip. Apa salahnya jika kau datang ke perusahaan Tuan Josh dan meminta bantuan, kan? Aku yakin mereka tidak akan pernah bangkrut"
"Baiklah, aku akan coba besok."
Selama ini, kehidupan Bill beserta keluarganya tercukupi dengan hasil dari pabrik pembuat kopi. Mereka mengolah hasil panen tentunya dari hasil perkebunan sendiri. Namun, sebulan belakangan ini omset nampak menurun karena buah kopi yang dihasilkan tidak terlalu banyak dan juga kwalitas tampak menurun.
Dalam situasi seperti ini, Bill membutuhkan dana untuk mengolah kembali tanah perkenunan dan juga dana pemasaran yang bagus.
Itulah guna mereka menyetujui jika Clara menikah dengan Noah meski penuh pemaksaan. Bill dan Tania terkadang lebih mengunggulkan uang dan pandangan kere dari orang-orang.
"Tadi aku bertemu dengan Clara," kata Tania setelah beberapa menit mereka berdua terdiam.
"Oh ya!" sahut Bill. "Kenapa kau tidak ajak dia pulang?"
"Untuk apa? Kau tahu aku tidak terlalu suka dengan anak itu kan?" Tania menjawab seolah dirinya bukan ibu yang telah melahirkan Clara.
"Kau jangan begitu. Kau selalu memanjakan Chloe, tapi kau sering mengacuhkan Clara."
"Itu karena dia anak yang susah diatur. Berbeda dengan Clara? Chloe selalu menuruti perkataanku. Chloe anak yang patuh."
Clara bukab tidak patuh, tapi hanya sebatas membela diri jika terkadang ibu lebih sering memaksa. Sedari dulu, Chloe lebih disayang karena impian dia menjadi model begitu didukung oleh ibu. Namun, tidak begitu dengan Clara.
Clara enggan menjalin kasih dengan beberapa pria pilihan ibu, tapi Chloe selalu nurut saat dikenalkan pada pria-pria pilihan ibu. Yang tidak disukai Clara, ibu seolah sedang menawarkan putrinya sendiri untuk bisa menghasilkan uang.
"Aku masih kesak dengan ibu!" Clara terus saja menggerutu meskipun sudah berada di rumah sedari tadi.
Mandi, merapikan diri, Clara terus saja mengoceh tidak jelas. Clara masih tidak percaya sifat ibunya belum berubah sampai saati ini. Clara jadi berpikir, mungkin mereka memaksa dirinya menikah dengan Noah karena uang.
__ADS_1
"Aku masih tidak tahu jalan pikiran kalian, tapi aku masih merasa dikorbankan disini."
"Siapa yang dikorbankan?"
Clara spontan menoleh ketika mendengar sahutan dari arah belakang. Ternyata Noah yang baru saja pulang dari kantor.
"Kenapa diam?" Noah mendekat membuat Clara bingung sendiri.
"Em, tidak. Aku hanya …"
"Siapkan air untukku, aku mau berendam," potong Noah.
Clara mengangguk patuh. Clara segera berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia tak mau kalau Noah kembali bertanya.
"Kenapa dia selalu muncul tiba-tiba," gumam Clara heran.
"Clara!" panggil Noah tiba-tiba.
"Ya, ada apa?" sahut Clara dari dalam kamar mandi.
"Hati-hati dengan lukamu!"
"Eh!" Clara spontan menjerit kecil tanpa bisa didengar siapapun.
"Ya, aku dengar."
Clara terdiam sejenak, bersandar pada dinding.
"Apa dia sedang perhatian padaku?" tanya Clara.
Clara merasa benar-benar sedang diperhatikan saat ini. Meski hanya kalimat pendek, tapi Clara memaknai kalimat itu dengan begitu dalam.
Sebelum lamunan berlanjut semakin jauh, Clara lantaa bergidik cepat dan segera mengisi bak mandi hingga penuh. Sambil menunggu itu, Clara menyiapak peralatan mandi seperti sabun dan shampo. Handuk tidak lupa.
"Apa kau sudah mandi?" tanya Noah ketika Clara sudah muncul.
Clara mengangguk. "Sudah dari tadi. Apa ada yang lain?" tanya Clara kemudian.
Noah melucuti kemejanya. "Tidak ada."
"Kalau begitu aku buatkan susu hangat untukmu," kata Clara.
"Tidak usah. Kau di sini saja," ujar Noah.
__ADS_1
"Em, baiklah."
Clara tentunya selalu menurut jika Noah berkata dengan lembut. Selagi Noah belum selesai melepas kancing kemeja, Clara mendekat untuk membantu.
"Sepertinya kau selalu kesusahan saat melepas kemejamu," kata Clara sembari menjulurkan tangan ke arah kancing kemeja.
Noah tidak merespon dan hanya diam saja memandangi Clara yang begitu lihai melepas kancing kemeja yang ia pakai.
"Aku selalu melihatmu begitu lama saat memakai baju. Saat melepas atau mengancing," kata Clara lagi.
Ini menjadi rahasia kecil untuk Noah. Diumurnya yang begitu matang, sejujurnya Noah paling lambat saat mengenakan baju. Apalagi jika harus mengenakan kemeja, hal paling Noah benci adalah saat melepas dan mengancingnya.
"Kau juga selalu salah saat memakai dasi," lanjut Clara lagi.
"Kau sedang membantuku atau mengejekku!" Noah meraih kedua tangan Clara dengan cepat. Menggenggam kuat dengan satu tangan, kancing kemeja bagian terakhir pun belum terlepas.
"Biar aku saja sendiri," kata Noah sambil melepas tangan Clara dengan cepat, membuat Clara melangkah mundur.
"Bukan begitu. Kalau kau memang kesusahan, kau bisa minta bantuan dariku kan?" Clara maju lagi dan melepas kancing kemeja yang terakhir.
Entah datang dari mana keberanian Clara saat ini. Mendekati Noah, rasanya sudah tidak semengerikan dulu lagi. Jika Noah sedikit menghardik, itu bisa Clara anggap sebagai hal yang wajar.
Kemeja terlepas, kini dengan jelas mata Clara bisa memandangi dada Noah yang bidang. Kulitnya yang putih bersih, bulu-bulu halus di sekitarnya, perutnya yang datar, Huh! Siapapun pasti akan terpesona.
Clara tidak tahan lagi jika tidak menelan ludah. Matanya bahkan sempat terpejam dan membulat lagi.
"Dia milikku kan?" batin Clara. "Tubuh bagus ini milikku."
Di hadapannya, Noah membiarkan Clara yang sedang mengagumi tubuhnya. Diam-diam Noah menyeringai dan tersenyum tipis.
"Apa boleh aku menyentuhnya?" tanya Clara.
Oh ****! Apa yang baru saja aku katakan? Aaa! Apa aku gila!
Clara memejamkan kedua mata dan menunduk malu. Ia gigit bibirnya lalu perlahan berjalan mundul. Melihat reaksi itu, rahang Noah mendadak terasa pegal karena menahan tawa.
"Kau mau ke mana?" tanya Noah.
Clara terus mundur. "Sebaiknya aku buatkan kau susu hangat."
Grep!
Clara sudah menghilang. Ia menutup pintu dengan begitu cepat, lalu bersandar di baliknya dengan jantung yang berdegup begitu cepat. Sementara di dalam sana, Noah sedang tertawa dan berlanjut senyum-senyum sendiri di dalam kamar mandi.
__ADS_1
***