
"Kau datang jam berapa, Clara?" tanya Lily.
Pagi sekai, Clara sudah mendapat panggilan dari ibu mertuanya. Karena semalam pulang terlambat dan harus sedikit berdebat dengan Noah, Clara sampai lupa memberi kabar pada ibu mertuanya.
"Maaf, Bu. Aku lupa bilang kemarin," sahut Clara sambil menggigit bibir. "Aku lupa kalau seminggu ini aku sudah bekerja."
"Oh ya?" Lily nampak terkejut. "Di mana?"
"Perusahaan Gelora Studio."
"Gelora Studio? Sepertinya tidak asing," batin Lily.
"Jadi, kau tidak bisa datang?" tanya Lily.
Clara jadi tidak enak hati pada ibu mertuanya.
"Bagaimana kalau nanti sore, setelah aku pulang?"
"Em, baiklah."
Clara memutus panggilan. Ia menghela napaa kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Siapa yang telpon?" tanya Noah yang ternyata sedari tadi menguping dari atas ranjang. Noah baru saja bangun tidur.
"Ibu," sahut Clara.
Clara lekaa berdiri lalu menjapit rambutnya sebelun beranjak menghampiri sang suami.
"Ada apa ibu menelpon pagi sekali?" tanya Noah lagi.
"Ibu menyuruhku datang ke butik."
"Oh."
Tidak ada lagi percakapan karena setelah itu Clara pergi ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian untuk Noah.
Tidak lama, Clara muncul lagi membawa pakaian dan sepatu untuk Noah.
"Kau sudah mau mandi?" tanya Clara.
Noah tidak langsung menjawab karena sedang menguap. Ketika sudah merenggangkan badan ke kanan dan ke kiri, barulah menjawab.
"Nanti saja dulu."
Clara yang sibuk membersihkan kamar, tidak sadar kalau sedari tadi Noah sedang mengamatinya. Pagi ini, Clara sudah tampil cantik saat Noah bangun. Bukan hanya hari ini, melainkan beberapa hari ini sejak Clara bekerja.
Noah begitu terpesona, tapi terkadang rasa iri muncul. Noah menikmati kecantikan Clara di pagi hari hanya sebentar, setelah itu orang lainlah yang akan menikmati bagaimana tampilan Clara.
"Clara," panggil Noah.
Clara yang sedang melipat selimut menoleh. "Ya?"
"Apa kau harus tampil begitu saat bekerja?" tanya Noah.
Kening Clara berkerut. "Apa maksudmu?"
Noah bingung harus berkata apa sekarang. Jika mengatakan sesuai isi hati, nanti Clara akan merasa sedang disanjung.
"Tidak jadi," kata Noah akhirnya. "Aku mau mandi."
Noah melengos dan melenggak menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Dia itu kenapa?" tanya Clara heran. Karena tidak mau tahu, Clara angkat bahu dan kembali sibuk membereskan ranjang.
Pukul tujuh, Clara dan Noah berangkat. Hari ini Clara berangkat bersama diantar oleh Pak Rey. Untungnya, jalan menuju perusahaan Noah dan tempat kerja Clara searah.
"Hei!" panggil Noah.
Clara yang sedang menikmati pemandangan di luar sana menoleh.
"Di mana kay bekerja?" tanya Noah.
Selama ini memang Noah belum tahu di mana Clara bekerja.
"Gelora Studio?"
Nama itu seperti tak asing untuk Noah. Sebuah perusahaan baru yang Noaj dengar baru saja berdiri sebulan yang lalu.
"Studio milik Jack," kata Clara lagi.
"Apa!" Noah spontan membelalak dan
berteriak.
Pak Rey yang semula sedang fojus menyetir hampir saja hilang kendali karena kaget. Pun dengan Clara. Clara sampai membulatkan mata dan menarik badan mundur.
"Kenapa kau berteriak?" tanya Clara sambil mengusap dada.
"Jadi selama ini kau bekerja di tempat Jack?"
Dengan polosnya Clara mengangguk.
"Memang kenapa? Bukankah kalian juga saling kenal?"
"Justru itu!"
Frustrasi, Noah meraup wajah dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Di hadapannya, Clara bahkan sampai menjerit kecil. Pak Rey yang mencoba tetap fokus menyetir pada akhirnya juga mulai gelisah.
"Berhenti dulu, Pak!" perintah Noah pada Pak Rey.
Pak Rey segera menepikan mobil di dekat pohon yang jalamannya tidak terlalu ramai.
"Aku minta kau segera mengundurkan diri!" perintah Noah dengan lantang.
"Apa maksudmu?" Clara semakin dibuat tidak paham.
"Intinya, aku mau kau berhenti bekerja di tempat Jack. Titik!"
"Ta-tapi aku …"
"Turuti saja apa kataku!" bentak Noah.
Kalau sudah begitu, Clara tidak lagi berani untuk melawan. Jika sedang emosi, dengan seketika rupa tampan Noah berubah seperti iblis bertanduk.
"Jalan, Pak!" Perintah Noah lagi.
Pak Rey kembali melajukan mobilnya. Suasana di dalam mobil pun berubah jadi menegang dan semua nampak diam. Noah berwajah datar, sedangkan Clara memanyunkan bibir.
Seperempat jam kemudian mobil berhenti di halaman gedung kantor milik Noah.
"Ayo turun!" perintah Noah.
Clara mencondongkan badan, menatap area di luar sana dari kaca jendela.
__ADS_1
"Haruskah aku ikut turun?" tanya Clara.
"Tentu saja. Memang kau mau di sini sampai sore?" jelas Noah. "Ayo cepat!"
Clara buru-buru membuka pintu mobil dan menyusul Noah yang sudah turun lebih dulu. Sementara Pak Rey, ia melajukan mobilnya masuk ke dalam parkiran di belakang gedung.
"Aku ikut ke dalam?" Clara mengacungkan jarinya ke arah pintu masuk.
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung kalau kau mau seharian berdiri di luar sini," jawab Noah sambil berlalu masuk.
Clara toleh kanan kiri dan atas, suasana memang mulai terasa panas karena hari ini terik.
"Sebaiknya aku ikut masuk." Clara segera berlari menyusul Noah.
Sampai di dalam, para karyawan mengangguk dan menyapa Noah dengan sopan. Namun, pandangan mereka beralih pada sosok wanita yang berjalan gugup di belakang Noah.
"Aduh!"
Saking merasa gugupnya karena lirikan beberapa orang, Clara sampai tidak tahu kalau ternyata Noah berhenti di depan pintu lift. Alhasil Clara yang nyelononv terus menabrak bagian punggung Noah.
"Apa sih!"
"Maaf, maaf." Clara mengusap-usap hidungnya yang sakit.
Mereka-mereka yang sempat melihat kejadian tersebut ada yang terkekeh ada juga yang menjerit kecil. Jarang-jarang suasana pagi hari ada hiburan mendadak seperti tingkah bossnya dan sang istri.
"Makanya kalau jalan pake mata," kata Noah.
Clara memanyunkan bibir. "Di mana-mana jalan itu pake kaki kan?"
Pletak!
"Aduh!"
Satu jitakan mendarat sempurna di kening Clara. Sungguh pagi ini para karyawam disuguhi dengab tingkah konyol bossnya. Sungguh momen yang sangat langka.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Noah masuk lebih dulu lalu disusul oleh Clara.
"Uh, mereka lucu sekali!" kata salah satu karyawan wanita sambil bersandar pada meja resepsionis.
"Apa mereka sudah saling jatuh cinta?" tanya karyawan lain.
"Aku tidak tahu."
"Tuan Noah tidak pernah bersikap begitu pada Nona Chloe. Untuk sekedar membantah saja Tuan Noah tidak berani dulu.
"Betul. Tuan Noah dulu terlihat garang pada kita kalau sudah dikompori oleh Nona Chloe."
"Sikap Nona Chloe dan Clara sangat berbeda."
Obrolan mereka terus berlanjut sampai merasa bosan sendiri.
Sampai di lantai dua, Noah mengajak Clara masuk ke ruangannya. Clara yang baru kali ini datang, merasa terkagum-kagum dengan ruang kerja yang begitu luas.
"Duduk di sana!" perintah Noah masih dengan nada menyalak.
Clara yang masih sibuk mengagumi ruangan ini pun berdecak kesal namun akhirnya duduk juga.
__ADS_1
***