Istri Kesayangan Tuan Noah

Istri Kesayangan Tuan Noah
chapter 24


__ADS_3

Clara tertidur hingga menjelang petang. Ia sampai bermimpi berulang kali dan sialnya bukan mimpi bagus yang ia dapatkan. Berkali-kali gelisah hingga berguling ke sana kemari, tetap saja kedua matanya tak kunjung terbuka. Clara seolah sedang di bawa dalam suatu tempat yang menunjukkan kenyataan di hari nanti.


Semakin larut, Clara seolah sedang berjalan melewati rerumputan hijau yang begitu luas. Jauh di depan sana--di bawah pohon akasia--terlihat sosok gagah yang begitu Clara kenal. Noah, dengan tubuh tegap dan rambut ditata rapi ke belakang, nampak tengah melambai meminta Clara segera datang mendekat.


Senyum indah tersungging sempurna di wajah Clara. Binar mata terpancar mendorong Clara melangkahkan kaki berlari menghampiri sosok pria gagah itu.


Mimpi berikutnya beralih menjadi senyuman setelah yang lalu membuat rasa gelisah dan takut.


"Kenapa kau di sini?" tanya Clara saat sudah berada di dekat Noah. Clara menatap Noah begitu dalam.


"Tentu saja karena dirimu," jawab Noah.


Clara memejamkan mata ketika kedua tangan Noah mengusap pipinya dengan begitu lembut. Clara bahkan merasakan satu kecupan di keningnya.


"Tuhan, ini seperti nyata. Aku tidak mau terbangun."


Mereka saling menatap kembali. Sebuah tatapan yang sangat dalam.


"Kenapa kau tiba-tiba baik padaku?" tanya Clara. "Apa kau sedang mempermainkanku?"


Clara terus saja berbicara hingga tidak sadar ada seseorang yang tengah berada di sampingnya dalam kenyataan. Dia sedang memandangi wajah Clara yang masih terlelap sembari mendengarkan bibir Clara yang mengigau tidak jelas.


"Aku tahu kau benci padaku. Harusnya kau tidak usah baik padaku." Clara masih berbicara dalam dunia mimpinya. Satu tangannya bahkan nampak terangkat seolah ingin memukul dan merengek.


"Bagaimana bisa kau mimpi sampai ngedumel begitu," celoteh Noah yang tetap saja memandangi wajah Clara.


Posisi Clara yang berbaring telentang, membuat Noah dengan leluasa menatap wajah Clara. Noah sedari duduk mencondong dengan bersangga satu tangan. Sedangkan satu tangannya lagi sedang mengusap-usap kening Clara.


Inilah yang mungkin membuat Clara seolah mimpinya seperti kenyataan.


Semakin dipandang, Noah sedikit terhenyak ketika tiba-tiba Clara terisak dalam mata masih mengatup rapat.


"Aku tahu kau masih menunggu dia kembali. Aku hanya pelampiasan di sini." Clara kembali berceloteh.


"Hei!" tegur Noah sembari menepuk pelan pipi Clara supaya segera terbangun.


Clara masih terisak, air mata juga terlihat menyembul. Merasa heran dan tidak tega, Noah kembali menepuk pipi Clara lebih keras.


"Clara, bangun!" seru Noah. "Hei! Wake up!"


Dua bola mata Clara terbuka sempurna. Kaget melihat Noah berada di hadapannya, refleks Clara bergeser menjauh.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Clara panik.


Noah membuang muka sambil mendesah. Noah pun menatap Clara sambil menaikkan satu alisnya, membuat Clara bingung. Clara mengecek wajahnya sendiri menepuk-nepuk dengan tangan.


"Kenapa basah?" pekik Clara ketika jemarinya menyentuh area bawah mata.

__ADS_1


Clara mendadak panik sendiri. Ia mengingat-ingat apa yang mungkin baru saja terjadi. Clara pun teringat dengan mimpinya yang begitu tidak jelas. Mulai mengingat semuanya, Clara terlihat menggigit bibir dan mengerutkan wajah.


"Apa kau sudah ingat?" tanya Noah dengan nada meledek.


Tunggu dulu! Apa dia masuk dalam mimpiku? Apa dia tahu bagaimana isi mimpiku?


Clara semakin mengerutkan wajah dan kembali menggigit bibir hingga membekas.


"Apa aku mengigau?" tanya Clara ragu. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Noah lama.


Noah membuang napas dengan mulut terbuka dan mata menjuling. "Kau bukan hanya mengigau, tapi juga berceloteh tidak jelas. Cih!"


Ouh! Malunya aku! Clara mengatupkan mata dan menyembunyikan wajah.


"Apa kau sedang memimpikan mantanmu?" tanya Noah acuh.


Apa? Mantan? Kenapa mantan? Sial! Apa dialog yang kuucapkan dalam mimpi terlontar dalam dunia nyata?


"Aku tidak punya mantan," jawab Clara cepat.


"Kalau begitu apa aku yang dalam mimpimu?"


Glek! Tertelan sudah ludah yang menyangkut di tenggorokan. Rasamya sesak dan mendadak kering.


"Kenapa kau mengucapkan itu semua?" Noah terus bertanya.


"Aku hanya asal bicara, kau tidak perlu tahu." Clara coba menghindar.


"Aku ingin tahu, dan kau harus memberi tahuku!" tekan Noah.


"Kenapa kau memaksa?" Clara mencibir. "Itu kan hanya mimpi."


"Memang mimpi, tapi kau sampai menangis."


Benar kan, aku benar-benar menangis tadi.


Clara tidak habis pikir bagaimana mungkin mimpi itu sampai terasa begitu nyata. Belaian itu, bahkan Clara merasakan seolah memang itu sentuhan tangan Noah.


Noah mungkin merasa penasaran, tapi ia tak mau terlihat peduli di hadapan Clara. Gengsi masih tinggi untuk mengatakan kalau dirinya sebenarnya khawatir dan peduli.


"Noah," panggil Clara saat Noah sudah berdiri.


Noah berbalik.


"Em …" Clara bingung untuk mengutarakan maksudnya.


"Ada apa?" tanya Noah.

__ADS_1


"Janji tidak marah jika aku tanya hal ini," kata Clara.


Kening Noah berkerut. Ia kembali duduk dan menatap Clara yang sedari tadi betah di tengah ranjang.


"Tergantung," kata Noah kemuduian.


Jawaban Noah tentunya membuat Clara ragu untuk buntuk melanjutkan pertanyaan. Clara pun terdiam dan enggan menatap Noah.


"Tanyalah …" kata Noah kemudian.


Clara pun refleks mendongak.


Raut wajah Noah saat ini terlihat nyaman untuk dipandang. Rupa sangar, angkuh dan mengerikan tidak terlihat sedikitpun.


"Jika Chloe kembali, apa pernikahan kita berakhir?" Akhirnya terlontar juga pertanyaan dari Clara untuk Noah.


Noah masih memasang wajah biasa saja.


"Kenapa kau tanya begitu?" tanya Noah.


"Entahlah! Aku hanya ingin tahu." Clara angkat bahu. "Aku tahu kau membenciku."


"Lantas?"


"Jika nanti kita berpisah, aku harap semua dilakukan dengan baik-baik saja."


Niat Clara bukan ingin membahas itu, tapi karena gugup perkataan Clara malah ngelantur ke topik lain.


"Jadi kau mau kita pisah?"


Clara mendadak bingung sendiri. Noah yang acuh, Noah yang datar, membuat Clara seolah tidak ada kata untuk menjawab.


"Semua terserah padamu," kata Clara.


Noah berdiri lagi. "Kalau itu maumu, maka tunggu saja."


Tunggu? Apa yang Noah maksud? Apa menunggu untuk berpisah? Hei! Bukan ini mauku! Aku hanya ingin tahu maumu!


Sayangnya, kalimat itu hanya terlontar di dalam hati saja. Clara diam membiarkan Noah pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Di saat Noah sedang mandi dan Clara hendak turun dari atas ranjang, ponsel milik Noah berdering. Clara celinguka sesaat sebelum kemudian bergeser mrndekati letak ponsel milik Noah di atas nakas.


"Chloe?" pekik Clara saat itu juga. Mata Clara membulat sempurna.


Clara membuarkan ponsel itu terus bergetar. Selain karena tidak ada hak untuk menyentuh benda tersebut, Clara juga tidak mau merasa sakit.


"Jadi benar kan, mereka itu masih saling berhubungan," kata Clara. "Aku harus sadar untuk tidak berharap."

__ADS_1


***


__ADS_2