
Bangun dari tidurnya, Clara mendapati sang suami sudah tidur memeluknya. Semalam Clara ingat, sekitar pukul sebelas malam, Noah masih entah berada di mana udai kejadian di dalam kamar mandi. Clara pikir Noah tidur di kamar lain, tapi ternyata ada di sampingnya dan memeluk dengan erat.
Noah sepertinya masih tidur begitu pulas. Dengkuran halus masih bisa Clara dengar cukup jelas karena posisi telinganya berada di depan wajah Noah.
Clara masih berada dalam rangkulan Noah. Ia belum beranjak dan lebih dulu menoleh ke arah jam dinding. Di sana masih menunjukkan pukul enam kurang seperempat.
"Apa aku harus kesal dengan kejadian semalam?" batin Clara.
Clara ingin bersikap biasa saja, tapi rasa melayang yang sempat dirasa lalu seolah diempaskan begitu cepat, membuat hatinya merasa sakit. Clara merasa Noah tidak tertarik dengan tubuhnya.
Perlahan, Clara membalikkan badan miring menghadap ke arah Noah. Wajah keduanya begitu dekat hanya beberapa senti saja. Udara yang keluar dari hidung Noah, bahkan bisa Clara rasakan dengan jelas.
Sambil membelai pipi Noah, Clara membatin. "Jangan membuatku berharap. Aku bahkan memilih kau membenciku dari pada harus dekat seperti ini."
Untuk apa dekat jika kenyataannya hanya pelampiasan saja. Apa yang ada di dalam otak Clara, selalu memikirkan hal tersebut.
Meski kecewa, Clara tidak bisa jika tidak merasa terpesona jika memandang wajah Noah. Clara mengangkat wajah, lalu memberi kecupan di kening Noah.
"Morning!" sapaan itu terdengar usai kecupan berhenti.
Clara yang kaget, berdehem lalu bergeser. "Kau sudah bangun?"
Noah hanya berdengung sambil meregangkan kedua tangannya. Setelah itu berbalik menatap Clara yang masih ikut berbaring.
"Terimakasih ciuman paginya," kata Noah.
Clara jadi salah tingkah sendiri. Clara pikir Noah tidak merasakan kecupan singkat itu. Dan mengenai belaian, apakah Noah juga merasakannya?
Clara membuang muka sambil gigit bibir. Baru merasa kecewa dengan kejadian semalam, pagi harinya Noah judah berhasil membuat Clara luluh lagi.
"Aku harus bangun," kata Clara dengan cepat. Noah yang hendak menggapai tangan Clara bahkan sudah tidak tercapai.
Clara berjalan begitu cepat menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Sementara di atas ranjang, Noah juga ikut bangun. Noah duduk bersilang kaki sambil meregangkan otot-otot badan.
Clara berdiri di depan cermin wastafel. Ia sudah membasuh wajah dan kini sedang memandangi dirinya sendiri dari pantulan cermin.
"Aku harus marah atau apa?" tanya Clara pada dirinya sendiri. "Mengenai hal semalam, harusnya aku senang karena milikku masih utuh. Tapi … kenapa hatiku merasa aneh? Aku ingin lebih."
Ya Tuhan! Aku harus bagaimana?
Clara sekali lagi membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu, Clara keluar meninggalkan kamar mandi setelah mengelap wajahnya lebih dulu.
Sampai di luar, Noah tidak ada. Pria itu menghilang entah kemana. Clara tidak mau terlalu peduli. Yang saat ini Clara lakukan adalah menyiapkan berbagai keperluan Noah. Setelah itu, Clara bersiap-siap untuk pergi ke butik.
__ADS_1
"Tuan mau saya buatkan minum?" tawar Mela yang sedang memasak di dapur.
Noah saat ini sedang duduk di ruang makan sambil mengetuk-ngetukkan jari di atas meja bergantian.
"Ambilkan aku air hangat saja," sahut Noah.
Mela mencuci tangan lebih dulu karena kotor terkena tanah dari akar sayuran. Setelah mengelap sampai kering, kemudian Mela menuang segelas air hangat dan membawanya ke hadapan Noah.
"Ini, Tuan." kata Mela.
Noah langsung menerima air tersebut dan meneguknya hingga habis. Setelah itu Noah beranjak meninggalkan ruang makan.
Saat akan menaiki tangga, Noah melihat Clara di ujung tangga lantai dua. Dia sudah tampil sangat elegan dan cantik seperti biasanya. Clara berhenti di sana, dan Noah yang naik dengan langkah cepat.
"Kau mau kemana?" tanya Noah sesampainya di hadapan Clara.
"Ke butik ibu," jawab Clara. "Hari ini aku bekerja di sana."
Jawaban itu membuat Noah merasa lega. Namun, melihat Clara yang acuh, Noah juga akan melakukan hal yang sama.
"Apa bajuku sudah siap?" tanya Noah.
"Sudah," jawab Clara.
"Bagaimana dengan kancing kemejaku?"
Astaga! Dihadapanku pria matang, tapi kenapa ribut soal kancing baju?
Clara ingin menggeram sambil mengeraskan rahang, tapi sebisa mungkin Clara tahan sembari mengembuskan napas perlahan.
"Sudah kubuka semua. Kau tinggal memakainya," jelas Clara. "Aku berangkat dulu. Ibu sudah menungguku."
Noah sudah tidak bisa lagi mencegah. Clara lewat begitu saja dan terus berlari kecil menuruni tangga.
"Huh! Harusnya aku bersikap biasa kan?" celoteh Clara. " … Tapi aku tidak bisa. Aku masih jengkel padanya."
Noah masuk ke dalam kamar. Benar saja, pakaiannya sudah tersedia di atas ranjang. Noah dengan rasa malas melenggak ke dalam kamar mandi.
"Apa dia sedang marah?" gumam Noah. "Kenapa?"
Apakah setiap pria memang ditakdirkan tidak peka terhadap wanita? Betapa bodohnya Noah sampai tidak tahu kenapa pagi ini wajah Clara muram terlihat mendung.
Semalam luar biasa, tapi mendadak senyap tak menyisakan hal istimewa.
__ADS_1
"Pagi, Sayang," sambut Lily saat Clara sudah datang.
Lily tersenyum dan menyambut sapaan ibu mertuanya dengan mencium punggung telapak tangannya.
Ketika melihat wajah Clara cemberut, Lily bertanya, "Kenapa cemberut begitu?"
Lily bertanya sambil merangkul pundak Clara dan mengajak ke ruang tengah. Mereka duduk di sofa dengan satu meja persegi panjang di tengahnya. Di dalam sini ada satu karyawan yang sedang menata beberapa model jas pria.
"Kau ke luar dulu," perintah Lily pada karyawan tersebut.
Karyawan itu mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Lily kembali terfokus pada Clara lagi.
"Ada apa? Apa Noah menyakitimu?" tanya Lily.
Clara menggeleng. "Aku tidak tahu."
Lily mengerutkan kening. "Kok tidak tahu?"
Clara bingung cara menjelaskannya. Ia sendiri tidak tahu kenapa rasanya tidak nyaman seperti ini.
"Bu," panggil Clara pelan.
"Ya, Sayang."
"Apa Noah nantinya akan mencintaiku?" tanya Clara.
Clara tidak pernah bercerita mengenai isi hatinya pada siapapun. Selama ini tidak ada tempat untuk Clara memcurahkan isi hatinya. Ibu, beliau hanya akan mendengarkan celotehan dari Chloe saja. Ayah, beliau lebih sering sibuk dengan pekerjaannya.
"Memang kau tidak merasa kalau Noah sudah mencintaimu?" Lily balik bertanya.
Clara menggeleng lesu. "Dia pasti masih mengharapkan Chloe."
Lily menghela napas. "Percayalah, Chloe sudah tidak lagi ada di hati Noah."
Clara masih memasang lesu. Apa yang selama ini Clara rasakan, membuktikan kalau Noah masih jauh untuk bisa ia gapai. Rasa ragu selaly muncul dalam diri Noah, dan Chloe tidak tahu itu.
"Kau hanya cukup selalu ada untuk Noah. Ibu yakin dia akan luluh. Hanya denganmu Noah bisa terlihat dewasa dan tahu aturan."
Clara ingin percaya dengan apa yang ibu mertuanya katakan. Namun, apa Clara bisa terus bertahan meski perasaannya terus diabaikan
***
__ADS_1