
Noah menolak saat Jack mengajaknya duduk. Noah tetap berdiri meski Jack sendiri sudah duduk. Tidak peduli ini sopan atau tidak, Noah tetap enggan untuk duduk di samping Jack.
"Ada apa? Sepertinya gawat, sampai kau tidak mau duduk?" tanya Jack.
Sejujurnya Jack sudah merasa aneh saat Noah datang. Dan Jack perpikir ini pasti ada hubungannya dengan Clara yang tidak datang hari ini.
"Aku minta kau tidak usah mendekati Clara lagi," kata Noah.
Benar saja, hal ini pasti menyangkut tentang Clara. Dengan santai dan tidak mau serius, Jack tersenyum. Ia berdiri sambil menelusukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Clara bekerja di sini, tanpa mendekatipun kita akan saling bertemu dan bersapa," ujar Jack enteng. "Dan lagi, aku dan Clara teman lama. Tidak jadi masalah kan?"
Noah sedang menahan rasa kesal melihat tingkah laku Jack yang seolah sedang memancing dirinya.
"Aku minta kau pecat Clara sekarang juga, dan jangan pernah kau temui dia lagi," tegas Noah.
"Tenanglah, Noah." Jack maju kemudian menepuk pundak Noah. Noah segera menyingkir.
"Apa kau sedang cemburu padaku?" Jack melenggak ke arah jendela kaca yang terbuka. Jack bersandar di sana menatap Noah.
"Untuk apa aku cemburu!" sahut Noah.
"Aku tahu, kau tidak mungkin cemburu. Kan kan hanya mencintai Chloe."
"Kau!" Noah melotot dan mengacungkan jari telunjuk. Ingin berkata, tapi mulutnya terasa terkunci.
"Benarkan?" Jack berkata lagi. "Kupikir Clara hanya pelampiasan untukmu."
"Apa maksudmu!" hardik Noah.
Jack menyeringai seperti sedang mengejek. Jack lantas berdiri tegak kemudian melenggak, kembalu duduk di sofa dengan kaki menyilang.
"Semua orang juga sudah tahu tentang bagaimana pernikahanmu, Noah. Harusnya kau tidak usah melarang-larang Clara sementara kau sendiri tidak suka dengan Clara kan?"
"Jangan sok tahu kau!" salak Noah. "Tentang perasaanku, kau tidak perlu tahu. Dari dulu memang kau selalu ingin mendapatkan apa yang kumau. Tapi tidak dengan Clara!" Noah mengancungkan jari mengingatkan. "Jangan berani kau mendekatinya."
"Hei!" Jack menurunkan kakinya hingga hentakkannya terdengar jelas. "Aku lebih mengenal Clara di banding dirimu. Kau tidak boleh egois. Cih! Kau hanya memanfaatkan Clara karena kau pikir Clara adalah Chloe kan?"
Noah terdiam. Noah sama sekali tidak pernah terpikirkan akan hal tersebut. Saat bertama kali bertemu dengan Clara, bahkan Noah sudah bisa membedakan mana Clara dan Chloe. Sungguh bagi Noah mereka sangatlah berbeda.
"Kenapa diam?" Jack terus memancing. "Benar begitu kan? Kau bahkan membiarkannya bekerja."
"Aku tidak perlu menjelaskan bagaimana aku terhadap Clara. Tapi yang perlu kuperjelas, Clara adalah istriku. Kau tidak ada hak mendekatinya terkecuali kau mau disebut pria perusak hubungan orang. Camkan itu!"
__ADS_1
Noah bebalik badan usai memberi peringatan tegas. Noah melangkahkan kaki begitu cepat. Sementara di dalam ruangan, Jack terdengar menggeram begitu keras. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri hingga tampilannya berantakan.
"Aku masih saja kalah bersaing dengan Noah!" seru Jack. "Dan kenapa kali ini menyangkut hati? ****!"
"Aku akan buktikan kalau kau hanya mempermainkan Clara saja," kata Jack kemudian.
Jack menjatuhkan diri di atas sofa sambil membuang napas.
Noah kini sudah kembali ke kantornya. Ia masih memasang wajah kesal. Sapaan para karyawan bahkan tidak Noah hiraukan.
"Ada apa?" tanya Megan yang ternyata sudah menyusul Noah.
Megan juga penasaran ada apa dengan raut wajah Noah yang terlihat sangar.
"Tidak ada," jawab Noah acuh.
Megan berdecak lalu meraih kursi untuk ia duduki. "Memang kau bisa menyembunyikan apa dariku?"
Noah hanya menghela napas dan menangkup wajahnya di atas meja. "Aku baru saja dari kantor Jack," kata Noah tanpa mendongak.
"Serius?" Megan yang terkejut bergeser lebih maju hingga menempel pada bibir meja. "Untuk apa kau ke sana?"
"Aku tidak suka dia mendekati Clara," kata Noah.
"Jelas sekali. Kau tahu bagaimana aku dan dia kan?"
Megan mengangguk. "Ngomong-ngomong apa kau sudah tahu kalau mereka memang teman baik?"
"Tentu saja. Itu sebabnya aku bisa yakin kalau Jack memang berniat mendekati Clara."
"Bukankah kau tidak mencintai Clara? Untuk apa kau khawatir?"
Noah membisu. Noah sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Rasa nyaman dengan cara Clara perhatian pada Noah, membuat Noah merasa ingin terus berada di dekatnya.
"Kau tidak berpikir kalau Clara ada Chloe kan?" tanya Megan lagi.
"Apa maksudmu?" Noah menatap tajam.
"Aku hanya mengira kau masih menunggu Chloe kembali. Dan perasaanmu pada Clara saat ini hanya sekedar kau mengira Clara sebagai Chloe."
"Sembarangan!" sembur Noah. "Mereka jelas-jelas berbeda. Aku bahkan bisa membedakan sejak pertama bertemu."
"Intinya, apa kau sudah ada rasa untuk Clara?" tanya Megan.
__ADS_1
"Entahlah!" Noah justru berdecak lalu menelungkupkan kepala lagi di antara dua telapak tangannya. "Aku bingung."
Megan yang mulai lelah berbicara, akhirnya bangkit dari kursi. Megan membuang napas lalu keluar meninggalkan Noah tanpa berkata apa-apa lagi.
Noah meraup kasar wajahnya lalu tidak tahan lagi jika tetap duduk di sini. Sekitar pukul tiga sore, Noah memilih pulang saja.
Yang namanya boss memang bebas. Begitulah kira-kira yang dikatakan banyak orang.
Bertepatan dengan Noah yang baru sampai di halamab rumah, sebuah mobil warna mewar turut berhenti. Mobil tersebut hanya berhenti di depan pintu gerbang yang terbuka.
Noah tentu tahu siapa itu. Tidak lama kemudian, Clara turun dari mobil itu. Dia membungkukkan badan lalu melambai pada ibu mertuanya yang masih ada di dalam mobil.
Saat Clara berbalik begitu mobil mertuanya sudah melesat, Clara terkejut melihat Noah sudah ada di rumah.
"Kau sudah pulang?" tanya Clara sambil meraih tas kerja milik Noah.
"Hm." Jawaban singkat yang keluar dari mulut Noah.
Noah berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah meninggalkan Clara.
"Apa dia masih marah?" gumam Clara.
"Cepatlah!" hardik Noab tiba-tiba.
Akhir-akhir ini Noah hampir setiap hari membuat jantung Clara seolah hendak copot. Keterkejutan Clara sudah tidak terhitung lagi jumlahnya karena Noah.
"Kepalaku pening, aku lelah," kata Noah sambil menggrakkan kepala hingga berbunyi 'krek'.
"Mau kupijit?" tawar Clara.
Mereka tidak sadar kalau sudah berjalan beriringan menaiki tangga hingga sampai di lantai atas.
"Ambilkan aku air minum yang hangat," pinta Noah.
"Apa?" Clara ternganga dan bersuara lirih.
"Kau tidak mau?" Mata Noah sudah memicing.
Tidak lagi berkata, Clara berbalik badan kembali turun ke lantai satu. Sampai di bawah, Clara mulai menggerutu tidak jelas.
"Dia memang menjengkelkan! Dia sengaja mengerjaiku kan? Brengsek! Kenapa tidak meminta sebelum aku sampai di atas? Aish!"
Clara terus mengoceh bahkan meski kedua tangannya mulai menuang air panas ke dalam gelas
__ADS_1
***