
Bab 12
Noah sudah turun sambil menjinjing tas kerjanya. Begitu masuk, semua karyawan yang berpapasan segera menunduk sopan dan menyapa.
"Kupikir kau tidak hadir," kata Angela begitu sudah menyusul Noah masuk ke dalam ruangan kerja.
Sebagai sahabat sekaligus sekertaris Noah, Angela bisa dengan leluasa berbicara tanpa rasa sungkan.
"Memang kenapa aku harus tidak hadir?" sungut Noah. "Jangan katakan tentang bulan madu."
Noah terlihat mendengus saat terduduk di kursi kerjanya.
Angela juga ikut duduk. "Sudahlah, berhenti muram begitu. Semua bisa begibi juga karena ulahmu sendiri kan?"
Lagi-lagi Noah merasa disudutkan. Tidak di rumah tidak di kantor, sepertinya selalu disalahkan. Noah yang cukup kesal, menatap Angela dengan tajam.
"Kenapa semua jadi menyalahkanku!"
Angela ternganga diikuti embusam udara yang keluar dari mulut dengan cepat. Dua bola matanya melengos memutar ke arah lain sesaat.
Setelah beberapa detik, Angela kembali memutar pandangan menatan Noah.
"Memang siapa yang harus disalahkan? Clara? Ayah ibumu?" kata Angela sedikit menyalak. "Jangan egois."
Noah pun membuang napas kasar lalu meraup wajahnya. Mengingat kembali yang terjadi dengan Chloe, memang sebuah kesalahan fatal. Jika saja Noah bisa menahan hasratnya, semua ini tidak akan terjadi. Tidak akan ada Jou yang harus dipertanggung jawabkan.
Setelah puas terdiam, Noah berkata. "Aku hanya masih heran dengan ibuku."
Kening Angela berkerut. "Heran kenapa?"
"Aku bahkan sanggup membayar baby sitter untuk menjaga Jou, tapi kenapa ibu memaksaku menikah dengan Clara?"
Angela mendadak ikut merasa heran. Semua hal ini memang sepatutnya dipertanyakan. Mengingat bagaimana kedua orang tua Noah yang tidak menyukai Chloe, harusnya mereka pun membenci Clara. Tentunya dengan alasan karena mereka saudara.
"Aku bahkan masih tidak percaya ibu bisa begitu baik dengan Clara," kata Noah lagi. "Sifat ibuku pada Clara, berbanding terbalik dengan saat bersama Chloe."
Angela coba mencerna kalimat Noah sambil mengusap-usap dagu.
"Kau coba cari tahu jawabannya," kata Angela. "Em … sejujurnya aku juga tidak suka dengan Chloe," imbuh Angela ragu-ragu.
"Kenapa? Apa kau tahu sesuatu?" Noah nampak penasaran.
"Kau jangan marah saat aku mengatakannya."
Kening Noah berkerut. "Kenapa harus marah?"
__ADS_1
"Ya bisa saja kan. Kau sangat mencintai Chloe, aku hanya takut perkataanku salah."
"Katakan saja. Kalaupun aku marah, aku tidak sampai membunuhmu."
"Brengsek!"
Sebuah pulpen di atas meja melayang mengenai kening Noah.
"Cepatlah! Sebentar lagi aku harus meeting, jadi jangan buat aku penasaran hingga tidak fokus nanti," paksa Noah.
Angela mendengkus pasrah lalu berkata dengan cepat. "Aku tidak suka dengan cara dia memperlakukanmu. Dia membuatmu terlihat seperti pelayan untuknya. Ah, satu lagi, kau seperti mesin ATM berjalan untuknya."
Noah mengusap-usap dagu dan tidak langsung merespon kalimat Angela yang cukup panjang. Ia berharap Angela kembali melanjutkan kalimatnya lagi.
"Kau tahu aku menyayangimu kan? Ya meski kau tetap anggap aku sebatas sahabatmu saja, tapi aku tetap peduli. Harusnya kau sadar kalau Chloe hanya memanfaatkanmu saja. Kau malah sempat membenciku karena lebih percaya Chloe."
Ya, Noah sudah menyesali kejadian itu. Karena terlalu cinta, rasa percaya pun semakin berlebih dan lupa ada orang terdekat yang lebih peduli.
"Maaf soal itu," lirih Noah.
"Jangan dibahas lagi," kata Angela. "Aku hanya ingin kay segera melupakan Chloe. Jika ayah ibumu memilih Clara, mungkin dia memang terbaik untukmu. Kau coba terima saja dia."
Noah menghela napas. "Ibuku juga bilang begitu tadi. Tapi …."
"Tapi apa?"
"Kalau begitu, kau cari tahu lah dulu. Kenali Clara dengan baik. Kau mungkin juga bisa bertanya dengan ibumu mengenai Clara."
Noah belum yakin jika harus menerima Clata di dalam hidupnya. Beberapa hari, minggu bahkan bulan, rasa takut akan kecewa masa lalu masih terus terbayang-bayang di kepalanya.
Dan benar saja, selama meeting siang ini Noah nampak banyak melamun. Ia sampai beberapa kali ditegur bawahannya. Alhasil meeting pun dibubarkan tanpa hasil yang pasti.
Menghilangkan rasa suntuk yang ada, Noah memilih makan di restoran dekat dengan kantor yang memiliki fasilitas taman dan kolam di area dalam. Ia makan dengan begitu lahap sambil terus berpikir.
"Jujur saja dia sudah membuatku terpesona, tapi aku tetap tidak yakin," kata Noah setelah keluar dari restoran.
Masih merasa suntuk, Noah berjalan menyusuri trotoar ke arah taman. Di sana ia melihat-lihat beberapa pasangan kekasig yang tengah bercengkerama. Melangkah semakin dekat, pandangan Noah menemukan sosok tak asing. Di sana, di bawah pohon beringin, terlihat ada Clara yang sedang tertawa gembira bersama Jou. Jou yang mulai bisa tertawa begitu suka saat Clara menimang dan mengajak bercanda.
"Sepertinya dia begitu peduli dengan Jou," gumam Noah. "Cih! Ibunya saja tidak peduli, kenapa kau harus peduli?"
Noah masih betah memandangi mereka dari kejauhan. Terlihat jelas Clara tertawa begitu lepas sambil menggoda Jou yang sedang dipanggu baby sitternya.
"Nona," panggil Tere pada Clara.
"Ada apa?" sahut Clara.
__ADS_1
"Itu …" Tere tidak berkata lagi, melainkan mengarahkan pandangan--menuntun mata Clara menuju ke arah di sebelah sana.
"Noah," celetuk Clara lirih. "Sedang apa dia di sini?"
Noah yang kepergok, segera memutar pandangan dan berlalu pergi.
"Kenapa aku mendadak gugup seperti ini?" kata Noah sambil menekan dadanya. "Itu hanya Clara, kenapa aku merasa deg-degan."
"Haish!" Noah menghentak kaki dan mengacak rambut lalu berjalan cepat kembali menuju kantornya.
"Kau dari mana?" tanya Angela saat sedang memeriksa berkas di meja salah satu karyawan di lantai satu. "Aku mencarimu, mau mengajak makan siang."
"Aku sudah makan siang," sahut Noah tanpa menghentikan lakan.
"Kenapa dia? Kenapa terlihat gugup begitu?" gumam Angela.
Angela tidak mau terlalu menggubris, ia kembali fokus pada lembaran berkas yang harus ia selesaikan.
"Sudah mulai sore, kita pulang yuk!" ajak Clara pada Bibi Tere. "Sudah mendung juga."
"Baik, Nona." Tere berdiri lalu menggendong Jou.
"Kita pulang ya, Sayang," kata Clara sambil mencubit pipi gembul milik Jou.
Saat taksi sudah datang, tiba-tiba Clara teringat sesuatu.
"Ada apa, Nona?" tanya Tere.
"Aku kelupaan sesuatu," kata Clara. "Aku lupa membeli pempers dan susu untuk Jou."
"Oh. Itu biar saya saja Nona. Nanti saya pergi ke mini market."
"Tidak usah. Sepertinya Jou sudah ngantuk karena siang tidak tidur. Sebaiknya Bibi Tere pulang dulu, nanti aku menyusul."
"Tapi, Nona …"
"Tidak apa-apa. Kasihan Jou."
Tere pun menuruti perkataan Clara dan pulang lebih dulu dengan mengendarai taksi. Clara harus berbelanja hal-hal lain juga, jadi kalau bersama Jou pasti akan kelamaan.
Sampai di rumah lebih dulu, ternyata Noah sudah ada di rumah. Dia langsung keluar dari kantor sekitar pukul dua siang setelah sempat berbicara dengan Angela tadi.
"Di mana Clara?" tanya Noah.
"Itu Tuan, Nona Clara sedang mampir ke mini market membeli keperluan Jou."
__ADS_1
Noah tidak bertanya lagi melainkan langsung melengos.
***