
Saat perjalanan pulang ke rumah, wajah Clara nampak begitu bahagia. Bukan hanya bahagia karena bertemu dengan kawan lama, tapi juga karena berhasil mendapatkan pekerjaan.
Clara tidak menyangka kalau akan mendapat pekerjaan yang tidak jauh berbeda dari bidangnya. Meskipun nanti hanya bertugas mengatur kostum, tapi ini pasti sangatlah menyenangkan.
Sepanjang perjalanan, bibir Clara terus menyungging senyum.
Ketika di tengah perjalanan, Clara tidak sengaja melihat ibunya lagi. Ia sedang berdiri di depan sebuah salon sendirian. Pada umumnya, seorang anak pasti akan menghampiri ibunya. Namun, Clara begitu enggan untuk ke sana. Setelah mendengar percakapan ibunya bersama kawan-kaman kemarin, Clara masih belum mau bertemu sang ibu.
"Ibu harusnya tahu, sebagai seorang anak pastilah aku sangat merindukan ibu. Aku juga merindukan ayah. Tapi sepertinya kalian tidak merindukanku. Menelpon saja tidak pernah."
Mobil Clara yang sempat menepi, kini melaju kembali. Ketika hampir sampai di area perumahan, Clara menepi lagi di sebuah mini market. Stok pembalut yang ada di rumah sudah habis, sementara perkiraan datang bulan selesai sekitar dua hari lagi.
Clara turun sambil mencangklong tasnya. Sebelum masuk, ia sempat menyapu pandangan ke area tersebut.
"Clara?" celetuk seseorang saat Clara baru saja masuk.
"Mia?" balas Clara dengan wajah terkejut.
"Apa kabar?" tanya Mia.
Clara tersenyum tipis. "Baik, kau sendiri bagaimana?"
"Aku baik."
Percakapan ini tidak jauh berbeda dengan saat Clara bertemu Jack secara tidak sengaja. Bedanya, bertemu Jack ada rasa bahagia, tapi lain dengan Mia. Clara merasa ada yang aneh di dalam hatinya saat bertemu Mia.
"Kapan kau balik?" tanya Clara.
"Kemarin," ujar Mia.
Clara tahu Mia hanya mencoba untuk ramah. Dari cara Mia memandang, Clara seolah merasa sedang diintimidasi.
"Bukankah kau harusnya bersama Chloe?" tanya Clara lagi.
Ya, Mia adalah teman dekat Chloe yang memiliki impian yang sama. Mereka berdua pergi Amerika untuk ikut audisi medeling bersama.
"Sepertinya aku tidak seberuntung Chloe," ujar Mia sambil tersenyum dengan mulut terbuka. "Kembaranmu akan kembali setelah berhasil."
Haruskah kembali? Mendengar kata itu, Clara berharap Chloetidak akan kembali. Apa itu jahat? Mungkin tidak. Sudah cukup Clara merasa Chloe merusak apa yang ada dalam hidupnya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Lain kali pasti bertemu." kata Mia.
__ADS_1
Saat Mia melenggak pergi, Clara sempat memandangi langkahnya. Clara jadi terbayang-bayang bagaimana jika tiba-tiba Chloe juga pulang.
"Haruskah aku berpisah?" gumam Clara.
Karena terlalu tidak fokus, Clara malah berjalan meninggalkan mini market. Ia berjalan lunglai masuk ke dalam mobil dan melajukannya kembali.
"Aku baru saja bertemu dengan kembaranmu?" kata Mia pada seseorang di balik ponsel.
"Benarkah?" Chloe nampak terkejut. Ia yang sedang duduk santai sambil menikmati wine, sontak berdiri. "Bagaimana rupa dia saat ini?" tanya Chloe penasaran.
Mobil terus melaju dan Mia masih berbicara dengan Chloe.
"Tidak ada yang berubah, selain dia tambah cantik."
"Apa!"
Suara Chloe menggelegar membuat Mia spontan menjauhkan ponsel dari telinga.
"****! Kenapa kau berteriak!" hardik Mia sambil menggosok-gosok telinganya lalu menempelkan kembali ponselnya di sana.
"Maaf, maaf, aku hanya kaget," ujar Chloe sambil meringis datar.
"Tentu saja. Mataku kan masih waras," sahut Mia jengkel. "Kurasa dia hidup bahagi dengab kekasihmu."
"Brengsek kau!" sembur Chloe. "Segera cari tahu tentang mereka!"
"Hey! Aku pulang ke sini untuk menenangkan pikiran sejenak. Jangan memburuku seperti itu."
Chloe berdecak kesal di sana. Ia meneguk winenya sampai habis. "Aku hanya ragu hidup dia bahagia. Noah tidak mungkin baik badanya. Dia sendiri yang bilang padaku dulu."
"Ya, ya, itu kan dulu, semua bisa berubah."
"Kenapa kau malah jadi memanasiku!" hardik Chloe lagi. "Harusnya kau mendukungku!"
Mia tertawa lepas. "Iya, Sorry. Aku hanya sedang menggodamu. Dan lagi, menurutku sebaiknya kau coba hubungi Noah saja. Kau terlalu lama menunggu."
"Aku ingin, tapi aku masih yakin Noah sendiri yang nantinya akan menghubungiku lebih dulu."
"Terserah kau saja, aku hanya kasih saran."
Tidak lama setelah itu, panggilan pun terputus. Duduk kembali di kursinya, Chloe jadi terpikirkan apa yang Mia katakan.
__ADS_1
"Tidak mungkin kalau Noah sampai jatuh hati pada Clara," kata Chloe. "Dia mungkin bersikap baik pada Clara karena dia pikir Clara adalah aku."
Chloe kembali berdiri. Ia kini beralih memikirkan usul dari Mia. Selama ini, beberapa kali Chloe mengirim email untuk Noah tidak pernah mendapat jawaban. Chloe berpikir mungkin Noah belum sempat membukanya karena terlalu sibuk.
"Noah begitu keras. Dia sendiri yang pernah bilang padaku akan membuat Clara menderita sebagai balasan karena aku pergi."
Chloe terus saja mengoceh mencari kebenaran kalau Noah tidak mungkin sampai jatuh hati pada Clara.
Noah memang pernah berkata begitu pada Chloe, dulu saat Chloe hendak berangkat pergi. Noah berpikir jika Clara sakit, Chloe juga akan merasa sakit. Namun, tebakan Noah salah. Sekalipun Clara mati, sepertinya Chloe tidak peduli.
Beralih pada Clara, kini dia sudah sampai di rumah sekitar pukul dua siang. Begitu masuk, wajah Clara masih terlihat datar. Saat di ruang tengah berpapasan dengan Bibi Tere yang sedang menggendong Jou, Clara terus saja berjalan tanpa menyapa mereka.
Bibi Tere yang melihat hal itu sampai berkerut dahi. Ketika ingin bertanya, tiba-tiba Jou merengek. Bibi Tere pun urung bertanya dan bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan susu.
"Semoga saja Nona baik-baik saja," gumam Bibi Tere.
Sampai di dalam kamarnya, Clara melempar tas ke atas sofa. Raganya yang sudah lunglai, ia jatuhkan di atas ranjang dengan posisi telentang dan kedua kaki menggantung di bibir ranjang.
Clara memejamkan kedua mata lalu membayangkan apa saja yang akhir-akhir ini sudah dilaluinya.
"Dulu, aku ingin Chloe segera kembali supaya aku terlepas dari Noah. Tapi … kenapa aku sekarang merasa takut jika suatu saat Chloe kembali?"
Pikiran Clara berkeliaran ke mana-mana.
Membuka matanya kembali, Clara merubah posisi berbaringnya menjadi miring dan meringkuk.
"Aku merasa nyaman saat berada di dekat Noah. Harusnya aku sadar, perubahan Noah mungkin karena sesuatu. Aku ingat betul saat dia menuliskan beberapa kata dalam lembaran kertas. Dia bahkan melarangku menyentuh apapun miliknya termasuk dilarang tidur di ranjang ini."
Clara terus saja mengoceh ngalor-ngidul tidak jelas. Mulanya Clara sudah berpikir positif, tapi kepala ini mendadak kacah tidak karuan.
"Apa dia baik padaku karena mengira aku Chloe?"
Pikiran jauh yang tak pernah terpikirkan pun kini muncul.
"Ya, apakah begitu? Jelas saja aku dan Chloe memiliki wajah yang sama. Apa karena itu dia sekarang lebih baik padaku?"
Tidak kerasa, air mata mulai menitik. Bukan hanya menitik, tapi terus mengalir hingga membasahai seprei.
"Harusnya aku tidak berharap."
***
__ADS_1