
Butik tutup sekitar pukul delapan malam, tapi Clara sudah pamit sejak pukul empat sore. Clara meminta ijin pada ibu mertuanya untuk pergi menemui Jack. Clara tidak enak hati jika mendadak berhenti kerja tanpa berpamitan lebih dulu. Selain karena teman lama, Jack orang sudah dengan senang hati memberinya pekerjaan.
Sekitar pukul empat lebih sepuluh menit, Clara sampai di gedung perusahaan Jack. Clara datang dengan mengendarai taksi online.
Setelah mendapat ijin dari resepsionis, Clara segera menuju ruangan kerja Jack. Saat Clara mengetuk pintu, terlihat di dalam Jack tengah berbenah merapikan mejanya sebelum pergi pulang.
"Ya, masuk!" sahut Jack dari dalam.
Perlahan pintu terbuka, Clara menarik napaspanjang lalu berjalan masuk bersamaan dengan embusan napas.
"Hai, Jack," sapa Clara dengab senyum tipis.
"Clara?" pekik Jack yang tidak menyangka kalau itu adalah Clara. "Kau ke sini? Ayo duduk!"
Jack nampak antusias dan menyambut kedatangan Clara. Dari sikap Jack yang ramah, tentunya membuat Clara jadi merasa tidak enak hati.
Clara duduk di sofa yang Jack persilahkan. Jack juga duduk di sofa yang sama tentunya dengan jarak sekitar lima puluh senti.
"Apa aku mengganggu?" tanya Clara.
"Tidak. Tentu saja tidak," jawab Jack. "Aku malah senang kau datang."
__ADS_1
Clara tersenyum kaku. Rasa tidak enak kian bertambah karena tak sedikitpun Jack menunjukkan amarah karena dua hari ini Clara tidak datang bekerja.
Ah! Andai saja Noah seperti ini.
Ush! Kenapa juga aku harus memikirkan Noah.
Tiba-tiba Clara bergidik dengan cepat dan berdecak kecil.
"Clara, kau baik-baik saja?" tanya Jack.
Merasa kepergok betingkah aneh, Clara buru-buru berdehem dan tersigap. "Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang sedikit flu."
Hanya jabawan ngawur yang bisa Clara lontarkan. Untung saja Jack percaya.
Jack terlihat santai dan sedikit menunjukkan senyum tipisnya.
"Maaf karena dua hari ini aku tidak datang. Aku ingin menemuimu sejak kemarin, tapi aku belum bisa."
Mendengar penjelasan dari Clara, Jack yakin ini ada hubungannya dengan Noah. Hari yang lalu Noah datang dan meminta untuk menjauhi Clara. Pasti saat ini Clara sedang ketakutan karena bisa saja sudah diancam oleh Noah.
Tebakan Jack mungkin bisa dikatakan benar, tapi bukan hanya itu alasan Clara harus berhenti.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jack seolah tidak tahu. "Kupikir kau menyukai pekerjaanmu. Em, atau kau tidak nyaman di sini?"
"Tidak, tidak!" Dengan cepat Clara mengibaskan kedua tangan berlawanan di depan dada. "Tentu saja aku sangat nyaman di sini. Aku hanya harus berhenti."
"Apa karena suamimu?" celetuk Jack.
Clara terlihat terkejut, tapi sebisa mungkin bersikap biasa saja. Mungkin Jack juga termasuk orang yang tahu perkara pernikahan Clara dan Noah. Ya, pikir Clara begitu.
"Bukan," jawab Clara.
Clara diam sejenak, menarik napas sebelum mulai kembali bicara.
"Sudah dua hari ini aku membantu ibu mertuaku di butik. Kau tahu impianku kan? Di sana aku bisa mengapresiasikan beberapa design gaunku." Clara berbicara sambil memamerkan wajah sumringah seolah begitu bahagia.
Sejujurnya Clara memang bahagia, hanya saja saat ini tengah jengkel dengan Noah. Jadi reaksi apapun masih terselip wajah kusut di wajahnya, dan hal itu membuat Jack berpikir kalau Clara sedang mengelak.
"Kalau itu pilihanmu, aku tidak bisa melarang. Kapanpun kau mau, kau bisa kembali bekerja di sini," kata Jack.
"Terimakasih," kata Clara. "Sekali lagi aku minta maaf."
Jack mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
***